Hagia Sophia

10 April 2026

Akibat Perang AS-Iran, Kondisi Mental Donald Trump Jadi Sorotan

Foto: Alex Brandon/Pool/AP

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis berbagai kritik yang berkaitan dengan kondisi kesehatan mental dan kebugarannya. Sorotan ini mencuat setelah unggahan kontroversialnya soal Iran yang memicu perhatian baru dari kritikus hingga kalangan medis.

Dalam konferensi pers pasca-Paskah, Trump secara langsung membantah kekhawatiran tersebut, meski perdebatan soal perilaku dan pengambilan keputusannya kian memanas.

Unggahan Paskah Picu Sorotan

Kontroversi bermula dari unggahan Trump pada Minggu Paskah yang berisi peringatan kepada Iran terkait Selat Hormuz.

"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan... Buka Selat sialan itu, dasar bajingan gila, atau kau akan tinggal di Neraka - LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah," tulisnya.

Melihat unggahan tersebut, banyak kritik yang mengatakan bahwa kesehatan mental Trump mungkin perlu diperiksa. Tetapi, ia menunjukkan sikap tak ambil pusing.

"Saya tidak peduli dengan para kritikus," jawabnya yang dikutip dari Wonderwell.

Pakar Medis Ikut Bersuara

Sejumlah profesional medis turut menyuarakan kekhawatiran. Dokter kesehatan masyarakat di Amerika, Dr Vin Gupta menilai ada tanda-tanda yang patut diwaspadai.

"Tidak menentu. Tidak dapat menyelesaikan kalimat, sering bingung, alur pikir yang tidak logis, hingga kesulitan menemukan kata-kata. Presiden menunjukkan semua tanda-tanda demensia," jelas Dr Gupta.

Psikolog John Gartner juga menyoroti tes kognitif yang disebut berulang dilakukan Trump.

"Jika Anda memberikannya tiga kali, itu berarti Anda sedang memantau demensia," ucapnya.

Dikutip dari Mayo Clinic, demensia menggambarkan sekelompok gejala yang mempengaruhi ingatan, pemikiran, dan kemampuan sosial. Salah satu gejala awalnya adalah kehilangan ingatan.

Selain itu, gejala lain dari demensia bervariasi tergantung pada penyebabnya. Gejala umumnya meliputi:
  • Perubahan kognitif.
  • Kehilangan ingatan, yang biasanya diperhatikan oleh orang lain.
  • Masalah dalam berkomunikasi atau menemukan kata-kata.
  • Kesulitan dengan kemampuan visual dan spasial, seperti tersesat saat mengemudi.
  • Masalah dengan penalaran atau pemecahan masalah.
  • Kesulitan melakukan tugas-tugas kompleks.
  • Kesulitan dalam perencanaan dan pengorganisasian.
  • Koordinasi dan kontrol gerakan yang buruk.
  • Kebingungan dan disorientasi.
Selain itu, ada juga gejala yang menyebabkan perubahan psikologis, seperti:
  • Perubahan kepribadian.
  • Depresi.
  • Kecemasan.
  • Kegelisahan.
  • Perilaku yang tidak sesuai dengan situasi.
  • Kecurigaan, yang dikenal sebagai paranoia.
  • Melihat hal-hal yang tidak ada, yang dikenal sebagai halusinasi.
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan oleh keponakan Trump, Mary Trump. Ia melihat ekspresi kebingungan yang sama.

"Saya melihat bahwa ia tampaknya tidak selalu berorientasi pada waktu dan tempat. Ingatan jangka pendeknya tampaknya memburuk," beber Mary.

Bantahan dari Pihak Gedung Putih

Namun, di sisi lain pihak Gedung Putih membantah keras berbagai klaim tersebut. Mereka mengatakan bahwa banyak orang yang mengarang teori konspirasi yang tidak masuk akal.

"Kaum liberal yang gila mengarang teori konspirasi yang tidak masuk akal ketika Presiden Trump tidak berbicara kepada pers selama 12 jam. Jangan takut! Presiden Trump benar-benar tidak pernah berhenti bekerja," tegasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kondisi Mental Donald Trump Jadi Sorotan Imbas Perang AS-Iran"