Hagia Sophia

03 March 2026

Inikah Penyebab Meningkatnya Kasus Campak di Indonesia?

Foto: Getty Images/iStockphoto/baona

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti peran golongan antivaksin pada kasus campak yang belakangan mengalami kenaikan. Oleh karena itu, pihaknya meminta adanya kewaspadaan di masyarakat.

Menurut Ketua IDAI Cabang Jawa Barat Prof Dr dr Anggraini Alam, SpA ada peran dari mereka yang 'ogah' vaksinasi campak terhadap meningkatnya kasus penyakit ini.

"Sampai bahkan mengatakan aktivis-aktivis antivaksin mendingan anaknya kena campak, bahkan nggak papa kena Polio (poliomyelitis)," kata Prof Anggi saat media daring, Sabtu (28/2/2026).

"Apa benar demikian? Belum tahu komplikasi campak itu apa?" sambungnya.

Menurut Prof Anggi, komplikasi campak bisa berdampak serius seperti kehilangan pendengaran, dehidrasi yang menyebabkan kematian, mata kering karena vitamin A 'digerus' virus campak, sampai masalah pneumonia.

Senada, Ketua PP IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso mengatakan salah satu cara untuk mencegah campak dengan efektif dalah meningkatkan cakupan imunisasi.

"Jadi penyakit ini termasuk penyakit PD3I, yakni penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi dan imunisasinya gratis," kata dr Piprim.

Namun memang masih banyak rintangan yang harus dihadapi masyarakat untuk mendapatkan imunisasi tersebut.

"Ada yang kesulitan akses, vaksinnya rusak karena cold chain-nya bermasalah, ada yang penolakan (vaccine hesitancy) di masyarakat, banyak isu beredar," katanya.

"Ketika cakupan imunisasi tidak cukup untuk herd immunity, kekebalan komunitas maka mulailah bermunculan campak ini," tutupnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kasus Campak di RI Ngegas, IDAI Tuding Pengaruh Gerakan Antivaksin"