![]() |
| Foto: Rifkianto Nugroho/detikFoto |
Proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur menyisakan cerita tentang perjuangan medis yang dilakukan di tengah himpitan material baja. Salah satu tindakan yang menjadi sorotan adalah keputusan tim medis memberikan cairan infus dan pembiusan (sedasi) kepada korban sebelum mereka berhasil dikeluarkan dari puing-puing kereta.
Ketua Umum LKTB IDI sekaligus Incident Commander Kemenkes, dr. Muhammad Iqbal El Mubarak, SpB, yang terjun langsung menangani korban menjelaskan bahwa tindakan tersebut bukan tanpa alasan. Pemberian infus dilakukan karena tim medis sudah memprediksi proses evakuasi akan memakan waktu lama, sementara kondisi korban mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan.
"Tujuannya adalah menstabilkan tanda-tanda vital. Ada beberapa (korban) yang nadinya kencang sekali, menunjukkan potensi perburukan kondisi tubuh," ujar dr. Iqbal. Pemberian cairan ini penting untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kesadaran korban di tengah suhu dan situasi yang mencekam.
Lebih lanjut, dr. Iqbal mengambil langkah berisiko namun krusial berupa pembiusan di lokasi. Ia menggunakan kombinasi obat fentanyl dan midazolam untuk memberikan efek relaksasi total pada otot-otot korban.
"Bius ini bertujuan untuk meminimalisir rasa nyeri yang sangat kuat dan membuat otot lebih rileks. Dengan begitu, tim rescue lebih mudah menarik korban keluar tanpa adanya hambatan gerakan dari korban yang kesakitan," jelasnya.
Langkah ini diambil setelah proses evakuasi manual melalui pemotongan baja tidak menunjukkan progres selama berjam-jam, sementara golden time medis (6 jam) mulai terlewati.
Setelah perjuangan melelahkan selama sembilan jam, kelima korban yang terjepit akhirnya berhasil dievakuasi sekitar pukul 7 pagi. Tim medis memastikan kondisi mereka tetap stabil hingga saat-saat terakhir di lokasi kejadian melalui pemantauan ketat sebelum mendapat penanganan medis di rumah sakit.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kenapa Korban Kereta Bekasi Diinfus sebelum Dievakuasi? Ini Kata Dokter Emergensi"
