![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/Marcus Lindstrom |
Pengidap hoarding disorder di Singapura meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hoarding disorder adalah gangguan mental yang ditandai dengan kesulitan membuang sesuatu atau berpisah dengan barang-barang, terlepas dari nilainya. Mereka kerap merasa perlu menyimpannya, hingga barang terus menumpuk memenuhi ruangan.
Menurut Ministry of National Development Singapore dan Ministry of Social and Family Development, jumlah kasus aktif yang sedang ditangani hampir dua kali lipat dalam waktu kurang dari empat tahun, dari 253 kasus pada Desember 2021 menjadi sekitar 450 kasus.
Pemerintah menilai peningkatan ini kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perilaku hoarding serta upaya identifikasi yang lebih aktif.
Selain itu, perubahan demografi Singapura seperti penuaan populasi juga diperkirakan berkontribusi terhadap meningkatnya kasus tersebut. Hingga Juni tahun lalu tim penanganan telah berhasil mengurangi tingkat keparahan 308 kasus hoarding berat dan terus memantau mereka untuk mencegah kekambuhan.
Pengalaman tersebut pernah dialami Tong Ler Yee, staf program di organisasi amal Tzu Chi Foundation Singapore. Saat pertama kali menangani seorang perempuan dengan kondisi hoarding disorder, hampir seluruh jalur di rumah perempuan itu tertutup tumpukan barang.
Akibat kondisi tersebut, perempuan itu bahkan harus melakukan berbagai aktivitas di luar rumah, termasuk mandi di pusat komunitas terdekat.
Meski begitu, ia sempat mengizinkan Tong masuk ke rumahnya dan menyampaikan keinginan untuk membersihkan tempat tinggalnya. Namun proses itu ternyata tidak berjalan mudah.
"Bagi dia sangat sulit untuk benar-benar memutuskan mana barang yang ingin disimpan dan mana yang harus dibuang," kata Tong.
Hubungan mereka kemudian memburuk dan tim Tong akhirnya tidak dapat menyelesaikan proses pembersihan rumah tersebut.
Kasus Hoarding Terus Bertambah
Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah Singapura membentuk New Environment Action Team (NEAT), sebuah aliansi yang melibatkan berbagai lembaga sosial, komunitas, asosiasi industri, hingga instansi pemerintah. NEAT bekerja bersama kelompok koordinasi sebelumnya, yaitu Hoarding Management Core Group.
Melalui kerja sama ini, penanganan kasus hoarding dilakukan dengan pendekatan lintas sektor. Misalnya, organisasi seperti Habitat for Humanity Singapore dan Tzu Chi membantu proses decluttering atau penataan ulang rumah. Sementara aspek kesehatan mental ditangani oleh spesialis dari Institute of Mental Health.
Bahkan asosiasi kontraktor turut terlibat untuk membantu perbaikan rumah jika diperlukan, seperti perbaikan listrik atau pipa.
Bendahara Singapore Contractors Association Limited, Roy Khoo, mengatakan kolaborasi ini membuat penanganan kasus menjadi lebih efektif.
"Ketika semua pihak bekerja bersama, ada efek ganda. Hasilnya bisa lebih besar," ujarnya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Duh... Kasus Hoarding Disorder di Singapura Ngegas Dua Kali Lipat"
