Hagia Sophia

21 May 2026

Ini yang Terjadi pada Tubuh saat Serangan Jantung

Foto: Getty Images/iStockphoto/monstArrr_

Kasus serangan jantung pada usia muda, yakni di bawah 40 tahun, terus meningkat. Saat ini sekitar 1 dari 5 kasus serangan jantung terjadi pada kelompok usia muda, menurut laporan riset Cardio Metabolic Institute. Meski usia muda selama ini dianggap lebih terlindungi, mereka tetap berisiko mengalami serangan jantung berulang hingga kematian jika penyebab utamanya tidak ditangani dengan baik.

Serangan jantung di usia muda umumnya tidak terjadi secara mendadak, dipicu kombinasi gaya hidup dan kondisi kesehatan. Faktor risiko utamanya meliputi obesitas, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kurang aktivitas fisik, konsumsi makanan ultra processed food (UPF), stres kronis, kurang tidur, hingga kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol berlebihan. Selain itu, riwayat keluarga dengan penyakit jantung di usia dini juga meningkatkan risiko secara signifikan. Peneliti juga mulai menyoroti kemungkinan kaitan komplikasi pasca COVID-19 dan mikroplastik dalam darah terhadap kesehatan jantung.

Sayangnya, banyak anak muda terlambat mencari pertolongan medis karena mengira gejala serangan jantung hanya pegal biasa, gangguan lambung, atau kecemasan. Padahal, tanda yang perlu diwaspadai meliputi nyeri atau tekanan di dada, nyeri menjalar ke rahang, leher, punggung, dan lengan, hingga gejala samar seperti keringat dingin, mual, pusing, dan kelelahan berat tanpa sebab jelas.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan kardiovaskular, Dr dr Dede Moeswir dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI) menekankan serangan jantung tak hanya kondisi darurat yang mengancam nyawa dalam hitungan menit. Setelah pasien berhasil diselamatkan, masalah lain bisa muncul yakni kerusakan permanen pada otot jantung yang berujung gagal jantung.

Menurut dr Dede, saat seseorang mengalami serangan jantung, pembuluh darah pemasok oksigen ke jantung tersumbat. Akibatnya, sebagian otot jantung kekurangan oksigen dan mulai rusak.

"Terapi utama yang dilakukan ialah membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat melalui tindakan intervensi koroner perkutan menggunakan kawat khusus, balon, dan pemasangan stent," ujarnya, dalam sidang promosi doktor, seperti dilihat detikcom di YouTube MedicineUI, Sabtu (16/5/2026).

Kenapa Serangan Jantung Bisa Berbahaya?

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terhambat. Jika sumbatan tidak segera dibuka, jaringan otot jantung bisa mati.

Meski pasien berhasil tertolong lewat pemasangan ring atau stent, kerusakan pada otot jantung belum tentu pulih sepenuhnya. Inilah yang kemudian dapat menyebabkan jantung melemah dan tidak mampu memompa darah secara optimal.

"Sebagian pasien tetap dapat mengalami kerusakan otot jantung hingga berujung gagal jantung meski telah mendapatkan terapi optimal," jelas dr Dede.

Dalam kondisi gagal jantung, pasien biasanya mudah lelah, sesak napas, jantung berdebar, hingga mengalami pembengkakan kaki karena kemampuan pompa jantung menurun.

Untuk membantu memperbaiki kerusakan tersebut, dr Dede mengembangkan penelitian terapi tambahan menggunakan sel punca mesenkimal atau mesenchymal stem cell.

Sel punca merupakan sel khusus yang memiliki kemampuan berubah menjadi berbagai jenis sel lain di tubuh, termasuk sel otot jantung.

"Dengan pemberian terapi sel punca mesenkimal, diharapkan kerusakan otot jantung dapat dikurangi sehingga fungsi pompa jantung pasien membaik," katanya.

Penelitian ini difokuskan pada pasien infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA STE), yaitu jenis serangan jantung berat akibat sumbatan total pembuluh darah jantung.

Kenapa Jantung Tetap Bisa Rusak Meski Sudah Dipasang Stent?

Menurut dr Dede, membuka sumbatan memang menjadi langkah utama untuk menyelamatkan pasien. Namun setelah aliran darah kembali normal, terkadang muncul cedera tambahan pada jaringan jantung yang disebut cedera reperfusi.

Kondisi ini dapat memicu peradangan dan memperparah kerusakan otot jantung.

"Tindakan membuka kembali aliran darah memang menjadi terapi utama untuk menyelamatkan pasien serangan jantung. Namun sebagian pasien tetap berisiko mengalami kerusakan otot jantung akibat cedera reperfusi, peradangan, hingga gagal jantung," ujarnya.

Meski menjanjikan, dr Dede mengakui terapi sel punca belum menunjukkan hasil optimal dalam waktu singkat. Sebab, proses pembentukan sel otot jantung baru membutuhkan waktu panjang.

Karena itu, penelitian lanjutan dengan pemantauan jangka panjang masih diperlukan untuk melihat efektivitas terapi tersebut.

"Kami berharap terapi ini dapat membantu mengurangi ukuran kerusakan otot jantung dan memperbaiki fungsi pompa jantung pasien di masa depan," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dokter UI Ungkap yang Terjadi pada Tubuh saat Serangan Jantung"