![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/muratkoc |
Jagat media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh video viral yang memperlihatkan proses evakuasi mencekam seorang bayi perempuan berusia 1,5 tahun di Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Bayi berinisial LL tersebut dilaporkan mengalami hipotermia hebat saat diajak orang tuanya mendaki hingga ke kawasan Puncak Bondolan, Sabtu (11/4/2026).
Dalam rekaman video yang beredar luas, terlihat tim SAR gabungan dari Basarnas bergerak cepat memberikan pertolongan di tengah cuaca ekstrem. Bayi tersebut tampak terus menangis dan menunjukkan tanda-tanda kedinginan yang parah akibat suhu yang turun drastis.
"Suhu tubuhnya turun drastis, kondisi kritis. Tim Basarnas yang tengah siaga di event Semarang Mountain Race langsung bergerak cepat," ujar pihak Basarnas melalui pernyataan resmi di kanal YouTube @BasarnasOfficial yang kemudian viral menjadi perbincangan netizen.
IDAI: Anak Bukan Orang Dewasa Mini
Menanggapi insiden viral tersebut, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), mengingatkan para orang tua bahwa fisik anak kecil sangat berbeda dengan orang dewasa. Ia menekankan bahwa dalam kegiatan alam bebas, faktor keamanan anak harus menjadi prioritas utama (safety first).
"Kami dari sisi anak itu kan kita safety first. Anak-anak umur 1,5 tahun sangat mudah kehilangan panas dibandingkan dewasa. Jadi jaraknya jauh, belum lagi potensi hujan, lama, itu hal-hal yang harus dipikirkan sebelumnya," tegas dr Piprim saat diwawancarai detikcom, Senin (13/4/2026).
Ia sangat tidak merekomendasikan orang tua membawa balita ke lokasi yang berisiko membuat anak basah kuyup atau terpapar cuaca ekstrem.
"Tidak direkomendasikan membawa batita ke lokasi dengan potensi kehujanan, basah kuyup, atau kepanasan," tambahnya.
Jangan Paksa Anak Jadi 'Anak Gunung'
Sementara itu, Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, dr. Yogi Prawira, SpA Subs ETIA(K), menyoroti fenomena orang tua yang sering kali berasumsi bahwa anak akan otomatis kuat mendaki jika orang tuanya adalah pendaki.
"Secara prinsip, jangan orang tua berasumsi kalau ortunya naik gunung, anaknya jadi anak gunung," tutur dr. Yogi.
Dia menjelaskan bahwa secara biologis, anak-anak lebih rentan karena napas mereka lebih sering sehingga lebih cepat kehilangan cairan dan panas tubuh. Sebagai langkah edukasi bagi orang tua yang ingin mengenalkan alam pada anak, dr Yogi menyarankan prinsip start low go slow. Pendakian tidak boleh dilakukan secara mendadak ke gunung yang tinggi, melainkan harus melihat kesiapan dan kemampuan anak secara bertahap.
"Kalau mau mulai memperkenalkan dengan alam, start low go slow. Jangan mulai dari naik gunung yang tinggi. Pelan-pelan, lihat kemampuan si anak," jelas dr Yogi.
Dia juga mengingatkan bahwa di gunung tidak ada akses cepat ke rumah sakit, sehingga risiko hipotermia bisa berakibat fatal jika orang tua tidak siap melakukan penanganan darurat seperti teknik skin-to-skin.
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi publik, terutama bagi para orang tua pendaki, bahwa usia 2-3 tahun adalah fase yang sangat rentan. Keselamatan dan nyawa anak jauh lebih berharga daripada ambisi untuk membawa mereka ke puncak gunung.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Respons IDAI soal Viral Bayi 1,5 Tahun Hipotermia saat Dibawa Ortu Naik Gunung"
