Hagia Sophia

25 August 2023

Untuk Atasi Polusi, Pemerintah Coba Penyemprotan Air Berkabut di Gedung-gedung Tinggi

Penyemprotan air untuk mengurangi polusi udara. (Foto: Ari Saputra)

Kondisi udara di wilayah Jabodetabek masih belum membaik. Kualitas udara yang buruk akibat polusi dapat mengganggu kesehatan tubuh, terutama pada sistem pernapasan.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk membuat kualitas udara menjadi lebih baik, termasuk teknologi modifikasi cuaca. Namun, Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sigit Reliantoro mengatakan cara itu belum optimal.

Ia mengatakan teknologi modifikasi cuaca dengan menyemai garam ke lapisan atmosfer masih belum optimal, karena hanya ada sedikit awan hujan akibat musim kemarau yang panjang.

"Kami mendiskusikan beberapa teknologi alternatif. Karena teknologi modifikasi cuaca tidak terbatas dengan tadi pesawat yang menabur garam," kata Sigit dalam konferensi pers, Rabu (23/8/2023).

Salah satu pilihan alternatifnya adalah dengan menggunakan cara semprot air berkabut di gedung-gedung tinggi. Untuk saat ini, pihak KLHK bersama BRIN masih mendata jumlah gedung yang bisa digunakan sebagai tempat semprot air berkabut tersebut.

"Tapi, juga dalam skala mikro, misalnya dengan membuat semprotan air berkabut di gedung-gedung yang tinggi," tutur Sigit.

"Kita lagi mengintarisasi, dari BRIN sudah inventarisasi gedung-gedung tinggi yang potensial digunakan sebagai tempat untuk melakukan kegiatan, tapi sekali lagi kami menginventarisasi untuk membuat kabutnya siapa saja yang punya fasilitasnya," sambungnya.

Namun, Sigit menekankan bahwa teknologi penyemprotan air berkabut ini tidak bisa menyelesaikan masalah polusi udara seluas Jabodetabek. Maka dari itu, pemerintah pusat akan memilih daerah-daerah prioritas untuk dilakukan kegiatan penyemprotan.

Meski begitu, pihaknya terus memantau kondisi cuaca dan awan hujan sebagai modal untuk mengurangi polusi udara, melalui teknologi modifikasi cuaca.

Sigit mengatakan sejauh ini dari operasi teknologi modifikasi cuaca yang dilakukan pada 19-21 Agustus lalu, hujan turun hanya di Bogor, Tangerang Selatan, dan Depok. Sementara di Jakarta, hujan yang turun masih belum optimal.

"Tanggal 28 Agustus diprediksi ada potensi awan hujan yang cukup di daerah Jakarta. Kami mengupayakan penerapan teknologi modifikasi cuaca pada tanggal itu, tetapi pelaksanaannya masih konfirmasi lagi setiap saat dengan BMKG," pungkasnya.



























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pemerintah Uji Teknik Semprot Air dari Gedung Tinggi untuk Atasi Polusi Udara DKI"