Hagia Sophia

11 March 2026

Ditemukan Bukti Asteroid Besar Pernah Hantam Bumi 6,3 Juta Tahun Lalu

Ilustrasi asteroid hantam Bumi. Foto: BBC Magazine

Para ilmuwan menemukan bukti baru bahwa sebuah asteroid besar pernah menghantam Bumi sekitar 6,3 juta tahun lalu. Jejak peristiwa kosmik tersebut ditemukan dalam bentuk fragmen kaca alami yang tersebar luas di wilayah Brasil.

Fragmen kaca ini dikenal sebagai tektit, yaitu material yang terbentuk ketika sebuah asteroid menghantam permukaan Bumi dengan energi sangat besar. Tabrakan tersebut melelehkan batuan di lokasi tumbukan, lalu material cair itu terlontar ke atmosfer sebelum mendingin dan jatuh kembali ke permukaan.

Dalam penelitian terbaru, para ilmuwan menemukan jenis tektit baru yang dinamakan geraisites, diambil dari wilayah Minas Gerais di Brasil tempat fragmen tersebut pertama kali ditemukan.

Penelitian ini dipimpin oleh Álvaro Penteado Crósta, profesor geologi dari Institute of Geosciences di State University of Campinas (UNICAMP), Brasil. Ia menjelaskan bahwa fragmen kaca tersebut ternyata tersebar jauh lebih luas daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Awalnya, geraisites hanya ditemukan di tiga lokasi di Minas Gerais. Namun penelitian lanjutan menunjukkan fragmen serupa juga muncul di negara bagian lain seperti Bahia dan Piauí. Hal ini membuat para peneliti memperkirakan area penyebarannya kini mencapai lebih dari 900 kilometer.

"Pertumbuhan area sebaran ini sepenuhnya konsisten dengan yang diamati pada lapangan tektit lain di dunia. Ukuran lapangan sangat bergantung pada energi tumbukan," kata Crósta, dikutip dari Science Daily.

Secara fisik, geraisites tampak seperti kaca hitam yang buram. Namun ketika terkena cahaya kuat, material tersebut dapat terlihat transparan dengan warna hijau keabu-abuan. Bentuknya pun beragam, mulai dari bulat, lonjong, hingga menyerupai tetesan cairan.

Bentuk-bentuk tersebut memberi petunjuk tentang proses terbentuknya. Saat material batuan yang meleleh terlontar ke atmosfer akibat tabrakan asteroid, ia bergerak sangat cepat sambil berputar di udara sebelum akhirnya mendingin dan membeku. Proses ini menghasilkan bentuk aerodinamis yang khas pada tektit.

Crósta menjelaskan bahwa pada permukaan fragmen juga terdapat rongga-rongga kecil. Rongga ini terbentuk ketika gas keluar dari material cair saat proses pendinginan berlangsung dengan sangat cepat.

"Rongga kecil ini merupakan jejak gelembung gas yang keluar saat material cair mendingin dengan cepat di atmosfer," jelasnya.

Analisis laboratorium juga menunjukkan bahwa geraisites memiliki kandungan silika yang tinggi serta kadar air yang sangat rendah. Komposisi ini merupakan ciri khas tektit yang terbentuk akibat tumbukan benda langit berenergi besar.

Meski bukti tabrakan asteroid sangat kuat, para ilmuwan hingga kini masih belum menemukan kawah tumbukan yang menjadi sumber terbentuknya geraisites. Hal ini sebenarnya bukan hal yang tidak biasa. Pada beberapa lapangan tektit di dunia, kawah asalnya juga belum berhasil ditemukan.

Para peneliti menduga kawah tersebut kemungkinan berada di wilayah Kraton São Francisco, salah satu bagian kerak benua paling tua di Amerika Selatan. Analisis isotop pada sampel tektit menunjukkan bahwa batuan sumbernya kemungkinan berasal dari granit benua yang sangat tua.

"Tanda isotop menunjukkan sumber batuan granit benua yang sangat tua. Ini sangat mempersempit wilayah kandidat lokasi tumbukan," kata Crósta.

Ke depan, para ilmuwan berencana menggunakan metode survei geofisika seperti analisis magnetik dan gravitasi untuk mencari struktur melingkar di bawah permukaan tanah yang mungkin merupakan sisa kawah asteroid tersebut.

Penemuan geraisites ini menambah bukti bahwa sejarah tabrakan asteroid di Bumi mungkin lebih kompleks dari yang selama ini diketahui. Banyak jejak tumbukan yang kemungkinan belum teridentifikasi, terutama di wilayah yang luas dan belum banyak diteliti.

























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Jejak Asteroid 6,3 Juta Tahun Lalu Tinggalkan Jejak Hamparan Kaca Raksasa"