![]() |
| Hantavirus merupakan umbrella term untuk sekelompok virus dalam family Hantaviridae. Andes virus termasuk di dalamnya. Foto: iStock |
Andes virus ramai diperbincangkan di tengah ramainya pemberitaan tentang outbreak hantavirus di kapal pesiar mewah MV Honius. Samakah keduanya?
Hantavirus sebenarnya merupakan kelompok virus dari famili Hantaviridae yang terdiri dari banyak jenis virus berbeda. Andes virus adalah salah satu di antara puluhan jenis hantavirus lainnya.
"Virus hanta ini grupnya. Jadi isinya ada beberapa virus di dalamnya, dan hampir semuanya berkaitan dengan tikus," jelas Prof Dr dr Dominicus Husada, pakar infeksi penyakit tropik di Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dalam konferensi pers baru-baru ini.
Ia menambahkan, Andes virus merupakan satu dari sekitar 40 anggota hantavirus yang dikenal saat ini. Menurutnya, Andes virus menjadi sorotan karena berbeda dari sebagian besar hantavirus lainnya.
"Virus Andes ini adalah satu-satunya anggota hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antarmanusia melalui kontak erat," ujarnya.
Andes Virus Bisa Menular Antarmanusia
Karena itu, penting untuk memahami bahwa hantavirus bukan nama satu virus tunggal, melainkan kelompok virus dengan karakteristik penularan yang berbeda-beda.
Andes virus menjadi perhatian karena memiliki karakteristik yang berbeda dibanding sebagian besar hantavirus lainnya. Sebagian besar hantavirus menular dari hewan pengerat ke manusia, Andes virus diketahui dapat menyebar antarmanusia melalui kontak erat.
Prof Dominicus menjelaskan bahwa penularan tersebut tidak terjadi dengan mudah seperti COVID-19 atau campak.
Menurutnya, kontak erat yang dimaksud biasanya terjadi pada orang-orang yang berinteraksi intens dalam waktu cukup lama, seperti pasangan serumah, teman satu ruangan kerja, atau orang yang sering berada dalam jarak dekat. Pertemuan singkat umumnya memiliki risiko penularan yang jauh lebih kecil.
Ia juga menegaskan bahwa Andes virus sendiri belum pernah ditemukan di Indonesia. Sejauh ini, kasus hantavirus di Indonesia masih berkaitan dengan paparan tikus, terutama melalui partikel dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang terhirup melalui saluran pernapasan.
Andes Virus Menyerang Paru, Hantavirus di Asia Lebih Banyak Menyerang Ginjal
Meski berada dalam kelompok virus yang sama, jenis penyakit yang ditimbulkan hantavirus dapat berbeda tergantung jenis virus dan wilayah penyebarannya.
Prof Dominicus menjelaskan bahwa hantavirus di kawasan Amerika, termasuk Andes virus, lebih sering menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau gangguan paru berat. Kondisi ini dapat memicu sesak napas hingga gagal pernapasan.
"Yang di Amerika sering menyebabkan HCPS," ujarnya.
HCPS (Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome) atau HPS sama-sama merujuk pada infeksi hantavirus yang menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat hingga gagal paru. Menurutnya, angka kematian akibat kondisi tersebut bahkan bisa mencapai sekitar 50 persen.
Sementara itu, hantavirus yang lebih banyak ditemukan di Eropa dan Asia umumnya menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yaitu penyakit yang lebih dominan menyerang ginjal dan disertai gangguan perdarahan.
Pada tahap awal, gejalanya sering kali tidak spesifik dan mirip flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, serta mudah lelah. Karena itu, infeksi hantavirus cukup sulit dikenali hanya dari gejalanya saja.
Apakah Andes Virus Bisa Jadi Pandemi?
Di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan wabah baru, Prof Dominicus menilai Andes virus kecil kemungkinannya menyebabkan pandemi besar seperti COVID-19.
Menurutnya, penularan Andes virus tidak terjadi dengan mudah karena umumnya membutuhkan kontak erat dalam waktu cukup lama. Tingkat penularannya pun disebut jauh lebih rendah dibanding campak.
"Kalau campak, satu orang bisa menularkan ke sekitar 18-19 orang. Kalau virus hanta ini sangat sedikit, bahkan mungkin tidak sampai lima," jelasnya.
Selain itu, hantavirus juga relatif jarang mengalami mutasi dibanding beberapa virus lain.
"Virus hanta ini relatif jarang bermutasi, tidak seperti SARS-CoV-2, influenza, atau HIV," ujarnya.
Ia menyebut influenza memiliki tingkat mutasi sekitar 10 kali lebih tinggi dibanding SARS-CoV-2, sementara HIV bahkan sekitar 100 kali lebih tinggi dibanding SARS-CoV-2.
Karena kemampuan mutasi dan penularannya lebih rendah, Andes virus dinilai tidak mudah berkembang menjadi wabah besar seperti COVID-19. Meski begitu, tetap dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari paparan tikus maupun kotorannya sebagai langkah pencegahan utama, mengingat sebagian besar penularan hantavirus tetap berasal dari hewan pengerat.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Apa Itu Andes Virus? Marak Dikaitkan dengan Ancaman Pandemi Hantavirus"
