![]() |
| Kandungan susu segar 50 persen, apa artinya? Foto: iStock |
'Susu Sekolah Program MBG' kembali jadi bahan perbincangan di media sosial. Sejumlah warganet mengaku menemukan produk tersebut dijual di minimarket, padahal pada kemasannya tertulis jelas bahwa susu itu tidak untuk diperjualbelikan. Temuan ini langsung memancing berbagai komentar dan rasa penasaran publik.
Di tengah ramainya pembahasan itu, ada satu detail pada label yang juga bikin 'salfok' alias salah fokus. Pada komposisi tertulis bahwa susu tersebut mengandung 50 persen susu segar. Artinya hanya separuh isi kemasan yang benar benar berasal dari susu sapi segar. Lalu sebenarnya apa bedanya dengan susu yang benar-benar 100 persen berasal dari susu segar?
Di pasaran, ada berbagai jenis susu yang dijual. Ada produk yang benar-benar berasal dari susu segar, susu rekombinasi, dan ada pula yang dibuat melalui proses yang disebut rekonstitusi.
Susu segar pada dasarnya adalah susu yang langsung berasal dari perahan sapi dan kemudian diproses agar aman dikonsumsi, biasanya melalui metode pasteurisasi atau sterilisasi. Proses ini bertujuan membunuh bakteri berbahaya tanpa banyak mengubah komposisi alaminya.
Sementara itu, susu rekombinasi dibuat dengan cara mencampurkan kembali padatan susu yang sudah diproses sebelumnya. Misalnya susu bubuk yang dilarutkan dengan air yang kemudian ditambahkan bahan lain seperti lemak susu, gula, atau bahan lain untuk membentuk kembali minuman yang menyerupai susu segar.
Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut proses ini sebagai recombined milk, yaitu susu yang dibuat dari bahan susu seperti susu bubuk, lemak susu, atau protein susu yang dicampur kembali dengan air dalam proporsi tertentu.
Dalam praktiknya, produk minuman susu yang mencantumkan persentase tertentu dari susu segar sering kali merupakan campuran antara susu dengan bahan lain, baik air maupun padatan susu yang telah diproses sebelumnya.
Beda Kandungan Gizi Susu Segar dan Susu Rekombinasi
Sekilas keduanya terlihat sama. Warnanya putih, rasanya mirip, dan sama sama berbentuk cair. Namun jika melihat komposisinya lebih dekat, ada perbedaan yang cukup jelas antara susu segar dan susu rekombinasi.
Susu segar pada dasarnya sudah mengandung air dalam jumlah besar secara alami. Sekitar 85 hingga 90 persen susu sapi sebenarnya adalah air. Sisanya terdiri dari zat gizi seperti protein, lemak susu, gula alami berupa laktosa, serta berbagai vitamin dan mineral penting seperti kalsium, fosfor, dan vitamin B.
Dalam susu sapi murni, biasanya terdapat sekitar 3-7 gram protein, sekitar 4-7 gram lemak, serta kalsium sekitar 100 miligram. Gula yang terkandung juga adalah gula alami yaitu laktosa. Komposisi ini terbentuk secara alami dan telah lama dikenal sebagai salah satu sumber nutrisi penting, terutama untuk pertumbuhan tulang.
Sementara itu, susu rekombinasi dibuat dengan cara mencampurkan kembali komponen susu yang telah diproses sebelumnya, misalnya susu bubuk, dengan air hingga kembali menjadi susu cair. Dalam proses ini produsen menyesuaikan jumlah air dan bahan susu agar komposisinya mendekati susu cair pada umumnya.
Pada produk susu sekolah program MBG, komposisi yang tercantum pada label menunjukkan sekitar 50 persen susu segar dan sekitar 49 persen susu rekombinasi. Artinya sebagian besar isi minuman tetap berasal dari bahan susu, hanya saja sumbernya terdiri dari susu segar dan susu yang dikombinasikan ulang dari padatan susu, air, dan lemak.
Meski demikian, beberapa produk susu campuran dari susu segar dan susu rekombinasi biasanya menambahkan kembali vitamin, mineral, lemak, protein, dan zat gizi lainnya melalui proses fortifikasi untuk membantu menyesuaikan nilai gizinya hingga setara dengan susu segar.
Kenapa 'Susu Sekolah Program MBG' Tidak Pakai Susu Segar 100%?
Penggunaan susu campuran dari susu segar dan susu rekombinasi sebenarnya bukan hal baru dalam program pangan berskala besar. Pendekatan ini cukup umum digunakan ketika produk harus diproduksi dalam jumlah sangat besar dan didistribusikan secara luas. Salah satu pertimbangan utamanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku susu segar di dalam negeri.
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan oleh Badan Gizi Nasional, disebutkan bahwa produksi susu segar dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan susu segar nasional. Artinya sebagian besar kebutuhan susu segar di Indonesia masih bergantung pada pasokan dari luar negeri. Bahkan sebelum program Makan Bergizi Gratis berjalan, sekitar 80 persen kebutuhan susu di Indonesia sudah dipenuhi melalui impor.
Kondisi ini membuat penggunaan susu rekombinasi menjadi salah satu solusi yang sering dipakai dalam industri pangan. Susu rekombinasi biasanya dibuat dari komponen susu seperti susu bubuk yang kemudian dilarutkan kembali dengan air, lalu dicampur dengan susu segar dalam proporsi tertentu sehingga kandungan gizinya setara dengan susu segar. Cara ini memungkinkan produksi minuman susu dalam jumlah besar tanpa sepenuhnya bergantung pada pasokan susu segar.
Produk susu sekolah dalam program MBG juga masih berada dalam koridor regulasi pangan yang berlaku. Produk tersebut mengacu pada ketentuan Peraturan BPOM Nomor 13 Tahun 2023 tentang Kategori Pangan yang diterbitkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Dalam regulasi tersebut, pada kategori 01.1.2 Susu Cair Plain, terdapat jenis produk Susu Lemak Penuh Rekombinasi, yaitu susu cair yang dibuat dari rekombinasi bahan susu seperti susu bubuk atau komponen susu lainnya yang kemudian dibentuk kembali menjadi minuman susu dengan karakteristik dasar kadar lemak susu tidak kurang dari 3%, total padatan susu bukan-lemak tidak kurang dari 7,8%, dan kadar protein tidak kurang dari 2,7%.
Dengan kata lain, penggunaan susu yang berasal dari kombinasi susu segar dan susu rekombinasi seperti pada susu sekolah program MBG masih sesuai dengan klasifikasi produk susu yang diatur dalam regulasi BPOM tersebut.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gaduh Susu MBG di Minimarket, Netizen Salfok 'Kandungan Susu Segar 50 Persen'"
