![]() |
| Puasa dengan gangguan fungsi ginjal, apakah aman? Foto: Getty Images/Alena Butusava |
Puasa Ramadan mengharuskan seseorang untuk membatasi asupan makan dan minum selama belasan jam. Bagi yang punya gangguan pada ginjal, maka hal ini perlu jadi perhatian.
Praktisi kesehatan, Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K), menjelaskan bahwa pasien dengan gangguan fungsi ginjal perlu berhati-hati saat berpuasa. Terutama jika nilai fungsi ginjalnya sudah menurun cukup signifikan.
Fungsi ginjal umumnya diukur menggunakan parameter yang disebut glomerular filtration rate (GFR), yakni angka yang menunjukkan seberapa baik ginjal menyaring limbah dan cairan dari darah.
Berdasarkan pedoman Internasional Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO):
- GFR ≥ 90 mL/menit/1,73 m² → fungsi ginjal normal
- 60-89 → penurunan ringan
- 30-59 → penurunan sedang
- 15-29 → penurunan berat
- < 15 → gagal ginjal tahap akhir
Semakin rendah angkanya, semakin berat gangguan fungsi ginjal. Artinya, ketika angka GFR semakin menurun, kemampuan ginjal menyaring limbah dan cairan dari darah juga semakin terganggu.
GFR di Bawah 40, Perlu Waspada Saat Puasa
Prof Nur menegaskan, ketika GFR sudah turun hingga di bawah 40, pasien umumnya tidak dianjurkan berpuasa tanpa pengawasan medis ketat.
"Yang paling berbahaya pada gangguan fungsi ginjal adalah kalau kekurangan cairan," ujarnya.
Saat berpuasa, tubuh tidak mendapat asupan cairan selama berjam-jam. Pada orang dengan fungsi ginjal normal, kondisi ini biasanya masih bisa ditoleransi. Namun pada pasien dengan gangguan ginjal, dehidrasi dapat menurunkan aliran darah ke ginjal, mengganggu proses penyaringan, bahkan mempercepat penurunan fungsi ginjal.
Ginjal membutuhkan aliran darah yang stabil untuk bekerja optimal. Jika cairan tubuh berkurang drastis, tekanan darah bisa turun dan beban kerja ginjal meningkat. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat memicu perburukan akut pada ginjal yang sudah lemah.
Bagaimana dengan GFR di Bawah 15?
Pasien dengan GFR di bawah 15 mL/menit/1,73 m² tergolong dalam gagal ginjal tahap akhir. Pada tahap ini, pasien biasanya membutuhkan terapi pengganti ginjal seperti dialisis (cuci darah) atau transplantasi.
Dalam kondisi tersebut, puasa umumnya tidak dianjurkan karena risiko dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit bisa membahayakan.
Tips Aman Puasa untuk Kesehatan Ginjal
Bagi individu yang dinyatakan aman berpuasa, kecukupan cairan menjadi hal yang sangat penting. Prof Nur menekankan bahwa yang terpenting bukan membagi waktu minum secara merata, melainkan memastikan total cairan harian terpenuhi.
"Kalau cerita minum, yang penting bukan waktunya dibagi rata, tetapi total minum kita," ujarnya.
Menurutnya, saat berbuka puasa cairan dapat dikonsumsi lebih banyak, kemudian dilanjutkan secara bertahap hingga malam hari. Namun, ia menyarankan agar tidak minum terlalu banyak menjelang tidur. Saat sahur, asupan cairan kembali perlu ditingkatkan agar tubuh memiliki cadangan selama berpuasa.
Mengenai jumlahnya, kebutuhan cairan tidak selalu harus lebih dari dua liter untuk semua orang. "Tergantung umur. Kalau makin tua, 1.500 mililiter cukup. Kalau dua liter itu sebenarnya sedikit, satu botol besar 1,5 liter ditambah satu botol kecil sudah cukup," jelasnya.
Prof Nur juga mengingatkan bahwa dalam ajaran agama, ibadah diperuntukkan bagi mereka yang dalam kondisi sehat. Pasien dengan gangguan ginjal yang sudah signifikan tidak perlu memaksakan diri berpuasa dan dapat menggantinya sesuai ketentuan agama.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk memeriksa kadar ureum dan kreatinin guna mengetahui nilai GFR sebelum memutuskan berpuasa. Jika hasilnya menunjukkan fungsi ginjal telah menurun di bawah batas aman, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Memahami kondisi ginjal sebelum Ramadan menjadi langkah penting agar ibadah tetap aman tanpa mengorbankan kesehatan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tips Puasa 'Ramah' Ginjal, Hati-hati Jika GFR Tinggal Segini"
