Hagia Sophia

08 May 2023

Tingkat Kesuburan Warga India Turun di Saat Negaranya Miliki Populasi Terbanyak Dunia

Ilustrasi ledakan populasi di India. Foto: NurPhoto via Getty Images/NurPhoto

China tak lagi menjadi negara dengan populasi terbesar di dunia, kini posisinya telah digantikan oleh India. Namun begitu, ledakan populasi di India juga menuai kekhawatiran sejumlah. Di antaranya, terkait pendidikan dan kesehatan yang tidak bakal lagi memadai untuk jumlah warga di India.

Beberapa tahun lalu, Perdana Menteri Narendra Modi menyatakan keprihatinan tentang 'ledakan populasi' India. Dalam kesempatan itu, ia memuji keluarga yang dengan hati-hati mempertimbangkan dampak dari lebih banyak bayi, baik pada diri mereka sendiri maupun negara.

"Di India abad ke-21, kemampuan untuk mewujudkan impian dimulai dari seseorang, dimulai dari sebuah keluarga. Jika penduduknya tidak berpendidikan, tidak sehat, maka baik rumah maupun negara tidak bisa bahagia," kata Modi dikutip dari CNN, Minggu (7/5/2023).

Tingkat kesuburan merupakan kunci untuk melihat penurunan atau kenaikan besaran populasi di sebuah negara. Umumnya, tingkat kesuburan di sebuah negara harus mencapai 2,1 (jumlah anak per wanita) agar populasi dapat bertahan, bahkan bertumbuh.

Pada 1960-an, ketika kakek-nenek sekarang memiliki anak, tingkat kesuburan India adalah 6, kira-kira sama dengan beberapa negara Afrika sekarang.

Namun, menurut pemerintah, tingkat kesuburan total India turun menjadi 2,0 dalam periode penilaian nasional terbaru dari 2019 hingga 2021, turun dari 3,4 dari 1992 hingga 1993.

"Ketika tingkat kesuburan turun, populasi terus bertambah selama beberapa dekade. Dan itu karena kohort yang lebih muda dan besar masih tumbuh hingga usia itu ketika mereka menjadi orang tua," ungkap peneliti senior di Institut Federal untuk Penelitian Kependudukan.Frank Swiaczny.

Sebaliknya, China diterpa penurunan angka kelahiran, diduga imbas banyaknya warga yang enggan menikah dan mempunyai anak. Pasalnya, China sempat secara ketat menerapkan 'kebijakan satu anak' yang mengharuskan warganya untuk hanya memiliki satu anak. Kebijakan tersebut diterapkan pada 1980-an, imbas kekhawatiran populasi China akan berlebih.

Namun pada 2016, kebijakan ini dicabut dan warga kembali diperbolehkan memiliki tiga anak pada 2021.

Pembatasan tersebutlah yang disebut oleh banyak pihak sebagai pemicu anjloknya angka kelahiran di China. Ditambah, biaya hidup melonjak dan semakin banyak jumlah perempuan yang memilih untuk bekerja dan menempuh pendidikan tinggi dibandingkan berkeluarga dan punya anak.





























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jadi Negara Berpenduduk Terbanyak, Tingkat Kesuburan Warga India Malah Turun"