![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Andrei Vasilev |
Fenomena warga negara Indonesia (WNI) yang memilih berobat ke luar negeri, terutama ke Malaysia dan Singapura, masih menjadi tantangan besar bagi dunia medis tanah air. Data menunjukkan, setidaknya satu juta pasien asal Indonesia bepergian ke luar negeri setiap tahunnya untuk mendapatkan perawatan medis.
Spesialis penyakit dalam konsultan onkologi medis, dr Suyanto, SpPD menyayangkan besarnya "kebocoran" devisa negara akibat hal tersebut, padahal teknologi medis di Indonesia sudah sangat mumpuni.
Secara ekonomi, kerugian akibat eksodus medis ini sangat nyata. dr. Suyanto memperkirakan setiap pasien rata-rata menghabiskan sekitar 11.000 USD atau setara Rp 170 juta per kunjungan. Angka tersebut mencakup biaya medis, tiket pesawat, akomodasi, hingga biaya pendamping.
"Ini sangat mubazir. Mengapa pasien harus mengeluarkan biaya ekstra untuk ke luar negeri? Angka ini bisa jauh lebih tinggi bagi pasien kanker. Padahal, uang tersebut seharusnya bisa dialokasikan untuk pengobatan yang lebih optimal di dalam negeri," ungkapnya saat ditemui detikcom, Kamis (26/2/2026).
Mencari Kepastian Medis di Negara Tetangga
dr Suyanto menyoroti adanya ketimpangan kepercayaan yang cukup kontras antara jumlah populasi dan arus pasien. Ia merasa heran mengapa negara dengan populasi besar masih bergantung pada negara dengan populasi yang jauh lebih kecil untuk urusan kesehatan.
Menurutnya, salah satu alasan utama pasien memilih luar negeri adalah kebutuhan akan kepastian medis atau second opinion.
"Yang sedikit mengganggu saya adalah mengapa Indonesia dengan populasi 280 juta jiwa, pasiennya masih berobat ke negara yang populasinya hanya 30 juta seperti Malaysia atau Singapura," jelasnya.
Untuk mengatasi hal ini, dr Suyanto menekankan perlunya penerapan Tim Multidisipliner atau Multidisciplinary Team (MDT) di rumah sakit Indonesia. MDT adalah sebuah forum berbagai dokter spesialis duduk bersama untuk mendiskusikan satu kasus pasien secara komprehensif.
Berdasarkan pengalamannya bekerja di Inggris (UK), sistem MDT inilah yang membuat pasien merasa sangat yakin dengan rencana pengobatan mereka.
"Di UK tempat saya bekerja dulu, tim multidisipliner ini sudah menjadi standar. Semua dokter ahli berdiskusi bersama, sehingga pasien tidak perlu lagi pindah-pindah dokter secara mandiri untuk mencari kepastian," ucap dia.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Ahli Onkologi Soroti Fenomena Warga RI 'Eksodus' Medis ke Malaysia-Singapura"
