Hagia Sophia

12 March 2026

Banyak Ditemukan Ikan Asin Berformalin di Jakarta, Kenali Cirinya

Ilustrasi ikan asin. Foto: Getty Images/iStockphoto/nectarina

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta menyoroti kondisi pangan yang dijual di pasar-pasar resmi. Berdasarkan pemeriksaan, masih ditemukan ikan asin mengandung formalin.

Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, menjelaskan bahwa pengawasan pangan segar dilakukan melalui sejumlah fasilitas laboratorium yang dimiliki pemerintah daerah.

"Jadi hasil dari pemeriksaan pangan segar di Provinsi DKI Jakarta yang diperiksa melalui tiga laboratorium, ada laboratorium perikanan, laboratorium peternakan, dan laboratorium pertanian, 99 persen itu boleh dikatakan aman. Tetapi masih ada memang temuan-temuan khususnya produk perikanan," jelasnya, Senin (9/3/2026).

Temuan yang masih muncul dalam pengawasan tersebut terutama berasal dari produk perikanan, khususnya ikan asin.

"Produk-produk perikanan seringkali kami temukan adalah ikan asin yang dicampur dengan formalin," ungkapnya, ditemui saat mendampingi kunjungan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar melakukan peninjauan di sebuah pusat grosir di Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Contoh produk pangan berbahaya yang ditampilkan BPOM. Foto: Aldrian/detikHealth

Apa Itu Formalin?

Formalin sebenarnya bukan bahan yang diperuntukkan bagi makanan. Zat ini merupakan larutan formaldehida yang lazim digunakan dalam dunia industri dan laboratorium, misalnya untuk mengawetkan jaringan biologis atau spesimen penelitian. Dalam konteks pangan, penggunaan formalin termasuk praktik ilegal karena dapat membahayakan kesehatan.

Secara kimia, formaldehida memiliki kemampuan mengikat protein pada jaringan. Ketika zat ini mengenai jaringan ikan, molekul formaldehida akan bereaksi dengan protein dan membentuk ikatan kimia yang membuat struktur jaringan menjadi lebih kaku dan stabil. Proses ini memperlambat aktivitas enzim serta pertumbuhan bakteri pembusuk yang biasanya mempercepat kerusakan makanan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Food Chemistry Advances (2023) menjelaskan bahwa formaldehida dapat menghambat aktivitas mikroorganisme pada produk perikanan dengan cara merusak protein sel bakteri. Mekanisme ini membuat bahan pangan terlihat lebih awet karena proses pembusukan menjadi jauh lebih lambat.

Efek tersebut yang kemudian dimanfaatkan secara tidak bertanggung jawab oleh sebagian oknum pedagang. Ikan asin yang seharusnya memiliki masa simpan terbatas bisa tampak lebih tahan lama, tidak mudah hancur, dan tetap terlihat kering meski disimpan dalam waktu lama.

Praktik ini menjadi perhatian dalam pengawasan pangan karena ikan asin merupakan salah satu lauk yang cukup sering dikonsumsi masyarakat Indonesia.

Apa yang Terjadi Jika Formalin Masuk ke Tubuh?

Formaldehida termasuk senyawa kimia yang bersifat iritatif dan dapat memicu efek toksik pada tubuh manusia. Ketika zat ini masuk ke dalam tubuh melalui makanan, jaringan yang pertama kali terkena dampaknya adalah saluran pencernaan.

Paparan formaldehida dapat menyebabkan iritasi pada lambung dan usus. Beberapa orang bisa mengalami keluhan seperti mual, nyeri perut, muntah, hingga diare setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bahan kimia ini. Reaksi tersebut terjadi karena formaldehida dapat merusak lapisan mukosa yang melindungi dinding saluran cerna.

Selain efek lokal di saluran cerna, formaldehida yang masuk ke dalam tubuh juga dapat memicu stres oksidatif, yaitu kondisi ketika radikal bebas meningkat dan merusak sel-sel tubuh. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal toksikologi tahun 2025 menunjukkan bahwa paparan formaldehida dapat memicu kerusakan sel melalui mekanisme oksidatif yang berhubungan dengan berbagai gangguan jaringan.

Dalam jangka panjang, paparan berulang terhadap formaldehida juga menjadi perhatian para peneliti kesehatan. World Health Organization (WHO) mengklasifikasikan formaldehida sebagai zat yang berpotensi karsinogenik pada manusia jika paparan terjadi terus-menerus dalam waktu lama.

Dalam proses metabolisme tubuh, formaldehida memang dapat diubah menjadi senyawa lain seperti formate melalui reaksi enzimatik. Namun jika paparan terjadi berulang atau dalam jumlah cukup tinggi, organ-organ yang berperan dalam proses detoksifikasi seperti hati dan ginjal dapat ikut terbebani karena harus bekerja lebih keras untuk memetabolisme zat asing tersebut.

Karena alasan inilah formalin sama sekali tidak diperbolehkan digunakan dalam makanan. Bahkan meski kadarnya dalam satu produk mungkin sedikit, paparan berulang dari berbagai sumber pangan dapat meningkatkan risiko kesehatan dalam jangka panjang.

Pengawasan Difokuskan ke Pasar yang Minim Pemantauan

Meski sebagian besar pangan segar di Jakarta dinilai aman, pemerintah daerah tetap meningkatkan upaya pengawasan. Hal ini dilakukan agar produk yang beredar di masyarakat tetap memenuhi standar keamanan pangan.

Perhatian selanjutnya akan diarahkan pada lokasi distribusi yang selama ini relatif luput dari pemeriksaan rutin. Pasar-pasar kecil di lingkungan permukiman sering kali memiliki jalur distribusi yang lebih informal sehingga potensi pengawasan menjadi lebih terbatas.

"Fokus selanjutnya adalah di lokasi-lokasi yang luput dari pengawasan, khususnya pasar-pasar mandiri atau pasar-pasar lingkungan," ujar Hasudungan.

Dengan memperluas jangkauan pemeriksaan hingga ke pasar lingkungan, pemerintah berharap potensi peredaran pangan yang tidak memenuhi standar dapat ditekan. Langkah ini juga bertujuan agar perlindungan konsumen tidak hanya terjadi di pasar besar atau pasar resmi, tetapi juga menjangkau tempat-tempat yang menjadi sumber belanja masyarakat sehari-hari.

Mengenali Ikan Asin yang Tidak Wajar

Selain pengawasan dari pemerintah, konsumen juga dapat berperan dengan lebih cermat saat memilih bahan pangan. Ikan asin yang mengandung formalin sering memiliki beberapa ciri yang berbeda dibandingkan produk yang diawetkan secara alami melalui proses penggaraman dan pengeringan.

Salah satu tanda yang sering diperhatikan adalah teksturnya yang sangat keras dan tidak mudah hancur ketika ditekan atau bahkan direndam. Ikan asin normal biasanya masih sedikit rapuh karena proses pengeringan alami, sedangkan ikan yang diberi formalin cenderung terasa lebih kaku.

Aroma juga bisa menjadi petunjuk. Ikan asin pada umumnya memiliki bau khas yang cukup kuat. Pada ikan yang mengandung formalin, aroma ini sering kali terasa lebih samar atau bahkan hampir tidak tercium.

Selain itu, warnanya kadang terlihat cerah dan bersih. Saat dimasak, teksturnya juga bisa terasa sangat kenyal dan tidak mudah rapuh seperti ikan asin pada umumnya.

Memperhatikan kondisi fisik produk serta membeli dari penjual yang terpercaya dapat membantu mengurangi risiko mengonsumsi pangan yang tidak aman. Kesadaran konsumen dan pengawasan pemerintah menjadi dua hal yang saling melengkapi untuk menjaga keamanan makanan menuju hari Raya Idul Fitri.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Dinas KPKP Masih Temukan Ikan Asin Berformalin di Jakarta, Kenali Bahayanya"