![]() |
| Foto ilustrasi: iStock |
Warga di Inggris mulai khawatir pasca diserang wabah meningitis yang menyerang otak. Setidaknya ada 27 kasus yang tengah diselidiki hingga Kamis (19/3/2026), dengan 15 kasus terkonfirmasi.
Wabah tersebut juga menyebabkan dua kematian. Korban meninggal dunia dilaporkan merupakan seorang mahasiswa berusia 21 tahun dari University of Kent dan seorang siswi sekolah menengah (sixth former) dari Queen Elizabeth's Grammar School di Faversham.
Sampai saat ini, pimpinan kesehatan di Inggris belum dapat memastikan apakah wabah meningitis mematikan itu berhasil dikendalikan. Situasi ini memicu kecemasan, terutama di kalangan mahasiswa di wilayah Canterbury, Inggris.
Saat ini, penanganan terus dilakukan. Peringatan kesehatan darurat juga telah dikeluarkan agar tenaga medis mewaspadai gejala infeksi.
Sebanyak 20 kasus dugaan meningitis tengah diselidiki oleh Otoritas kesehatan Inggris (UKHSA). Menurut perwakilan pemerintah di Kent, Dr Anjan Ghosh, kasus meningitis yang dilaporkan semakin banyak.
"Namun, kasus-kasus ini kurang lebih masih terkait dengan periode waktu yang sama saat paparan awal terjadi," jelas Dr Ghosh, dikutip dari BBC.
"Kami juga memantau apa yang disebut sebagai penularan sekunder, yakni kasus yang kemudian menular ke satu atau dua orang lainnya. Kami perlu memastikan hal itu tidak terjadi sebelum bisa menyatakan wabah ini benar-benar terkendali," sambungnya.
Kondisi Terkini di Inggris Pasca Diserang Wabah Meningitis
Di tengah situasi ini, program vaksinasi massal mulai digelar di University of Kent dengan target sekitar 5.000 mahasiswa. Selain itu, lebih dari 8.400 antibiotik sebagai pencegahan juga telah diberikan.
Kepala eksekutif UKHSA Susan Hopkins menyebut pihaknya masih menyelidiki penyebab penyebaran yang begitu cepat di Canterbury. Ia mengatakan vaksin dari pemerintah akan digunakan untuk pasien NHS, termasuk mahasiswa di Kent, dan tidak menutup kemungkinan didistribusikan ke apotek.
Salah satu mahasiswi di Canterbury Christ Church University, Tyra Skinner (20), dilaporkan terinfeksi meningitis. Hal itu terjadi setelah ia menghadiri acara di klub malam Club Chemistry, dugaan sumber dari infeksi tersebut.
Ibunya, Candice Skinner, mengaku awalnya mengira Tyra hanya mengalami flu.
"Selama akhir pekan matanya mulai memerah dan saya pikir itu konjungtivitis. Namun ia semakin sakit, lemas, tidak bertenaga, jadi kami membawanya ke rumah sakit," terang Candice.
Tyra kini dalam kondisi stabil setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit William Harvey, Ashford.
Mahasiswa Mulai Cemas
Di kampus, suasana berubah drastis karena mahasiswa mulai membatasi aktivitas dan memilih tetap di kamar. Antrean panjang terlihat di lokasi pembagian antibiotik dan vaksin, sementara sebagian lainnya memilih meninggalkan kota.
Seorang mahasiswa, Kwatng, mengaku 'mengurung diri' di kamar sejak diumumkan adanya korban meninggal.
"Ini pertama kalinya saya keluar (kamar). Sangat sepi. Saya belum keluar sejak Minggu. Saya hanya di kamar."
Mohammed Olayinka, yang juga merupakan mahasiswa merasa kampusnya seperti 'kota mati'. Ia mengatakan sebagian mahasiswa memilih bertahan, sementara lainnya merasa panik dan mulai pergi.
Mahasiswi lainnya, Sophie, menyebut banyak temannya sudah pulang.
"Sekarang sangat sepi, sebagian besar teman kami sudah pulang, rasanya aneh. Kami hanya berdua yang tersisa di rumah dan hari ini kami juga akan pulang," katanya.
Gabriella Pitch juga mengaku panik saat pertama kali mendengar kabar wabah tersebut. Ia menyebut suasana kampus dipenuhi ketakutan.
"Orang-orang tidak keluar di kampus, terlihat kosong. Semua memakai masker dan terlihat ketakutan," ujar dia.
Menurutnya, para mahasiswa bahkan 'seperti melihat hantu' karena merasa ketakutan.
Dugaan Sumber Wabah Penyakit Otak
Wabah ini diduga berasal dari sebuah klub malam di Canterbury, Club Chemistry. Sang pemilik klub, Louise Jones-Roberts, mengatakan dua stafnya juga terinfeksi. Tetapi, saat ini kondisinya stabil.
"Orang-orang ketakutan. Ada banyak kecemasan. Klub sementara ditutup, tidak siap untuk buka kembali sampai kami yakin situasi sudah terkendali dan orang-orang aman," tuturnya.
Di tengah lonjakan kasus, vaksinasi terus digencarkan. Ratusan mahasiswa telah menerima dosis pertama, dengan dosis kedua dijadwalkan minimal empat minggu kemudian.
Permintaan vaksin di apotek juga meningkat, dengan sejumlah jaringan seperti Boots menerapkan sistem antrean dan Superdrug membuka daftar tunggu.
Meski langkah penanganan terus berjalan, otoritas kesehatan menegaskan masih diperlukan waktu untuk memastikan wabah benar-benar terkendali.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gaduh Warga Inggris Diserang Wabah Penyakit Otak, Ini yang Terjadi"
