Hagia Sophia

21 May 2026

Korban Meninggal Akibat Wabah Baru Ebola di Kongo Capai 88 Orang

Wabah Ebola di Kongo. (Foto: AP Photo/Jerome Delay)

Jumlah kematian akibat wabah Ebola terbaru di Kongo terus meningkat. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika melaporkan sedikitnya 88 orang meninggal dunia di provinsi Ituri, wilayah timur Kongo.

CDC Afrika juga memperingatkan adanya 'penularan komunitas aktif' di tengah upaya petugas kesehatan memperkuat pemeriksaan dan pelacakan kontak, untuk menahan penyebaran virus.

Di ibu kota Ituri, Bunia, warga mengaku kini hidup dalam ketakutan karena penguburan warga terus terjadi hampir setiap hari.

"Setiap hari, orang-orang meninggal dan ini telah berlangsung selama sekitar seminggu. Dalam satu hari, kami menguburkan dua, tiga, atau bahkan lebih banyak orang," kata warga Bunia, Jean Marc Asimwe.

"Saat ini, kami belum benar-benar tahu jenis penyakit apa ini," lanjutnya yang dikutip dari AP News.

Ebola diketahui sebagai penyakit yang sangat menular dan dapat menyebar melalui cairan tubuh seperti darah, muntahan, hingga air mani. Penyakit ini tergolong langka, tetapi memiliki tingkat fatalitas tinggi.

Awalnya, pejabat kesehatan Kongo pada Jumat melaporkan 65 kematian dengan 246 kasus suspek. Tetapi sehari kemudian, CDC Afrika memperbarui data menjadi 336 kasus suspek dan 13 kasus terkonfirmasi.

Sebanyak empat pasien meninggal berasal dari kasus yang telah dipastikan positif Ebola.

Direktur Jenderal CDC Afrika, Dr Jean Kaseya, mengatakan kasus pertama dilaporkan di zona kesehatan Mongwalu. Itu merupakan kawasan pertambangan dengan mobilitas warga tinggi.

"Kasus-kasus tersebut kemudian menyebar ke Rwampara dan Bunia karena pasien mencari perawatan medis, sehingga memungkinkan penyebaran di tiga zona kesehatan," katanya dalam konferensi pers daring, Sabtu (16/5/2026).

Ia menambahkan banyak kasus aktif masih ditemukan di tengah komunitas, khususnya di Mongwalu.

"Secara signifikan mempersulit upaya penahanan dan pelacakan kontak," sambung Dr Kaseya.

Kondisi keamanan di Ituri juga disebut menjadi tantangan besar. Wilayah tersebut diketahui kerap dilanda serangan kelompok militan yang berafiliasi dengan ISIS.

Menteri Kesehatan Kongo Samuel-Roger Kamba mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium mengonfirmasi wabah kali ini disebabkan virus Ebola strain Bundibugyo. Itu merupakan jenis yang lebih jarang ditemukan pada wabah sebelumnya di Kongo.

Ini menjadi wabah Ebola ke-17 di Kongo sejak virus pertama kali muncul pada 1976.

Kamba menyebut kasus pertama diduga berasal dari seorang perawat yang meninggal di rumah sakit Bunia pada 24 April lalu. Ia mengatakan pasien menunjukkan gejala yang mengarah pada Ebola, meski tidak menjelaskan apakah sampel pasien telah diuji.

Wabah tersebut kini mulai menyebar ke negara tetangga. Uganda pada Jumat mengonfirmasi satu kasus Ebola yang disebut 'diimpor' dari Kongo. Pasien tersebut meninggal di Rumah Sakit Muslim Kibuli, Kampala, pada 14 Mei.

CDC Afrika mengaku khawatir wabah dapat menyebar lebih luas, mengingat lokasi terdampak berada dekat dengan Uganda dan Sudan Selatan.

Jenazah pasien yang meninggal di Kampala kemudian dipulangkan kembali ke Kongo. Hingga kini, belum ada kasus lokal lain yang terkonfirmasi di Uganda.

Di Kampala, pemeriksaan kesehatan mulai diperketat di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk Rumah Sakit Muslim Kibuli.

"Saya benar-benar takut karena saya ingat menguburkan ayah saya tanpa melihat jenazahnya," kata warga Kampala, Ismail Kigongo, yang mengaku trauma setelah kehilangan ayahnya saat pandemi COVID-19.

Sementara itu, Kenya menyebut risiko masuknya Ebola ke negaranya masih berada pada level 'moderat' akibat tingginya mobilitas regional. Pemerintah Kenya kini membentuk tim kesiapsiagaan Ebola dan memperkuat pengawasan di seluruh pintu masuk negara.

Meski Kongo sudah berpengalaman menangani Ebola, tantangan logistik masih menjadi hambatan besar. Ituri berada sekitar 1.000 kilometer dari ibu kota Kinshasa dan merupakan wilayah konflik.

Hingga kini, baru 13 sampel darah yang diperiksa di Institut Penelitian Biomedis Nasional Kongo. Sekitar delapan di antaranya dinyatakan positif strain Bundibugyo, sementara lima sampel lainnya belum bisa dianalisis karena volume sampel tidak mencukupi.

Di tengah situasi tersebut, aktivitas warga di Bunia masih tampak berjalan normal. Warga Bunia lainnya, Adeline Awekonimungu, berharap pemerintah segera mengambil langkah lebih serius.

"Rekomendasi saya adalah agar pemerintah menanggapi masalah ini dengan serius dan mengambil alih pengelolaan rumah sakit sehingga masalah ini dapat dikendalikan," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kondisi Kongo Dihantam Wabah Baru Ebola, Sudah Tewaskan 88 Orang"