![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/peterschreiber.media |
Stroke selama ini kerap dipersepsikan sebagai penyakit usia lanjut. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan gambaran berbeda. Stroke semakin banyak menyerang kelompok usia muda dan produktif.
Pengalaman musisi dan aktor ternama Donald Glover atau Childish Gambino menjadi salah satu contoh nyata. Di usia 42 tahun, saat sedang menjalani tur dunia 2024, ia mendadak mengalami stroke.
"Kepala saya sakit sekali, penglihatan saya sudah tidak jelas, tapi saya tetap tampil," ujar Glover di hadapan penonton konser di Los Angeles, November lalu.
"Saat ke Houston dan diperiksa dokter, saya diberi tahu bahwa saya terkena stroke."
Kasus Glover sejalan dengan data Studi Centers for Disease Control and Prevention (CDC) yang dipublikasikan pada 2024, prevalensi stroke pada kelompok usia 18 hingga 44 tahun meningkat 14,6 persen dibandingkan satu dekade sebelumnya.
"Ini pesan penting bagi publik. Stroke bukan hanya penyakit orang tua," kata Sean Savitz, Direktur Institute for Stroke and Cerebrovascular Diseases UTHealth Houston.
"Stroke bisa menyerang siapa saja, di usia berapapun."
Menurut CDC, stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhambat, menyebabkan kerusakan jaringan otak dan berpotensi berujung kematian. Di Amerika Serikat, stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi.
Para ahli belum sepenuhnya sepakat mengenai satu penyebab utama meningkatnya stroke pada usia muda. Namun, sejumlah faktor risiko kini makin sering ditemukan pada generasi muda, mulai dari kurang aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, merokok, hingga stres berkepanjangan.
Selain itu, riset American Heart Association (2024) juga menyoroti faktor lain yakni migrain, gangguan autoimun, dan kelainan pembuluh darah sebagai pemicu yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Stroke Sejak Remaja
Stroke bahkan terjadi di usia remaja. Pemuda di Texas, AS, Evan Cadena, mengalami tiga kali serangan stroke sejak usia 16 tahun. Ia mendadak kehilangan kemampuan gerak di sebagian tubuh kanannya. Dokter menemukan Evan mengidap arteriovenous malformation (AVM), kelainan pembuluh darah bawaan.
"Dia harus belajar ulang semuanya, bahkan menulis dengan tangan kiri," kata ibunya, Janie Lazo.
"Fasilitas dan sistem kesehatan nyaris tidak siap menghadapi pasien stroke seusia anak saya."
Stroke di usia remaja membuat Evan kehilangan banyak pengalaman penting dalam hidupnya, termasuk bersosialisasi dan bersekolah secara normal. Kondisi tersebut sempat menyeretnya ke jurang depresi.
"Itu masa yang sangat berat," ujar Evan.
"Tapi saya masih hidup, masih bisa bergerak, dan itu yang membuat saya terus maju."
Meningkatnya kasus stroke pada usia muda menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan, yang selama ini lebih berfokus pada kelompok usia lanjut. Para ahli menilai, pencegahan harus dimulai lebih dini melalui pengendalian faktor risiko, skrining kesehatan, serta edukasi publik.
Tergantung pada area yang terkena serangan, gejala stroke dapat menyerupai berbagai kondisi. Bukti menunjukkan stroke iskemik pada orang muda dapat menyerupai kejang, sindrom vestibular akut, migrain, infeksi, tumor otak, ensefalopati toksik-metabolik (terutama hipoglikemia), ensefalopati hipertensi, gastroenteritis, dan gangguan konversi.
Gejala stroke yang khas dapat muncul, seperti wajah terkulai, kelemahan otot satu sisi, kesulitan berbicara, kesulitan penglihatan dan keseimbangan, gejala lain juga dapat terlihat termasuk penurunan koordinasi, defisit sensorik, sakit kepala, dan kelelahan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Makin Banyak Usia Muda Kena Stroke, Ini Gejala Awal yang Mereka Keluhkan"
