![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/sveta_zarzamora |
Tak jarang, puasa menjadi momentum untuk sekaligus menurunkan berat badan. Salah satunya dengan menerapkan menu sahur yang rendah karbohidrat atau low-carbo.
Sah-sah saja, karena memang salah satu manfaat berpuasa adalah memangkas porsi dan frekuensi makan. Namun yang terpenting, komposisi nutrisi yang ideal tetap harus dipenuhi.
Pakar penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, tetap menyarankan komposisi ideal yang mencakup kabohidrat, protein, dan lemak.
"Karbohidrat sekitar 40 persen, kemudian juga protein ya sekitar 10-15 persen. Ya sisanya lemak 20-30 persen, idealnya seperti itu," ucapnya, ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).
"Tapi memang kalau untuk orang yang memang mau diet, memang dikurangi karbohidratnya. Karena sejatinya saya bilang orang berpuasa ini kan mengurangi asupan karbohidrat," sambungnya.
Di dalam tubuh, karbohidrat merupakan sumber karbohidrat utama. Ketika asupan karbohidrat dipangkas, maka tubuh akan mencari sumber energi lain yakni lemak.
Karena itu, diet rendah karbohidrat diimbangi dengan tinggi lemak. Menurut Prof Ari, cara ini berisiko.
"Dulu kan pernah ada diet keto, itu nggak bagus. Kenapa? Karena lemak tinggi," tutur dia.
"Akhirnya orang banyak yang kurus, tapi kena batu empedu gitu," pungkasnya.
Dibanding meningkatkan asupan lemak, Prof Ari lebih menyarankan untuk memperbanyak sumber protein.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Niat Sahur Low-carb Biar Kurus? Bisa Banget, Tapi Awas Salah Menu Malah Batu Empedu"
