Hagia Sophia

12 May 2026

Berbagai Fakta Tentang Hantavirus di Indonesia

Ilustrasi (Foto: Getty Images/ninitta)

Indonesia ternyata tak luput dari infeksi hantavirus, yakni kelompok virus dari genus Orthohantavirus yang umumnya dibawa hewan pengerat seperti tikus (zoonosis).

Belakangan, hantavirus ramai diperbincangkan karena menginfeksi beberapa penumpang di kapal pesiar mewah MV Hondius. Bahkan, tiga nyawa melayang akibat infeksi dari hantavirus jenis 'Andes virus'.

Hingga 7 Mei 2026, tiga orang dilaporkan meninggal dunia, yakni pasangan suami istri asal Belanda dan seorang warga Jerman. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut lima dari delapan suspek hantavirus yang terkait dengan kapal tersebut kini telah terkonfirmasi positif.

Jenis Hantavirus di Indonesia

Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) melaporkan sedikitnya 23 kasus Hantavirus dan tiga kematian di 9 provinsi dalam periode tiga tahun terakhir. Angka kematian tercatat mencapai 13 persen.

Seluruh kasus hantavirus terkonfirmasi ke jenis seoul virus, bukan andes virus seperti yang terkonfirmasi pada wabah di kapal pesiar mewah MV Hondius. Penularan yang terjadi rata-rata bersumber dari tikus dan celurut yang terinfeksi melalui gigitan, ekskresi dan sekresi, saliva, urine, feses, atau melalui inhalasi aerosol yakni terhirup debu.

Kasus hantavirus jenis seoul virus paling banyak teridentifikasi di tahun lalu dengan 17 kasus, sementara pada 2024 'hanya' terlaporkan 1 kasus. Pada 2026, sejauh ini tercatat penambahan 5 kasus.

Sebaran Hantavirus di RI

Virus ini tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Menurut data Kemenkes, pulau Jawa masih mendominasi, dengan DKI Jakarta menjadi yang terbanyak.

Pada 2026, terdapat tambahan lima kasus. Selebihnya, pasien sudah dinyatakan sembuh. Terbanyak di DKI, berikut sebaran wilayahnya:
  • Sumatera Barat: 1 kasus
  • Banten: 1 kasus
  • DKI Jakarta: 6 kasus
  • Jawa Barat: 5 kasus
  • Jawa Timur: 1 kasus
  • DIY: 6 kasus
  • NTT: 1 kasus
  • Kalimantan Barat: 1 kasus
  • Sulawesi Utara: 1 kasus
"23 positif tapi 20 sembuh, tiga meninggal," demikian konfirmasi Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes Aji Muhawarman, Kamis (7/5/2026).

"Penilaian risiko Indonesia pada importasi kasus pada penularan Hantavirus andes, yang antar manusia, tergolong rendah, jarang terjadi, terbatas umumnya di Amerika Selatan," tuturnya.

Tingkat kematian disebutnya relatif tinggi tidak hanya disebabkan faktor tunggal, tetapi ada ko-infeksi yang terjadi akibat kanker hati, kegagalan multiorgan.

Siapa yang Berisiko Tertular?

Aji mengungkap mereka yang bekerja sebagai petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, pembersih selokan, hingga pekerja lab yang menangani reservoir, karena kerap melakukan kontak langsung dengan tikus.

Pasalnya, penularan bisa terjadi melalui gigitan, eksresi dan sekresi atau saliva, urine, feses, sampai aerosol penularan dari menghirup debu yang terkontaminasi.

Meski begitu, Aji menekankan sejauh ini belum ada hantavirus yang menular antarmanusia di Indonesia, seperti yang terlaporkan pada kapal pesiar mewah MV Hondius, yakni jenis andes virus.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Fakta-fakta Hantavirus di RI, Jumlah Kasus-Wilayah Sebaran"