![]() |
| Foto: Muhammad Reevanza/detikfoto |
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membasmi sebanyak 6,9 ton ikan sapu-sapu di lima wilayah untuk dimusnahkan. Ikan ini dinilai invasif dan berisiko jika dikonsumsi manusia.
Salah satu bahaya yang sering dibicarakan masyarakat adalah risiko kanker di jika nekat mengonsumsi ikan sapu-sapu. Lantas, benarkah daging ikan ini menyimpan petaka seseram itu?
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok mengatakan ikan sapu-sapu liar di air tercemar berpotensi mengandung logam berat berbahaya dan bakteri patogen.
"Pada perairan yang tercemar, risiko kontaminasi logam berat sangat tinggi. Termasuk cemaran bakteri seperti E coli yang berbahaya jika dikonsumsi," beber Hasudungan beberapa waktu lalu.
Risiko kanker bisa terjadi bukan murni karena dagingnya, namun karena ikan sapu-sapu tersebut sudah terkontaminasi dengan beberapa kandungan berbahaya.
Ikan sapu-sapu liar, kemungkinan akan tercemar kandungan seperti Timbal (Pb), Kadmium (Cd), Merkuri (Hg), dan Arsen (As).
Logam berat tersebut diketahui dapat merusak organ tubuh seperti ginjal, hati, hingga sistem saraf, serta meningkatkan risiko kanker jika terakumulasi dalam waktu lama.
"Kalau ikan berasal dari sungai tercemar, sangat mungkin kandungan logam beratnya melebihi ambang batas aman. Konsumsi dalam jangka panjang bisa menyebabkan keracunan kronis," kata Hasidungan.
Dikutip dari laman Karolinska Institutet, Swedia, sebuah penelitian menunjukkan adanya kaitan antara asupan kadmium dalam makanan dan kanker payudara. Hasil penelitian, yang dipresentasikan secara daring di Cancer Research, didasarkan pada data dari lebih dari 55.000 wanita.
Sementara itu, Arsen, International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan arsenik (sebagai unsur tunggal) dan senyawa arsenik anorganik (termasuk arsenik trioksida, arsenit, dan arsenat) sebagai 'karsinogenik bagi manusia'.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Jakarta Basmi 6,9 Ton Ikan Sapu-sapu, Benarkah Berisiko Picu Kanker?"
