Hagia Sophia

06 May 2026

Wanita Berhenti Konsumsi Gula 30 Hari, Ini yang Terjadi pada Tubuhnya

Foto ilustrasi: Getty Images/Motortion

Gula hampir selalu hadir dalam berbagai momen bahagia. Tak heran, bahan ini juga tersembunyi di banyak makanan sehari-hari, dari roti, yogurt, hingga saus.

Penelitian dari University of California San Francisco menemukan produsen menambahkan gula ke sekitar 74 persen makanan olahan. Fakta ini yang akhirnya mendorong seorang wanita yang berprofesi sebagai kreator konten makanan digital mencoba tantangan berhenti mengonsumsi gula selama 30 hari.

Wanita bernama Kimberly Holland mengaku awalnya ragu karena sangat menyukai makanan manis. Tetapi, setelah menyadari frekuensi membeli camilan manis yang cukup sering, ia memutuskan 'istirahat' dari gula.

Selama menjalani tantangan tersebut, Kimberly menerapkan aturan ketat, seperti tidak mengonsumsi gula tambahan, tidak menggunakan pemanis buatan, dan masih memperbolehkan gula alami dari buah serta susu.

Menurut American Heart Association, konsumsi gula tambahan sebaiknya dibatasi maksimal 9 sendok teh per hari untuk pria dan 6 sendok teh untuk wanita. Tetapi, rata-rata konsumsi bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat.

Lantas, apa yang terjadi setelah 30 hari?

1. Berat Badan Tidak Naik
Kimberly mengaku tidak mengalami penurunan berat badan. Tetapi, berat badannya juga tidak bertambah.

"Saya mungkin tidak mengurangi karbohidrat, tetapi saya juga tidak menambah berat badan. Dan itu adalah tujuan saya," katanya, dikutip dari Eating Well.

Tanpa camilan manis harian, ia menyadari kebiasaan konsumsi gula yang diterapkannya selama ini cenderung berlebihan. Ia baru menyadari banyak makanan seperti sup, saus, hingga makanan siap saji mengandung gula tersembunyi.

"Saya segera menyadari banyak saya mengonsumsi gula secara sembarangan," tambahnya.

2. Energi Terasa Lebih Stabil
Setelah melewati masa adaptasi, Kimberly merasakan energi lebih stabil sepanjang hari. Ia tidak lagi membutuhkan minuman manis atau soda di sore hari untuk mendongkrak energi.

Kondisi ini diduga terjadi karena tubuh tidak lagi mengalami lonjakan gula darah yang drastis.

3. Lebih Sensitif Terhadap Rasa Manis
Setelah 30 hari, lidahnya menjadi lebih sensitif terhadap rasa manis. Bahkan, segelas anggur merah yang ia minum di hari ke-25 terasa lebih seperti permen kapas.

"Kue cokelat chip terasa terlalu manis, saya bahkan tidak bisa menghabiskan bagian saya," tuturnya.

Meski begitu, Kimberly tentunya mengalami banyak tantangan saat tidak mengonsumsi gula selama 30 hari. Di fase awal, ia merasa mudah marah (cranky), terasa tak ada energi, hingga sulit fokus.

"Saya juga mudah marah, yang membuat pekerjaan menjadi sulit. Fase ini berlangsung sekitar 24 jam sebelum akhirnya membaik," beber Kimberly.

Menurut Kimberly, menghindari gula sangat sulit. Banyak produk mengandung gula dengan nama berbeda, seperti sirup atau sari tebu yang diuapkan.

Ketika menerapkan gaya hidup ini, Kimberly juga sulit untuk makan di luar, seperti di restoran. Ia harus ekstra hati-hati dalam memilih makanan.

Menu yang menurutnya paling aman adalah salad, karena ia masih bisa mengontrol bahan dan sausnya. Bahkan, Kimberly terpaksa harus menolak makanan manis di acara yang dihadirinya.

Solusinya, ia memilih jujur kepada teman-temannya soal tantangan yang sedang dijalani.

Meski Kimberly tidak berniat berhenti total selamanya, pengalaman ini membuatnya lebih bijak dalam mengonsumsi gula. Kini, ia mencoba membatasi gula tambahan, lebih memilih sumber gula alami, hingga mengatur konsumsi gula hanya di waktu tertentu.

Ia juga menilai tantangan ini membuka mata tentang kebiasaan makan sehari-hari.

"Ini adalah cara yang membuka mata untuk memahami seberapa banyak gula yang sebenarnya Anda konsumsi," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Wanita Ini Eksperimen Stop Makan Gula 30 Hari, Begini yang Terjadi pada Tubuhnya"