![]() |
| Foto: Getty Images/Marcus Lindstrom |
Pemerintah Singapura mengambil langkah besar dalam memperkuat perawatan kesehatan preventif. Mulai Desember mendatang, warga Singapura yang berisiko tinggi terkena Kanker Payudara dan Ovarium Herediter (HBOC) akan mendapatkan akses ke subsidi tes genetik. Kebijakan ini diumumkan oleh Kementerian Kesehatan (MOH) Singapura sebagai bagian dari upaya memperluas implementasi kedokteran presisi.
Diberitakan CNA, langkah ini menyusul kekhawatiran data yang menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 150 warga Singapura membawa mutasi gen terkait HBOC. Mutasi ini secara drastis meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara hingga 60 persen dan kanker ovarium hingga 50 persen sepanjang hidup mereka, jauh lebih tinggi dibandingkan populasi umum yang risikonya masing-masing hanya sekitar 13 persen dan 2 persen.
Dalam skema baru ini, pasien warga negara Singapura dan penduduk tetap (Permanent Resident) yang memenuhi syarat dapat menerima subsidi berbasis kemampuan ekonomi (means-tested) hingga 70 persen untuk biaya tes genetik.
Bagi lansia dari generasi Pioneer dan Merdeka, pemerintah menyediakan tambahan subsidi di atas skema tersebut. Selain itu, sisa biaya yang tidak tertutup subsidi dapat dibayar menggunakan MediSave. Bagi mereka yang berusia 60 tahun ke atas, skema Flexi-MediSave juga dapat digunakan untuk meminimalkan biaya yang harus dibayar sendiri.
Menteri Kesehatan Singapura, Ong Ye Kung, menyatakan dalam parlemen bahwa setidaknya 2.000 individu diperkirakan akan memenuhi syarat untuk tes genetik HBOC setiap tahunnya.
"Bagi mereka yang ditemukan memiliki mutasi gen, akan ditawarkan intervensi pencegahan yang sesuai, seperti MRI payudara atau mamogram yang lebih sering, hingga penggunaan obat-obatan oral," jelasnya.
Terobosan lain yang diumumkan adalah perluasan cakupan asuransi nasional, MediShield Life. Selama ini, operasi pencegahan seperti mastektomi (pengangkatan payudara) memang disubsidi, namun tidak bisa diklaim melalui MediShield Life atau MediSave karena dianggap sebagai tindakan preventif, bukan kuratif.
Namun, MOH kini mengaburkan batas antara pencegahan dan pengobatan demi menyelamatkan lebih banyak nyawa dan menekan biaya jangka panjang.
"Jika individu berisiko tinggi tidak menjalani mastektomi preventif, dia memiliki peluang tinggi untuk membutuhkan pengobatan kanker yang lebih berat di masa depan," tambah Ong Ye Kung.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Menkes Singapura Subsidi Tes Genetik Kanker Payudara-Rahim Mulai Desember 2026"
