![]() |
| Foto: Shutterstock |
Fenomena 'demam olahraga viral' banyak diperbincangkan di media sosial. Mulai dari lari maraton dadakan, kelas HIIT ekstrem, hingga challenge workout intens, semuanya tampak menarik dan menyehatkan.
Dokter spesialis bedah saraf di Rumah Sakit Lamina dr. Mahdian Nur Nasution, Sp.BS mengatakan sebelum mengikuti tren tersebut disarankan agar setiap orang terlebih dahulu memahami kondisi tubuh dan teknik yang benar. Menurutnya, hal tersebut untuk meminimalisir risiko terjadinya cedera serius di tulang belakang.
"Banyak orang tergoda mengikuti tren tanpa memahami kondisi tubuh atau teknik yang benar. Akibatnya, bukannya semakin sehat, justru berujung pada saraf kejepit," kata dr. Mahdian dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/5/2026).
Apa Saja Olahraga yang Bisa Meningkatkan Risiko Saraf Kejepit?
Tidak semua olahraga berisiko, tetapi beberapa jenis yang sedang populer memang bisa meningkatkan kemungkinan terjadinya saraf kejepit jika dilakukan tanpa persiapan yang matang.
Latihan seperti HIIT dengan gerakan cepat dan intens dalam waktu singkat dapat memberi tekanan besar pada tulang belakang, terutama bila teknik tidak tepat. Aktivitas angkat beban berat juga berpotensi menekan saraf di area leher dan pinggang jika postur tubuh tidak dijaga dengan benar.
Selain itu, tren lari jarak jauh sering membuat pemula memaksakan diri tanpa latihan bertahap, sehingga terjadi tekanan berulang pada tulang belakang. Bahkan olahraga kompetitif seperti futsal, basket, atau padel dapat memicu cedera akut jika dilakukan secara mendadak tanpa pemanasan.
"Pada dasarnya, bukan jenis olahraganya yang berbahaya, melainkan kesiapan tubuh, teknik, dan pengaturan intensitas yang sering diabaikan," jelasnya.
Penyebab Olahraga Viral Malah Sebabkan Saraf Kejepit
Dia mengatakan fenomena olahraga viral sering kali mendorong seseorang berlatih tanpa pemahaman yang cukup, sehingga justru memicu cedera. Salah satu penyebab utamanya adalah overtraining yaitu kondisi ketika tubuh dipaksa beradaptasi terlalu cepat tanpa waktu istirahat yang memadai.
Selain itu, banyak orang hanya meniru gerakan dari media sosial tanpa bimbingan professional. Sehingga teknik yang digunakan tidak tepat dan berisiko menekan saraf.
"Kurangnya pemanasan dan pendinginan juga membuat otot menjadi kaku, sehingga lebih rentan cedera," tuturnya.
Dia mengatakan postur tubuh yang buruk saat berolahraga, terutama pada posisi tulang belakang yang tidak netral, turut memperbesar risiko saraf terjepit.
Ditambah lagi, kebiasaan memaksakan diri mengikuti tren tanpa mengenal batas kemampuan tubuh sering menjadi pemicu utama.
"Kondisi saraf kejepit biasanya ditandai dengan nyeri yang menjalar, kesemutan, mati rasa, hingga kelemahan otot, dan jika dibiarkan dapat berkembang menjadi lebih serius," ungkapnya.
Cara Mencegah Saraf Kejepit
Dia mengatakan agar tetap bisa mengikuti tren olahraga tanpa mengorbankan kesehatan, langkah pencegahan perlu dilakukan secara konsisten.
Memulai latihan secara bertahap menjadi kunci agar tubuh memiliki waktu beradaptasi dengan peningkatan intensitas. Teknik yang benar juga harus menjadi prioritas, sehingga penting untuk belajar dari sumber terpercaya atau didampingi tenaga profesional.
"Pemanasan dan pendinginan tidak boleh dilewatkan karena membantu mempersiapkan otot dan sendi sekaligus mengurangi risiko cedera," jelasnya.
Menjaga postur tubuh tetap ideal selama berolahraga sangat penting untuk melindungi tulang belakang dari tekanan berlebih. Selain itu, tubuh juga membutuhkan waktu istirahat yang cukup agar proses pemulihan berjalan optimal dan terhindar dari cedera akibat penggunaan berlebihan.
"Yang tidak kalah penting, selalu peka terhadap sinyal tubuh, karena rasa nyeri bukan tanda kemajuan, melainkan peringatan untuk berhenti. Dengan pendekatan yang tepat, risiko saraf kejepit dapat diminimalkan tanpa harus meninggalkan gaya hidup aktif," ungkapnya.
Jangan Ragu untuk Berkonsultasi dengan Dokter di Rumah Sakit Lamina
Jika Anda mulai merasakan nyeri pinggang, leher kaku, atau kesemutan setelah mengikuti tren olahraga viral, jangan menunda konsultasi dan pemeriksaan ke dokter. Penanganan dini dapat mencegah kondisi semakin parah.
Rumah Sakit Lamina menghadirkan solusi modern untuk saraf kejepit dengan teknologi minimal invasif dari Jerman, yaitu teknologi Joimax. Metode ini memungkinkan penanganan saraf kejepit tanpa operasi besar, tanpa sayatan besar, dan dengan waktu pemulihan yang jauh lebih cepat.
Keunggulan penanganan ini antara lain:
- Hanya satu titik kecil untuk jalan masuknya alat endoskopi
- Risiko komplikasi lebih kecil
- Waktu tindakan hanya 30-45 menit
- Pasien bisa kembali beraktivitas lebih cepat
- Prosedur dilakukan oleh tim dokter berpengalaman.
Melalui pendekatan yang lebih aman dan canggih, pasien tidak perlu lagi takut menjalani pengobatan saraf kejepit.
Jangan biarkan tren olahraga justru merusak kesehatan Anda. Jika mengalami gejala saraf kejepit, segera konsultasikan ke Rumah Sakit Lamina dan dapatkan penanganan yang tepat, cepat, dan modern tanpa operasi. Kesehatan tetap nomor satu, ikuti tren dengan bijak, bukan sekadar ikut-ikutan.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Olahraga Lari-Padel Berpotensi Picu Risiko Saraf Kejepit, Ini Cara Cegahnya"
