Hagia Sophia

27 March 2024

Menurut Penelitian: Mayoritas Warga Jepang Tidak Ingin Hidup Hingga 100 Tahun

Ilustrasi lansia Jepang (Foto: REUTERS/Issei Kato)

Sebuah penelitian terbaru mengungkap mayoritas masyarakat Jepang tidak mempunyai keinginan untuk hidup selama 100 tahun, berbeda dengan sikap masyarakat yang hidup di negara lain terkait umur panjang.

Penelitian terkait penuaan ini dilakukan di enam negara yang hasilnya dirilis awal pekan lalu. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa orang Jepang hanya fokus pada aspek negatif dari hidup hingga usia 100 tahun. Hanya 21 persen dari responden yang optimistis akan hidup bahagia ketika mencapai usia 100 tahun.

"Jika kita melihat pandangan masyarakat terhadap kehidupan hingga usia 100 tahun, menjadi jelas bahwa Jepang adalah satu-satunya negara yang tidak melihat aspek positif dari era harapan hidup 100 tahun," ujar Takashi Tanaka yang merupakan penulis laporan tersebut dalam kesimpulannya, dikutip dari South China Morning Post.

Menurut penelitian tersebut, aspek negatif yang cenderung menjadi fokus orang Jepang adalah tak ingin menjadi beban bagi keluarga atau teman seiring bertambahnya usia, serta kesulitan yang dihadapi saat orang berumur 100 tahun.

Responden di negara-negara lain yang terlibat dalam penelitian ini, yakni Amerika Serikat, Tiongkok, Korea Selatan, Jerman, dan Finlandia juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Akan tetapi, responden Jepang jauh lebih pesimis ketika ditanyakan pertanyaan tersebut. Hanya 28,7 persen yang mengatakan bahwa mereka akan memiliki peluang baru untuk merasakan pengalaman di abad ini.

Sebaliknya, 59 persen orang Amerika dan 58 persen orang China mengatakan mereka berharap bisa bahagia ketika mereka mencapai usia 100 tahun, sementara 65 persen orang Amerika dan 51 persen orang Jerman mengantisipasi peluang baru seiring bertambahnya usia.

Sementara hanya 27,4 persen warga Jepang yang menyatakan ingin hidup hingga usia 100 tahun, dibandingkan dengan 52,8 persen warga Jerman, 53,1 persen warga Korea Selatan, 58,4 persen warga Finlandia, 65,6 persen warga China dan 66,7 persen warga Amerika.

Studi ini dilakukan oleh Research Institute for Centenarians untuk memperingati Hari Kebahagiaan Internasional PBB, Para peneliti menanyai 2.800 orang Jepang berusia antara 20 dan 79 tahun tentang pemikiran mereka tentang penuaan, serta sejumlah orang di negara lain.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa orang-orang Jepang kurang bahagia dengan kehidupan mereka dibandingkan dengan orang di negara lain, dengan rata-rata responden di negara tersebut hanya mendapat nilai 5,9 pada skala 10 untuk kebahagiaan.

Angka tersebut merupakan negara terendah di antara enam negara, China misalnya menjadi negara paling bahagia dengan skor 7,4 dari 10. Kemudian diikuti oleh Finlandia dengan 6,8 dan Jerman dengan 6,6.

Masyarakat Jepang juga sama pesimistisnya terhadap masa depan negara mereka.

"Melihat hasil survei, untuk meningkatkan kebahagiaan dan meningkatkan jumlah orang yang berpikir untuk menjalani kehidupan 100 tahun, merasakan kebahagiaan orang-orang di sekitar Anda sama pentingnya dengan memikirkan kebahagiaan Anda sendiri, kata Tanaka.

Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dihimpun World Population Review, Jepang termasuk sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia. Angka harapan hidup global pada 2023 rata-rata mencapai 73,4 tahun. Sementara, angka harapan hidup Jepang rata-rata mencapai 84,95 tahun.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Studi Ungkap Warga Jepang Tak Bahagia Jika Hidup Sampai 100 Tahun, Kenapa?"