Hagia Sophia

19 September 2023

Menurut Studi, Kelebihan atau Kurang Tidur Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung

Foto ilustrasi: Getty Images/EmirMemedovski

Pakar kesehatan menemukan banyak manfaat dari tidur malam yang nyenyak. Tidur yang cukup sekitar 8 jam setiap malam akan meningkatan konsentrasi dan produktivitas. Tidur juga dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, kinerja, dan suasana hati (mood).

Terlepas dari semua manfaatnya, masih banyak orang yang mungkin tidak tidur dengan cukup. Biasanya karena kesibukan bekerja, kebiasaan begadang, ataupun masalah insomnia.

Dikutip dari Healthline, penelitian University of Colorado Boulder menemukan tidur terlalu sedikit atau terlalu banyak dapat meningkatkan risiko serangan jantung. Kondisi ini bisa dialami setiap orang, termasuk pada orang yang sehat.

Penelitian tersebut juga mengungkapkan, tidur sekitar enam hingga sembilan jam setiap malam, sekalipun pada orang yang memiliki kecenderungan genetik penyakit jantung, dapat mengurangi risiko serangan jantung saat tidur.

Karenanya, durasi tidur merupakan kunci untuk kesehatan jantung.

"Jika seseorang ingin mengoptimalkan gaya hidupnya, data kami menunjukkan bahwa kita juga harus mempertimbangkan apakah mereka cukup tidur, atau terlalu lama, karena temuan kami mendukung bahwa ini adalah faktor risiko gaya hidup utama yang berkontribusi terhadap kesehatan jantung," kata penulis senior CĂ©line Vetter, asisten profesor fisiologi integratif di University of Colorado Boulder, kepada Healthline.

"Dan hal ini berlaku pada semua orang, terlepas dari profil risiko mereka," lanjutnya.

Tidur mengurangi risiko serangan jantung

Para peneliti mengevaluasi catatan medis lebih dari 461.000 orang yang bersumber dari UK Biobank. Para pasien berusia antara 40 hingga 69 tahun dan tidak pernah mengalami serangan jantung. Peneliti mampu melihat data pasien selama 7 tahun untuk melihat kondisi kesehatannya.

Tim peneliti membandingkan pasien yang tidur 6 hingga 9 jam setiap malam dengan mereka yang tidur kurang dari 6 jam setiap malam dan lebih dari 9 jam.

Orang yang kurang tidur mempunyai kemungkinan 20 persen lebih besar terkena serangan jantung, dan mereka yang tidur lebih dari 9 jam mempunyai peluang 34 persen lebih besar terkena serangan jantung.

Rata-rata, semakin banyak orang yang berada di luar rentang waktu 6 hingga 9 jam, semakin besar pula risikonya.

Para peneliti kemudian melihat profil genetik para partisipan untuk lebih memahami bagaimana tidur memengaruhi risiko mereka terkena serangan jantung.

Peneliti menemukan, mereka yang memiliki kecenderungan genetik terhadap penyakit jantung mengurangi risiko serangan jantung sekitar 18 persen jika mereka tidur antara 6 hingga 9 jam.

Meskipun demikian, tidak semua orang memiliki waktu yang paling mudah untuk tertidur. Beberapa orang berjuang melawan kecemasan atau insomnia, sementara yang lain mengalami kesulitan tidur karena usia tua atau bayi baru lahir yang gelisah.

Secara umum, masalah tidur jangka pendek tidak akan menimbulkan banyak dampak buruk. Namun, gangguan tidur yang kronis dan terus menerus dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, bahkan memperparah masalah kesehatan yang sudah ada, terutama yang berhubungan dengan jantung.

"Jantung adalah mesin yang memompa 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan membutuhkan waktu istirahat, sama seperti mesin mobil yang akan mati jika dijalankan 24/7," kata Dr. Guy Mintz, direktur kardiovaskular. kesehatan dan lipidologi kardiologi di Rumah Sakit Universitas North Shore Northwell Health.


























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Studi: Kelebihan atau Kurang Tidur Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Penyakit Jantung"