![]() |
| Hidrasi setelah olahraga. Foto: iStock |
Tren lari atau jogging makin ramai, unggahan di media sosial dipenuhi rute, pace, sampai berkeringat dianggap sebagai pencapaian. Banyak yang mulai lari bukan karena rencana panjang, tapi karena dorongan melihat teman. FOMO yang satu ini terasa positif.
Di balik euforia itu, ada satu momen yang sering ditanyakan. Setelah lari selesai, minum air mineral apa ya yang paling pas? Air dingin, air biasa, atau air hangat?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih mana yang paling enak. Tubuh punya kebutuhan yang berbeda tergantung kondisi setelah lari.
Keadaan Tubuh Setelah Lari
Setelah sesi lari, tubuh sebenarnya sedang bekerja cukup keras untuk kembali ke kondisi normal. Dalam jurnal Nutrients tahun 2019 berjudul Practical Hydration Solutions for Sport, dijelaskan bahwa tubuh kehilangan cukup banyak cairan lewat keringat. Suhu inti tubuh juga meningkat selama aktivitas.
Kondisi ini membuat volume cairan dalam tubuh menurun. Jantung harus bekerja lebih ekstra untuk menjaga aliran darah tetap stabil. Di saat yang sama, tubuh juga sedang berusaha membuang panas berlebih agar suhu kembali seimbang.
Di titik ini, minum bukan sekadar menghilangkan haus. Rehidrasi jadi bagian penting dari proses pemulihan. Jenis air yang dipilih bisa memengaruhi seberapa nyaman dan efektif tubuh kembali ke kondisi semula.
Air Hangat
Air hangat sering terasa seperti pilihan yang tidak biasa setelah olahraga. Banyak yang justru menghindarinya karena dianggap kurang menyegarkan.
Padahal, penelitian dalam Journal of Physiological Anthropology tahun 2022 menunjukkan bahwa air hangat bisa lebih nyaman di lambung, terutama di fase awal setelah olahraga. Proses pengosongan lambung juga bisa berjalan lebih lancar dalam kondisi tertentu.
Sensasi ini biasanya terasa pada orang yang perutnya sensitif atau mudah tidak nyaman setelah aktivitas fisik. Air dingin kadang terasa terlalu "mengejutkan" bagi lambung yang sedang dalam kondisi aktif.
Pilihan ini terasa lebih pas saat tubuh tidak terlalu panas atau ketika kebutuhan utama bukan menurunkan suhu, melainkan menenangkan sistem pencernaan yang masih beradaptasi setelah lari.
Air Biasa
Air suhu ruang sering jadi pilihan paling netral. Tidak terlalu dingin, tidak juga hangat.
Dalam rekomendasi dari American College of Sports Medicine, minuman dengan suhu sejuk sekitar 15 sampai 21 derajat celsius dianggap nyaman untuk diminum setelah olahraga. Suhu ini membuat air lebih mudah dikonsumsi dalam jumlah cukup tanpa rasa tidak nyaman.
Setelah lari, tubuh butuh cairan dalam jumlah yang cukup, bukan hanya beberapa teguk. Air biasa membantu proses ini karena terasa ringan dan mudah diminum berulang kali.
Pilihan ini cocok untuk kebanyakan orang yang selesai jogging dengan intensitas ringan sampai sedang. Fokusnya ada pada mengganti cairan yang hilang secara bertahap tanpa membebani tubuh.
Air Dingin
Air dingin sering jadi favorit setelah lari, terutama saat cuaca panas. Sensasi segarnya langsung terasa dan membantu tubuh menurunkan rasa panas dari dalam.
Penelitian dalam Frontiers in Sports and Active Living tahun 2025 menunjukkan bahwa pada kondisi panas, air dengan suhu sekitar 5 derajat celsius membantu menahan kenaikan suhu inti tubuh lebih baik dibanding air suhu biasa.
Efek ini terasa lebih jelas saat lari dilakukan di bawah terik matahari atau dalam durasi cukup lama. Tubuh membawa beban panas lebih tinggi sehingga efek pendinginan dari air dingin menjadi lebih terasa.
Manfaat ini tidak selalu sama di semua kondisi. Pada lari santai di pagi hari dengan suhu lingkungan yang tidak terlalu panas, efek pendinginan dari air dingin tidak terlalu dibutuhkan. Pada sebagian orang, air dingin juga bisa terasa kurang nyaman di tenggorokan atau perut.
Air dingin lebih tepat diminum saat tubuh benar benar terasa panas, keringat keluar banyak, dan suhu tubuh masih tinggi setelah lari.
Kesimpulan
Setelah lari, tubuh berada dalam fase pemulihan yang butuh cairan cukup untuk mengganti yang hilang lewat keringat dan membantu menurunkan suhu tubuh. Pilihan suhu air sebenarnya bukan soal mana yang paling benar, tapi mana yang paling sesuai dengan kondisi tubuh saat itu.
Air biasa atau sejuk jadi pilihan paling aman dan praktis karena mudah diminum dalam jumlah cukup. Air dingin lebih membantu saat suhu tubuh dalam kondisi panas, terutama setelah lari di cuaca terik atau durasi yang lama. Air hangat terasa lebih nyaman bagi yang lambungnya sensitif atau saat tubuh tidak membutuhkan efek pendinginan tambahan.
Fokus utamanya tetap pada kecukupan cairan. Tubuh yang terhidrasi dengan baik akan lebih cepat kembali stabil, detak jantung perlahan turun, dan rasa lelah lebih cepat mereda.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Habis Olahraga, Minum Air Dingin atau Hangat? Ini Plus Minusnya"
