![]() |
| Foto: iStock |
Campak belakangan ramai disorot pasca Australia mengonfirmasi temuan kasus impor dari Indonesia, yakni pelaku perjalanan berusia 18 tahun dengan keluhan ruam. Hal ini memicu kekhawatiran kasus campak di Indonesia sebenarnya lebih banyak dibandingkan yang dilaporkan.
Menurut Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan RI, Andi Saguni, tren kasus suspek campak memang relatif meningkat bila dilihat dalam perbandingan laporan bulanan di tiga tahun terakhir.
Peningkatan bahkan mencapai lebih dari tiga kali lipat. Grafik Kemenkes RI menunjukkan di Januari 2024 'hanya' terdapat 2 ribu kasus suspek, terus meningkat di 5 ribu kasus pada Januari 2025, lalu melonjak di 7.060 kasus pada Januari 2026.
"Memang terjadi kenaikan jumlah kasus, dan kita badingkan year on year lebih tinggi di Januari 2026, Februari belum bisa kita nilai, tapi kalau sampai 23 Februari, angkanya mudah-mudahan tidak tinggi karena baru 1.164," sorot Andi dalam konferensi pers di Jakarta Kamis (26/2/2026).
"Namun poinnya di sini kita memang harus tetap aware dengan peningkatan kasus di bulan Januari, termasuk kasus-kasus di beberapa bulan terakhir 2025," tegas Andi.
Andi merinci, sepanjang 2025, tercatat 116 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 89 kabupaten/kota di 16 provinsi. Jumlah kasus suspek mencapai 63.760, dengan 11.094 di antaranya sudah terkonfirmasi laboratorium.
Dari seluruh kasus tersebut, terdapat 69 kematian. Angka kematian atau Case Fatality Rate (CFR) tercatat 0,1 persen. Menurut Andi, angka ini setara dengan CFR di negara-negara maju, termasuk di kawasan Eropa.
"CFR kita 0,1 persen, itu sama dengan negara-negara maju seperti Eropa dan lainnya," ujarnya.
Lima provinsi dengan KLB terbanyak sepanjang 2025 adalah Jawa Timur, Banten, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.
Memasuki 2026, tren KLB campak belum sepenuhnya mereda. Hingga minggu ke-7, tercatat 21 KLB campak di 17 kabupaten/kota pada 11 provinsi. Dari jumlah itu, 13 KLB sudah terkonfirmasi laboratorium di 9 kabupaten/kota di 6 provinsi.
Total kasus campak hingga minggu ke-7 tahun ini mencapai 8.224 kasus suspek. Sebanyak 572 kasus sudah terkonfirmasi laboratorium, dengan 4 kasus meninggal dunia.
CFR pada 2026 tercatat 0,05 persen. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan 2025 maupun standar 0,1 persen yang disebut setara dengan negara maju.
"Artinya secara fatalitas kita lebih baik," kata Andi.
Untuk 2026, lima provinsi dengan KLB terbanyak adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Suspek Campak RI Ngegas di Januari, Naik 3 Kali Lipat Lebih dalam Tiga Tahun Terakhir"
