![]() |
| Foto: Getty Images/iStockphoto/Theerawan Bangpran |
Pemerintah menerapkan Nutri Level atau label warna gizi sebagai langkah awal untuk menekan konsumsi gula, garam, lemak (GGL) berlebih di masyarakat. Fokus tahap awal kebijakan ini adalah minuman siap saji, terutama minuman manis yang saat ini semakin populer dan dikonsumsi secara luas.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr Siti Nadia Tarmizi menjelaskan kebijakan ini lebih menekankan pada edukasi ketimbang pembatasan langsung. Menurutnya, konsumsi gula masyarakat Indonesia menunjukkan tren mengkhawatirkan. Hampir 30 persen masyarakat mengonsumsi gula melebihi kebutuhan harian, bahkan dalam satu kali minum, asupan gula bisa mencapai 50 persen dari batas harian yang dianjurkan.
"Konsumsi yang berlebihan dan terus-menerus akan meningkatkan faktor risiko penyakit tidak menular, seperti diabetes," kata dia saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan,
Ia menekankan bahwa gula bukan penyebab langsung, namun jika dikonsumsi secara berulang dalam jumlah tinggi, dapat memicu berbagai masalah kesehatan.
Konsep nutri level sendiri dirancang sederhana agar mudah dipahami masyarakat. Label ini menggunakan kode warna seperti hijau, kuning/oranye, dan merah. Warna hijau menandakan kandungan gula rendah, sedangkan merah menunjukkan kadar gula tinggi yang perlu diwaspadai. Dengan sistem ini, masyarakat diharapkan dapat membuat keputusan lebih bijak tanpa harus membaca tabel informasi gizi yang sering kali diabaikan.
Sejumlah merek minuman besar menjadi target awal implementasi kebijakan ini, seperti Chatime, Fore Coffee, Starbucks, hingga Kopi Kenangan. Hal ini karena perusahaan besar dinilai memiliki jangkauan luas serta kemampuan untuk melakukan penyesuaian, termasuk pengujian laboratorium dan pencetakan label produk.
Meski demikian, pemerintah menegaskan bahwa kebijakan ini belum bersifat wajib. Saat ini, proses masih berada pada tahap sosialisasi dan penyesuaian baik dari sisi industri maupun konsumen. Pemerintah juga berupaya menghindari perubahan drastis yang dapat membuat konsumen 'kaget' jika rasa produk tiba-tiba berubah akibat pengurangan gula.
Selain itu, dukungan terhadap pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) juga menjadi perhatian. Pemerintah membuka peluang bagi UMKM untuk ikut serta dalam program ini, meskipun tantangan seperti biaya pengujian laboratorium masih menjadi kendala yang perlu difasilitasi.
Dengan pendekatan bertahap ini, pemerintah berharap nutri level dapat menjadi alat edukasi efektif yang mendorong masyarakat mengurangi konsumsi gula secara perlahan, sekaligus menekan peningkatan kasus penyakit tidak menular di Indonesia.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sejumlah Gerai Jadi Sasaran Awal Label Nutri Level, Ada Kopi Susu Favoritmu?"
