![]() |
| Siomay atau siomai. Foto: Getty Images/Sukarman karman |
Ikan sapu sapu kembali ramai dibicarakan setelah lima pria diamankan saat mengambil ikan sapu-sapu di bantaran anak Kali Ciliwung, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Daging ikan sapu-sapu itu disebut akan diolah menjadi siomai.
Secara teknis, ikan sapu sapu bisa dimakan. Namun yang jadi perhatian utama adalah habitatnya. Ikan ini hidup dan mencari makan di dasar perairan, tempat lumpur, sampah, dan limbah sering mengendap.
Jika ditangkap dari sungai perkotaan seperti aliran Kali Ciliwung, risiko cemaran lebih tinggi. Ikan bisa membawa bakteri, parasit, atau logam berat dari lingkungannya.
Jadi apakah ada risiko dan dampak kesehatan jika mengonsumsi ikan sapu-sapu?
1. Risiko Bakteri dan Parasit
Ikan sapu sapu hidup di dasar perairan dan mencari makan di area lumpur serta endapan, tempat berbagai kotoran dan mikroorganisme mudah berkumpul. Karena itu, ikan ini lebih rentan terpapar kontaminasi dari lingkungan tercemar.
Hasil penelitian terbaru juga datang dari hasil uji yang dibagikan akun TikTok ariefkamarudin. Sampel ikan sapu-sapu yang disebut diuji di Mutu International dilaporkan mengandung bakteri E. coli hingga 100 kali lipat lebih tinggi dari batas Standar Nasional Indonesia. E. coli sendiri sering menjadi penanda adanya kontaminasi fekal atau sanitasi lingkungan yang buruk.
Jika makanan mengandung E. coli tinggi dan masuk ke tubuh, dampaknya paling sering berupa diare, mual, muntah, kram perut, dan demam. Pada anak-anak, lansia, atau orang dengan daya tahan tubuh lemah, infeksi dapat menjadi lebih berat karena memicu dehidrasi dan gangguan pencernaan yang serius.
2. Adanya Kandungan Logam Berat
Studi dalam Jurnal Al Azhar Indonesia Seri Sains dan Teknologi tahun 2019 menunjukkan daging ikan sapu sapu dari Sungai Ciliwung wilayah Jakarta mengandung berbagai logam berat seperti arsenik, kadmium, kromium, merkuri, timbal, dan seng.
Logam berat dapat masuk ke sungai dari limbah industri, sampah, emisi kendaraan, hingga aktivitas rumah tangga. Karena ikan sapu-sapu hidup dekat sedimen dasar, paparan zat tersebut berpotensi lebih tinggi dibanding ikan yang hidup di kolom air atas.
Paparan logam berat sering tidak langsung menimbulkan gejala setelah satu kali makan. Namun konsumsi berulang dari sumber tercemar dapat membuat zat tertentu menumpuk perlahan di tubuh.
Dalam berbagai literatur kesehatan, timbal dikaitkan dengan gangguan saraf dan tekanan darah, sedangkan kadmium berhubungan dengan fungsi ginjal.
3. Risiko Keracunan Makanan karena Pengolahan Tidak Higienis
Ikan dari sungai tercemar membutuhkan proses pembersihan ekstra ketat. Jika isi perut, lendir, atau bagian tubuh yang terkontaminasi tidak dibersihkan sempurna, kuman masih bisa tertinggal saat diolah menjadi makanan.
Saat dijadikan produk seperti siomai, bakso ikan, atau olahan giling lain, kontaminasi bisa menyebar ke seluruh adonan. Jika pemanasan tidak merata, risiko keracunan makanan menjadi lebih tinggi.
4. Memicu Gangguan Pencernaan Berulang
Tubuh biasanya paling cepat memberi sinyal lewat saluran cerna. Konsumsi pangan yang kualitasnya buruk dapat memicu perut mulas, kembung, mual, muntah, atau diare dalam beberapa jam hingga beberapa hari.
Jika kejadian ini berulang, tubuh bisa kehilangan cairan dan elektrolit. Pada anak-anak dan orang yang imunnya sedang lemah, kondisi seperti ini lebih cepat menurunkan stamina dan meningkatkan risiko dehidrasi.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ikan Sapu-Sapu Dijadikan Siomai, Bahayakah Jika Dikonsumsi?"
