![]() |
| Foto: iStock |
Bagi Mrinali Dhembla, usia 26 tahun seharusnya menjadi masa-masa indah untuk merencanakan pernikahan setelah ia baru saja bertunangan. Namun, impian itu seketika berubah menjadi mimpi buruk saat dokter mengucapkan kalimat yang tak pernah ia bayangkan, terkena kanker di usia muda.
Dhembla didiagnosis kanker rektum stadium 3 yang agresif. Kondisinya bahkan sudah cukup parah karena sel kanker tersebut telah menyebar hingga ke tulang belakangnya.
"Saat pertama kali mendengarnya, saya sangat terguncang. Di usia 20-an, Anda berpikir gangguan kecil pada pencernaan bukanlah hal besar dan Anda bisa melewatinya begitu saja," kenang Dhembla dikutip dari NYPost.
Gejala yang Sempat Diabaikan
Sebelum diagnosisnya jatuh, Dhembla mengakui bahwa dirinya sempat mengalami beberapa gejala fisik. Namun, karena usianya yang masih sangat muda, ia cenderung meremehkan tanda-tanda tersebut.
Beberapa gejala yang ia alami antara lain:
- Perdarahan rektal: Munculnya darah saat buang air besar.
- Demam ringan: Suhu tubuh yang sering naik meski tidak sedang flu.
- Sembelit kronis: Kesulitan buang air besar yang terjadi terus-menerus dan makin memburuk.
Belakangan baru diketahui melalui tes genetik bahwa Dhembla mengidap Lynch Syndrome. Ini adalah kondisi warisan genetik yang merusak sistem DNA repair dalam tubuh, sehingga kesalahan DNA menumpuk dan memicu kanker dengan sangat cepat.
Keajaiban Terapi Tanpa Operasi
Jika mengikuti prosedur standar, Dhembla harus menjalani operasi besar yang berisiko merusak saraf tulang belakangnya. Ia juga terancam harus menggunakan kantong kolostomi permanen seumur hidup untuk membuang kotoran.
Namun, ia mendapatkan kesempatan untuk mencoba terapi imunoterapi ganda (nivolumab dan ipilimumab). Terapi ini bekerja dengan melatih sistem kekebalan tubuh pasien untuk mengenali dan menghancurkan sendiri sel kankernya.
Hasilnya luar biasa. Hanya dalam waktu empat bulan dan tiga kali infus, hasil scan dan biopsi menunjukkan tidak ada lagi sisa penyakit di tubuhnya. Molekul sel kanker dalam darahnya turun drastis dari angka 300 menjadi nol. Pada Juli 2025, ia dinyatakan bebas kanker (cancer-free).
"Sistem kekebalan tubuhnya melakukan apa yang mungkin tidak bisa dilakukan oleh operasi, kemoterapi, dan radiasi," ujar dr. Nicholas Hornstein, pakar onkologi yang merawatnya.
Meski kini telah sembuh, Dhembla harus tetap menjalani pengawasan medis ketat setiap tiga bulan sekali. Ia dan pasangannya juga memilih menunda pernikahan agar ia bisa pulih sepenuhnya, baik secara fisik maupun mental.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kisah Gadis 26 Tahun Kena Kanker Rektum Stadium 3, Begini Gejala yang Dialami"
