Hagia Sophia

20 March 2026

Mengenal CAPD, 'Cuci Darah' Pasien Gagal Ginjal di Rumah

Foto: Getty Images/saengsuriya13

Bagi banyak pasien gagal ginjal tahap akhir, rutinitas cuci darah mesin (hemodialisis) sering kali dirasa melelahkan karena harus menghabiskan waktu berjam-jam di rumah sakit. Namun, kemajuan medis menawarkan alternatif yang lebih fleksibel melalui Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).

Berbeda dengan cuci darah mesin, CAPD memindahkan proses pembersihan racun langsung ke dalam tubuh pasien sendiri, menggunakan selaput perut sebagai penyaring alami.

Dalam sebuah diskusi kesehatan, para pakar menekankan bahwa CAPD bukan hanya soal kenyamanan, tapi juga soal menjaga fungsi organ tubuh lainnya. dr. Ni Made Hustrini, SpPD, K-GH, menjelaskan bahwa CAPD jauh lebih 'ramah' bagi jantung karena perpindahan cairannya terjadi secara perlahan dan terus-menerus selama 24 jam.

"Untuk peritoneal dialysis, pasien bisa melakikan sendiri cuci darahnya sementara kalau hemodialisis dia berhantung pada perawat. Jadi pasien akan diajari utk melakukan capdnya dengan baik sampai dia lulus jd bisa melakukan sendiri di rumah," ungkap dr. Ni Made dalam tayangan Youtube RSCM dikutip Selasa (17/3/2026).

"Dengan CAPD, pasien bisa mempertahankan fungsi berkemih lebih lama dibandingkan pasien hemodialisis. Jika pasien masih bisa kencing lebih lama, maka angka harapan hidup atau survival-nya pun akan lebih panjang," sambungnya.

Keunggulan utama CAPD yang sering dirasakan langsung oleh pasien adalah fleksibilitasnya. Karena dilakukan secara mandiri di rumah atau tempat aktivitas, pasien tidak perlu bolak-balik ke rumah sakit setiap minggu. Hal ini memberikan kemandirian fisik dan mental yang luar biasa.

Selain itu, batasan pola makan pun menjadi lebih longgar. Karena pembersihan racun terjadi setiap hari, risiko penumpukan zat berbahaya seperti kalium menjadi jauh lebih rendah. Pasien CAPD justru disarankan mengonsumsi banyak serat agar saluran pencernaan lancar, yang secara tidak langsung mendukung efektivitas penyaringan di perut.

Perbedaan CAPD vs Hemodialisis (HD)

Banyak pasien yang ragu berpindah dari HD ke CAPD karena faktor ketidaktahuan. Padahal, ada beberapa perbedaan signifikan yang menguntungkan pasien:
  • Tanpa Jarum Suntik: Jika HD mengharuskan penusukan jarum setiap sesi, CAPD hanya menggunakan kateter permanen yang terpasang di perut.
  • Diet Lebih Longgar: Pasien CAPD justru dianjurkan makan banyak serat dan buah-buahan untuk menjaga kelancaran pencernaan, hal yang biasanya sangat dibatasi pada pasien HD.
  • Stabilitas Fisik: Pasien HD sering merasa sangat lemas setelah sesi selesai karena racun dikuras secara agresif. Pada CAPD, kondisi tubuh cenderung lebih stabil karena racun dibuang secara bertahap setiap hari.
Prosedur CAPD Ditanggung BPJS

Dari sisi kebijakan nasional, pemerintah melalui BPJS Kesehatan sebenarnya telah memberikan dukungan penuh. Tarif CAPD telah diatur dalam skema yang mencakup seluruh kebutuhan logistik hingga biaya pengiriman alat ke rumah pasien.

Jika dibandingkan secara akumulatif, biaya CAPD cenderung lebih efisien dibandingkan hemodialisis yang memerlukan biaya operasional rumah sakit yang tinggi serta biaya transportasi pasien yang tidak sedikit.

Dari sisi pembiayaan, terapi CAPD juga telah diatur dalam Permenkes Nomor 3 Tahun 2023 sebagai Tarif Non-Indonesian Case Based Group (non INA-CBG) dengan besaran sekitar Rp8 juta per bulan. Tarif tersebut sudah mencakup bahan habis pakai, jasa pelayanan medis, serta distribusi logistik terapi ke rumah pasien.

Sebagai perbandingan, klaim BPJS Kesehatan untuk hemodialisis melalui skema INA-CBG berkisar Rp820 ribu hingga Rp1,2 juta per sesi, tergantung kelas rumah sakit dan wilayahnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Mengenal CAPD, 'Cuci Darah' Pasien Gagal Ginjal yang Bisa Dilakukan di Rumah"