![]() |
| Ilustrasi (Foto: Shutterstock) |
Dalam beberapa tahun terakhir, hadir tren lari unik di beberapa kota saat bulan Ramadan, yaitu 'sahur run' atau berlari di bawah langit malam dan menutupnya dengan santap sahur.
Bagi komunitas lari, 'sahur run' merupakan momen yang dinanti setiap Ramadan tiba. Hal ini karena tren ini menawarkan suhu yang lebih dingin, dan pastinya suasana yang berbeda.
Menurut spesialis kedokteran olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO lari sebelum sahur memiliki keuntungan dan kekurangannya, sehingga setiap pelari harus cermat dalam memutuskan.
"Plusnya mungkin orang masih bisa makan minum sepuasnya ya, maksudnya nggak ada larangan makan minum gitu," kata dr Dhika saat dihubungi detikcom, Selasa (10/3/2026).
"Tapi yang jadi minusnya adalah, yang saya pribadi lihat, dia lari jam 2 pagi itu cukup nggak tidurnya sebelumnya?" sambungnya.
dr Dhika menambahkan, terkait risiko adanya risiko ke jantung atau paru-paru, mungkin tidak akan menjadi masalah jika dilakukan sesekali. Namun, jika 'sahur run'-nya naik level seperti mengikuti event dengan intensitas sedang ke tinggi, ini perlu menjadi perhatian.
"Kalau terkait masalah jantung apa segala macem, kalau cuma sesekali mungkin nggak gitu masalah lah. Tapi tadi, dalam kondisi orang kurang tidur, dipaksa untuk beraktivitas berat kan, ada resikonya ya," kata dr Dhika.
"Buat mereka yang punya masalah jantung bisa jadi muncul gitu. Terus juga belum bicara fokus berkurang, sehingga secara awareness akan lebih turun, jadi memang itu yang jadi nilai minus kali," sambungnya.
Pelari FOMO, Pikir Dua Kali Sebelum Ikut Event
Biasanya, 'sahur run' akan diubah formatnya menjadi sebuah event lari dengan jarak pendek seperti 5K dan 10K. Artinya, tetap butuh persiapan matang, jauh-jauh hari sebelum ambil racepack.
"Orang FOMO kan belum tentu tau gitu kebugaran jantung parunya gimana, bahkan apakah mereka punya masalah jantung apa nggak mungkin nggak tau, lari ya lari aja gitu," kata dr Dhika.
"Jadi dengan tadi si kurang tidur itu ya kan, ya sangat mungkin lebih muncul gitu, lebih tinggi probabilitas kena masalahnya gitu," sambungnya.
Dikonfirmasi terpisah, spesialis jantung dr Erika Maharani, SpJP(K) dari Indonesia Heart Rhythm Society (InaHRS) menegaskan bahwa olahraga malam sebelum sahur memang sebaiknya porsinya dikurangi, termasuk bagi mereka yang sebelumnya sudah aktif.
"Tapi jangan sampai badan lagi capek-capeknya, dipaksakan olahraga. Biasanya patokannya denyut (heart rate)," katanya, ditemui di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Yang terpenting menurut dr Erika, kebutuhan recovery juga perlu diperhatikan. Idealnya tidur malam lebih bermanfaat dibanding tidur siang, karena berkaitan dengan siklus hormonal.
"Sewaktu-waktu (menggeser waktu tidur) nggak apa-apa, kalau terus menerus berulang, otomatis hormonal di dalam tubuh juga akan berubah. Dan tentu hasilnya tidak akan bagus," pesannya.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Tren 'Sahur Run' Bisa Lebih Berisiko, Dokter Bagikan Plus Minusnya"
