Hagia Sophia

19 April 2026

Anak 7 Tahun Alami Komplikasi Berujung Kematian Akibat Campak Saat Bayi

Foto: Getty Images/wildpixel

Kasus tragis menimpa seorang anak laki-laki berusia 7 tahun di Amerika Serikat yang meninggal setelah mengalami komplikasi otak akibat penyakit campak. Kasus ini memicu kekhawatiran baru soal dampak jangka panjang penyakit yang sangat menular tersebut.

Bocah tersebut diketahui tertular campak saat berusia 7 bulan. Tetapi, saat berusia 6 tahun, ia mulai mengalami penurunan fungsi kognitif dan kejang.

Dokter kemudian mendiagnosisnya dengan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), gangguan otak langka yang dapat muncul bertahun-tahun setelah infeksi campak.

Penyakit ini biasanya diawali perubahan halus seperti gangguan memori, mudah marah, atau perubahan suasana hati. Seiring waktu, koordinasi dapat berkembang menjadi kejang otot, kehilangan koordinasi, kerusakan otak berat, koma, hingga hampir selalu berujung kematian.

Gejala SSPE umumnya muncul 6 hingga 10 tahun setelah infeksi awal.

Campak sendiri kerap diawali gejala mirip flu, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan mata berair, sebelum berkembang menjadi demam tinggi serta ruam merah yang menyebar ke seluruh tubuh.

Virus ini dapat bertahan di dalam tubuh dan mengalami mutasi tertentu yang kemudian memicu SSPE di kemudian hari.

"Campak itu seperti menetap di otak Anda dan menyebabkan perubahan pada tingkat seluler yang terjadi secara diam-diam," kata Sharon Nachman, kepala penyakit infeksi pediatrik di Children's Hospital of Orange Country di California, Amerika Serikat.

"Anda bisa saja terkena campak saat berusia 2 tahun, dan sekarang Anda kuliah, dan tiba-tiba otak Anda rusak dan Anda tidak memiliki masa depan," tambahnya, dikutip dari NYPost.

Secara statistik, sekitar 4 hingga 11 dari 100 ribu kasus campak menjadi SSPE. Risiko ini meningkat hingga 18 per 100 ribu, jika infeksi terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun.

Kasus serupa juga pernah terjadi, termasuk kematian anak usia sekolah di Los Angeles akibat komplikasi setelah terinfeksi campak saat bayi, sebelum memenuhi syarat vaksinasi.

Hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan SSPE. Pengobatan yang tersedia hanya dapat memperlambat perkembangan penyakit.

Meski kasus SSPE tergolong jarang, sekitar 4 hingga 5 kasus per tahun di AS, jumlahnya diperkirakan meningkat seiring lonjakan kasus campak.

Data menunjukkan, pada 2024 terdapat 2.242 kasus campak di AS, dengan 93 persen terjadi pada individu yang tidak divaksinasi atau status vaksinasinya tidak diketahui. Bahkan, tiga kematian terkait campak dilaporkan pada 2025.

Status vaksinasi bocah tersebut tidak diketahui. Tetapi, pencegahan paling efektif terhadap campak dan komplikasinya adalah vaksin MMR (measles, mumps, rubella), yang diberikan pertama kali pada usia 12-15 bulan dan dosis kedua sebelum anak masuk sekolah.

Sayangnya, tingkat vaksinasi MMR dan imunisasi rutin lainnya dilaporkan menurun sejak pandemi COVID-19, meningkatkan risiko kemunculan kembali wabah penyakit menular seperti campak.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kena Campak saat Bayi, Bocah 7 Tahun Alami Komplikasi Berujung Kematian"