Hagia Sophia

03 May 2026

KKI Desak Regulasi Masa Pakai Galon

Foto: detikcom

Sebanyak 92% konsumen air minum dalam kemasan galon mengeluhkan masih beredarnya galon guna ulang lanjut usia atau 'Ganula'. Temuan ini merupakan hasil pengaduan konsumen yang disampaikan kepada Komunitas Konsumen Indonesia (KKI) melalui kanal di situs webnya.

"Dalam rangka memperingati Hari Konsumen Nasional pada 20 April, KKI merilis hasil pengaduan masyarakat yang kami tampung dari bulan Maret sampai bulan April tahun ini," ujar Ketua KKI, David Tobing dalam Press Conference "Pemaparan Tiga Tahun Pemantauan KKI terhadap Risiko Galon Guna Ulang Lanjut Usia (Ganula)" di Habitate, Jakarta, Kamis (30/4/2026).

"Hasilnya, ada 250 pengaduan konsumen dari tujuh kota besar (DKI Jakarta, Surabaya, Kediri, Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Depok)," imbuh David.

'Ganula' paling tua yang dilaporkan konsumen, menurut David, diproduksi pada 2015 atau berusia 11 tahun. Selain mengeluhkan masa pakai galon guna ulang tua, konsumen juga mempersoalkan kerusakan fisik galon, seperti kusam, kotor, berlumut, dan retak.

"Intinya, semakin tua usia galon, semakin beragam jenis keluhannya," papar David.

Faktor utama yang menyebabkan 'Ganula' masih beredar di pasaran adalah ketidakterbukaan informasi oleh produsen, padahal informasi adalah hak konsumen yang dijamin dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen.

Selain mencetak kode produksi galon di bagian dasar galon, sehingga sulit dilihat konsumen, menurut David, produsen tidak terbuka bahwa kemasan air minum, apa pun jenis plastiknya, memiliki batas masa pakai atau siklus guna ulang.

"Di website-nya, ada kok produsen besar yang mengakui bahwa kemasan air minumnya memiliki masa kedaluwarsa, tetapi mereka tetap menggunakan ulang," kata David.

Dalam pengaduan, sebanyak 92% konsumen mengaku belum pernah mendapatkan informasi tentang masa pakai galon guna ulang. Setelah mengetahuinya melalui advokasi oleh KKI, 83% konsumen merasa berhak mendapatkan galon berkualitas sementara 78% menuntut penggantian galon sebagai solusi atas keluhan mereka.

David menjelaskan pakar polimer dari Universitas Indonesia merekomendasikan masa pakai galon guna ulang selama 1 tahun atau 40 kali siklus guna ulang. Ini karena lebih dari itu, galon guna ulang berbahan plastik polikarbonat berisiko tinggi melepaskan zat kimia berbahaya Bisphenol A (BPA) ke dalam air minum, yang bisa menyebabkan berbagai persoalan kesehatan, seperti obesitas, diabetes, hingga gangguan reproduksi.

Rekomendasi ilmiah itulah yang mendorong KKI sangat memperhatikan persoalan 'Ganula' ini. Selama tiga tahun berturut-turut, KKI telah melakukan survei nasional pada 2024, investigasi toko kelontong di Jabodetabek pada 2025, dan membuka kanal pengaduan konsumen pada 2026. KKI juga telah menemui Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Foto: detikcom

"Menurut kami, dampak paparan BPA dari Ganula ini sangat signifikan, bisa mengancam kesehatan lebih dari 100 juta penduduk Indonesia," tegas David.

"Data BPS menunjukkan 34% rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum dari galon, itu berarti ada 26 juta rumah tangga, atau lebih dari 100 juta penduduk," jelas David.

Menyikapi hal ini, maka David mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan regulasi masa pakai galon guna ulang untuk melindungi kesehatan konsumen. Negara lain, seperti Uni Eropa, menurut David, sudah melangkah jauh lebih maju daripada Indonesia.

European Food Safety Authority (EFSA)-BPOM di Uni Eropa-bahkan telah melarang total penggunaan plastik polikarbonat yang mengandung BPA sebagai kemasan bahan pangan. Larangan itu akan berlaku efektif pada Juli 2026.

Sementara itu, BPOM RI baru mewajibkan pemasangan label BPA pada air minum dalam kemasan plastik polikarbonat. Kewajiban itu tertuang dalam Peraturan BPOM Nomor 6 Tahun 2024 tentang Label Pangan Olahan, dan itu pun baru akan berlaku pada 2028.

"Namun belum ada regulasi yang mengatur masa pakai galon guna ulang. Tanpa aturan itu, galon tua atau Ganula tetap akan beredar di masyarakat. Celah regulasi inilah yang dieksploitasi produsen untuk terus mendistribusikan Ganula yang seharusnya sudah tidak layak pakai," pungkas David.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Mayoritas Konsumen Keluhkan Galon Tua, KKI Desak Regulasi Masa Pakai Galon"