![]() |
| Foto: Firda/detikcom |
Ramai terkait pemilik dapur program makan bergizi gratis (MBG) di Ponorogo menjadi sorotan. Dua Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bahkan mendatangi pejabat Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengadukan dugaan intimidasi yang mereka alami.
Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, mengungkapkan dua Kepala SPPG tersebut datang jauh-jauh dari Ponorogo ke Blitar, Jawa Timur, untuk meminta perlindungan.
"Mereka jauh-jauh datang ke Blitar untuk menemui saya karena minta perlindungan," kata Nanik dalam keterangannya.
Mengaku cucu menteri
Dua Kepala SPPG yang mengadu adalah Rizal Zulfikar Fikri dari SPPG Ponorogo Kauman Somoroto dan Moch Syafi'i Misbachul Mufid dari SPPG Ponorogo Jambon Krebet. Keduanya mengelola dapur MBG di bawah naungan Yayasan Bhakti Bhojana Nusantara.
Mereka mengaku selama berbulan-bulan mendapat tekanan dari pihak yayasan yang disebut-sebut dimiliki seseorang yang mengaku sebagai cucu salah satu menteri.
Menurut pengakuan keduanya, mereka bersama pengawas gizi dan pengawas keuangan kerap diintimidasi agar mengikuti berbagai kebijakan yayasan tersebut.
Dugaan rekayasa anggaran bahan pangan
Selain tekanan, keduanya juga mengungkap dugaan rekayasa pembelian bahan pangan. Dalam program MBG, anggaran bahan pangan ditetapkan sebesar Rp 10 ribu per porsi oleh BGN.
Namun, menurut pengakuan mereka, yayasan hanya membelanjakan sekitar Rp 6.500 per porsi. Kondisi itu membuat pengelola dapur terpaksa menutup kekurangan biaya dari uang pribadi agar makanan yang diberikan kepada siswa tetap layak.
"Mau nggak mau, Pak, saya kasihan sama adik-adik siswa penerima manfaat," beber Mufid.
Diancam polisi hingga diminta menandatangani pengusiran
Tekanan yang mereka alami disebut tidak hanya dalam bentuk instruksi operasional. Keduanya mengaku sempat ditakut-takuti akan didatangkan polisi atau pengacara jika tidak mengikuti keinginan yayasan.
Bahkan, relawan dan pihak sekolah penerima manfaat disebut diminta menandatangani dokumen untuk mengusir kedua Kepala SPPG tersebut.
Nanik menilai tindakan tersebut tidak manusiawi dan tidak pantas terjadi dalam pelaksanaan program pemerintah.
Mendengar pengaduan terkait, Nanik langsung menugaskan Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah II, Albertus Dony Dewantoro, bersama tim untuk melakukan inspeksi mendadak ke dua dapur MBG di Ponorogo.
Hasil sidak menunjukkan kondisi dapur tidak layak. Tim menemukan dapur kotor, berbau, serta belum memenuhi standar operasional SPPG.
Beberapa temuan di antaranya lantai dapur mengelupas, dinding berjamur dan keropos, ruang pemorsian yang tidak ber-AC, hingga fasilitas pekerja yang minim.
Selain itu, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) juga dinilai tidak memadai karena hanya menggunakan buis beton yang hampir meluap dan ditutup triplek tipis.
"Dapur-dapur ini sangat tidak layak untuk dilanjutkan," kata Brigjen Dony.
Dapur diminta ditutup
Menanggapi kondisi tersebut, Nanik mengaku sangat marah dan langsung memerintahkan agar operasional dapur dihentikan jika tidak ada perbaikan.
"Hentikan! Kalau perlu selamanya, kalau mereka tidak menunjukkan perbaikan sikap mereka kepada Kepala SPPG, Pengawas Gizi, dan Pengawas Keuangan," tegasnya.
Nanik juga mengaku telah menghubungi menteri yang disebut-sebut memiliki cucu tersebut. Sang menteri disebut menegaskan tidak memiliki cucu dengan nama yang diklaim sebagai pemilik dapur.
Bahkan, menteri tersebut meminta agar dapur tersebut ditutup jika ada pihak yang mengaku sebagai keluarganya untuk mendapatkan fasilitas program.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BGN Ancam Tutup Dapur MBG Viral Ngaku Cucu Menteri-Potong Budget Rp 6.500/Porsi"
