Hagia Sophia

26 February 2026

Ini yang Dikeluhkan Wanita yang Idap Kista 33 Cm

Wanita asal Surabaya mengidap kista berukuran 33 cm (Foto: _princessyun_/TikTok atas izin yang bersangkutan)

Kisah seorang wanita di Surabaya, Uun Yosie (27), menjadi sorotan setelah ia membagikan kisahnya mengidap kista berukuran 33 cm.

Dalam kasus ini, faktor utamanya berkaitan dengan perubahan genetik pada sel, namun bukan berarti diturunkan secara langsung dari orang tua.

"Selain itu pastinya pola hidup (stress level, jam tidur, olahraga, etc), pola makan/nutrisi, dan hormon juga mempengaruhi kenapa sel aku bisa error dan tumbuh jadi kista," kata Yosie, saat dihubungi detikcom, Jumat (20/2/2026).

Meski demikian, Yosie tidak bisa memastikan secara pasti kapan kista tersebut mulai tumbuh. Hal ini karena pada tahap awal, ukuran kista kemungkinan sangat kecil dan tidak menimbulkan gejala. Bahkan, sejak lama ia merasa perut bagian bawahnya lebih buncit dibandingkan perut atas, namun tidak menganggapnya sebagai tanda kondisi serius.

Gejala yang baru terasa jelas justru muncul saat usia 27 tahun, seperti perut kembung yang menetap, perut membesar hingga terasa keras, asam lambung yang mudah naik, serta hilangnya rasa lapar. Awalnya, ia mengira keluhan tersebut hanya disebabkan oleh stres dan gangguan pencernaan biasa.

"Aku lagi di masa penyembuhan. So far so good, I'm taking things slowly. Masih ada kontrol ke dokter. Nanti 3 bulan after aku operasi, aku bakalan ke Penang lagi untuk kontrol. Kistanya sudah diambil sekalian dengan ovariumnya," tuturnya lagi.

Selama masa pemulihan, Yosie memiliki pantangan olahraga selama tiga bulan dan hanya diperbolehkan berjalan kaki sebagai aktivitas fisik. Untuk pola makan, dokter tidak memberikan pantangan khusus.

Namun, sejak sebelum operasi ia memang sudah terbiasa menjaga pola makan dengan membatasi konsumsi gula, tepung, junk food, dan makanan ultra processed seperti sosis, mi instan, cokelat, soda, dan permen. Pola makan tersebut tetap ia lanjutkan setelah operasi sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tubuhnya.

Di sisi lain, spesialis obstetri dan ginekologi Dr dr Andon Hestiantoro, SpOG-KFER, membedakan kista menjadi beberapa jenis. Jika kista tersebut bersifat neoplastik (pertumbuhan sel abnormal yang murni karena faktor genetik atau seluler), gaya hidup biasanya tidak memegang peran utama. Namun, lain cerita berbeda jika terkait kista endometriosis.

"Gaya hidup itu biasanya berkaitan dengan endometriosis. Jadi kalau gaya hidup yang baik, olahraga yang teratur, asupan yang tidak tinggi kalori, bukan junk food, itu sebenarnya sudah dapat dimanfaatkan untuk menjaga timbulnya kista endometriosis," tuturnya saat diwawancarai detikcom ditulis Sabtu (21/2/2026).

Kaitan antara junk food dan kista endometriosis terletak pada sifat makanan tersebut yang memicu peradangan atau inflamasi sistemik. Dalam jurnal "Influence of Diet on the Risk of Endometriosis", makanan cepat saji umumnya tinggi akan lemak trans dan lemak jenuh yang menurut jurnal dapat meningkatkan kadar sitokin pro-inflamasi dalam tubuh.

Peradangan kronis inilah yang kemudian memperburuk kondisi jaringan endometrium dan memicu pertumbuhan kista cokelat atau kista endometriosis yang sering menimbulkan nyeri hebat.

Selain memicu peradangan, junk food yang kaya akan gula tambahan dan karbohidrat rafinasi dapat menyebabkan lonjakan kadar insulin dalam darah. Kondisi hiperinsulinemia ini dapat mengganggu keseimbangan hormon reproduksi. Berdasarkan studi dalam jurnal "Nutrition in the Management of Ovarian Cysts", kadar insulin yang tinggi dapat menstimulasi ovarium untuk memproduksi lebih banyak hormon androgen dan mengganggu regulasi estrogen.

Ketidakseimbangan hormon inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi tumbuhnya kista fungsional di ovarium.

Lebih lanjut, dr Andon menekankan bahwa menjaga berat badan melalui diet sehat bukan hanya soal estetika, tapi soal menjaga fungsi organ reproduksi. Penumpukan lemak tubuh akibat konsumsi kalori berlebih dari junk food dapat memicu obesitas sentral. Jaringan lemak ini sebenarnya aktif secara metabolik dan bisa memproduksi estrogen tambahan.

Jika kadar estrogen dalam tubuh terlalu dominan (estrogen dominance), risiko pertumbuhan kista jinak hingga tumor rahim akan meningkat secara signifikan.

Sebagai langkah preventif, dr. Andon menyarankan para perempuan untuk lebih selektif dalam memilih asupan harian. Mengganti junk food dengan makanan utuh (whole foods) yang kaya serat, antioksidan, dan omega-3 dapat membantu tubuh melawan stres oksidatif.

"Makanan sehat itu sebenarnya sudah dapat dimanfaatkan untuk menjaga (kesehatan reproduksi)," pungkas dr Andon.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Viral Wanita Surabaya Idap Kista Sebesar 33 Cm, Inikah Pemicunya?"