Hagia Sophia

11 May 2026

Kemenkes: Aktivitas Seperti Ini Berisiko Tularkan Hantavirus

Hantavirus. (Foto: Getty Images/Sinenkiy)

Kementerian Kesehatan RI mencatat 23 kasus hantavirus dalam tiga tahun terakhir. Jenisnya berbeda dengan yang dilaporkan pada wabah kapal pesiar MV Hondius, yakni andes virus.

Jenis hantavirus yang menyebar di RI terkonfirmasi seluruhnya seoul virus. Sejumlah aktivitas disebut berisiko tinggi penularan hantavirus jenis ini, lantaran erat kaitannya dengan kontak terhadap sumber infeksi, terutama tikus.

"Kontak dengan sumber infeksi, yang berkaitan dengan hobi olahraga atau wisata seperti mendaki gunung, berkemah, dan lain-lain," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, risiko paparan meningkat ketika seseorang berada di area yang memungkinkan kontak dengan urine, feses, air liur, maupun debu yang telah terkontaminasi virus dari tikus.

Hiking hingga Camping Jadi Aktivitas Berisiko

Aktivitas alam terbuka seperti hiking dan camping sering kali dilakukan di lokasi yang minim sanitasi atau dekat habitat tikus liar. Pendaki juga berisiko menghirup aerosol dari debu yang tercemar ekskresi tikus, terutama di tenda, gudang logistik, atau bangunan kosong di jalur pendakian.

Selain pendaki dan wisatawan alam, Kemenkes menyebut sejumlah profesi juga memiliki risiko tinggi tertular hantavirus.

"Mereka yang bekerja sebagai petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja lab yang menangani reservoir," ujar Aji.

Ia menjelaskan penularan bisa terjadi melalui berbagai jalur kontak langsung dengan tikus.

"Penularan bisa terjadi melalui gigitan, eksresi dan sekresi atau saliva, urine, feses, sampai aerosol penularan dari menghirup debu yang terkontaminasi," katanya.

Indonesia Catat 23 Kasus

Kementerian Kesehatan RI menyebut mayoritas pasien yang terpapar dinyatakan sembuh.

"23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal," ungkap Aji.

Case fatality rate (CFR) hantavirus seoul virus ini tercatat sekitar 13 persen.

"Tingkat kematian relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan," jelasnya.

Pada 2026, terdapat tambahan lima kasus baru.

Secara kumulatif, kasus seoul hantavirus tercatat lebih banyak di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta. Berikut sebarannya:
  • Sumatera Barat: 1 kasus
  • Banten: 1 kasus
  • DKI Jakarta: 6 kasus
  • Jawa Barat: 5 kasus
  • Jawa Timur: 1 kasus
  • DI Yogyakarta: 6 kasus
  • NTT: 1 kasus
  • Kalimantan Barat: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus
Belum Ada Penularan Antarmanusia di Indonesia

Meski begitu, Kemenkes menegaskan belum ditemukan kasus hantavirus yang menular antarmanusia di Indonesia.

"Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan," tutur Aji.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kemenkes RI Ungkap Aktivitas Seperti Ini Berisiko Tularkan Hantavirus"