![]() |
| Foto: GettyImages |
Hujan yang dialami Bumi saat ini sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sebuah fenomena cuaca paling ekstrem dalam sejarah planet kita yang dikenal sebagai Carnian Pluvial Event. Bukan berhari-hari atau berminggu-minggu, ini adalah periode di mana cuaca basah dan hujan mendominasi Bumi selama jutaan tahun.
Dikutip detikINET dari IFL Science, berikut adalah tujuh fakta menakjubkan mengenai peristiwa tersebut:
Peristiwa ekstrem ini dimulai sekitar 232 juta tahun silam. Bumi yang sebelumnya mengalami periode kekeringan panjang tiba-tiba diakhiri guyuran hujan sangat lebat dan terus-menerus. Kondisi basah ini tidak hanya terjadi dalam semalam, melainkan membentang menjadi sebuah periode yang berlangsung 1 hingga 2 juta tahun. Saat itu, hari yang diguyur hujan lebat adalah kepastian dan aturan alam, bukan anomali cuaca.
2. Benua Pangea dan Lautan "Sup Panas"
Saat peristiwa ini terjadi, Bumi tidak seperti sekarang. Seluruh daratan benua menyatu membentuk sebuah superbenua raksasa Pangea, yang secara geografis memang sangat rentan terhadap badai muson. Peneliti paleoekologi bernama Paul Wignall menjelaskan suhu air laut pada saat itu sangat tinggi hingga menyerupai "sup panas". Kondisi laut mendidih menghasilkan kelembapan udara sangat masif di atmosfer sebagai resep sempurna untuk badai muson tiada henti.
3. Dipicu Erupsi Gunung Berapi Raksasa
Berubahnya iklim kering menjadi hujan jutaan tahun bukan transisi musim panas biasa. Ilmuwan meyakini pemicu utamanya adalah serangkaian letusan gunung berapi yang luar biasa dahsyat. Letusan ini terjadi di wilayah geologis purba yang disebut Wrangellia Terrane, yang sisa-sisanya saat ini membentang di sepanjang pesisir Alaska dan British Columbia. Menurut ahli geosains Jacopo Dal Corso, puncak aktivitas vulkanik di Wrangellia ini terjadi bertepatan dengan periode Carnian tersebut.
4. Lonjakan Gas Rumah Kaca dan Pemanasan Global Ekstrem
Letusan raksasa di Wrangellia tidak hanya memuntahkan lava, tapi juga memompa gas rumah kaca, seperti karbon dioksida, dalam jumlah tak terbayangkan ke atmosfer. Dal Corso yang mempelajari jejak geokimia letusan tersebut menemukan ada efek masif pada atmosfer di seluruh dunia. Letusan ini mengacaukan kadar uap air di stratosfer dan memicu lonjakan pemanasan global yang sangat ekstrem.
5. Malapetaka bagi Makhluk Laut Purba
Perubahan iklim, pemanasan global, dan guyuran hujan yang tak henti membawa konsekuensi fatal bagi kehidupan saat itu. Bumi mengalami periode kepunahan yang meningkat tajam. Dampak paling mematikan sangat dirasakan makhluk laut purba. Spesies seperti amonoid, konodon, dan krinoid mengalami kepunahan massal akibat ketidakmampuan mereka beradaptasi dengan perubahan kondisi lautan yang drastis.
6. Karpet Merah Era Dinosaurus
Meskipun membawa kepunahan massal bagi banyak tanaman dan hewan herbivora kunci di daratan, Carnian Pluvial Event jadi berkah kelompok hewan lain: dinosaurus. Menyusul musnahnya para pesaing ekologis, dinosaurus menjadi penerima manfaat utama di masa pemulihan Bumi.
Sebuah studi dari Journal of the Geological Society mencatat bahwa dinosaurus berkembang pesat dalam hal keragaman, dominasi ekologis, dan distribusi wilayah. Mereka menyebar dengan cepat dari yang awalnya di Amerika Selatan menuju ke seluruh benua.
7. Penemunya Sempat Ditertawakan
Bukti pertama fenomena ini ditemukan pada 1980-an oleh duo geolog asal Inggris, Alastair Ruffell dan Michael Simms. Mereka menemukan garis batu abu-abu (bukti kondisi basah) yang memotong lapisan batu merah (bukti kondisi kering) di Somerset, Inggris, serta bukti serupa di Jerman, AS, dan Himalaya.
Awalnya, teori ini diremehkan dan dianggap konyol akademisi senior. Namun seiring waktu, bukti baru terus menumpuk-seperti di Pegunungan Dolomites, Italia, di mana jejak dinosaurus tiba-tiba muncul berlimpah tepat di atas lapisan batu lumpur merah (menandakan berakhirnya periode hujan).
Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "7 Fakta Mencengangkan Carnian Pluvial Event: Bumi Hujan Jutaan Tahun"
