Hagia Sophia

10 March 2026

Penggunaan Sosmed untuk Anak Akan Dibatasi, Efektif Jaga Mental Health?

Foto: Getty Images/AlexanderFord

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menunda akses sosial media untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun. Menkomdigi Meutya Hafid mengatakan, aturan tersebut diberlakukan untuk melindungi anak di ruang digital.

"Hari ini kami mengeluarkan Peraturan Menteri sebagai turunan dari PP Tunas. Melalui peraturan ini, pemerintah menunda akses akun anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial dan layanan jejaring," ujar Meutya dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan salah satu faktor pemberlakuan aturan ini adalah bahaya risiko adiksi media sosial. Dari perspektif psikologi, seberapa efektif aturan ini dapat berdampak baik bagi kesehatan mental remaja?

Spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ berpendapat, pembatasan media sosial pada anak usia remaja memberikan sejumlah dampak positif. Pembatasan ini dapat mengurangi paparan konten yang tidak sesuai usia.

Anak-anak seringkali belum memiliki kemampuan berpikir kritis dan kontrol diri yang matang, sehingga lebih rentang terpengaruh pada konten kekerasan, pornografi, hingga gaya hidup yang tidak realistis di media sosial.

"Mengurangi risiko cyberbullying dan tekanan sosial. Banyak remaja mengalami stres karena perbandingan sosial di media sosial, misalnya merasa kurang cantik, kurang sukses, atau kurang populer dibanding orang lain," ungkap dr Lahargo pada detikcom, Minggu (8/3/2026).

Pembatasan ini menurut dr Lahargo juga dapat mencegah kecanduan digital sejak dini. Menurutnya, algoritma media sosial saat ini memang dirancang untuk membuat pengguna terus membuka aplikasi.

Karena sistem kontrol anak masih belum berkembang, ini bisa memicu penggunaan media sosial berlebihan yang berdampak pada kualitas tidur, konsentrasi belajar, hingga relasi sosial di dunia nyata.

"Secara psikologis, menunda penggunaan media sosial sampai usia yang lebih matang bisa membantu perkembangan emosi dan identitas diri yang lebih sehat," ungkap dr Lahargo.

Tidak Cukup Cuma Membatasi Akses

Meski pembatasan media sosial memberikan dampak yang baik untuk anak dan remaja, menurut dr Lahargo kebijakan ini juga memiliki sejumlah potensi tantangan.

Salah satunya terkait proses adaptasi yang mungkin akan sulit dijalani anak dan memengaruhi psikologis. Bagi sebagian besar remaja saat ini, media sosial sudah menjadi bagian hidup mereka.

Komunikasi yang dijalin kebanyakan dilakukan melalui media sosial.

"Jika tiba-tiba dibatasi, mereka bisa merasa kehilangan ruang komunikasi dengan teman," ungkap dr Lahargo.

"Kedua, risiko munculnya 'akses sembunyi-sembunyi'. Jika aturan terlalu ketat tanpa edukasi, anak mungkin mencari cara untuk mengakali aturan, misalnya menggunakan akun orang lain atau identitas palsu," sambungnya.

Oleh karena itu, menurut dr Lahargo kebijakan ini seharusnya tidak cukup hanya berupa larangan. Namun, juga harus disertai edukasi literasi digital dan pendampingan orang tua.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pemerintah Bakal Batasi Sosmed untuk Anak, Efektif Jaga Mental Health?"