Hagia Sophia

14 March 2026

Gaya Hidup Bisa Memicu Mutasi Sel pada Kanker Ginjal Dewasa

Faktor risiko kanker ginjal. Foto: Getty Images/Alena Butusava

Gaya hidup dan pola makan tidak sehat disebut dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk kanker ginjal. Konsumsi ultra-processed food (UPF), makanan dengan pengawet, hingga produk tinggi pemanis sebaiknya dibatasi sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan tubuh.

Lantas, bagaimana sebenarnya peran gaya hidup terhadap munculnya kanker ginjal, khususnya pada usia dewasa?

Gaya Hidup Bisa Memicu Mutasi Sel pada Kanker Ginjal Dewasa

Konsultan hematologi anak, dr Nur Melani Sari, SpA, Subsp.HO(K), menjelaskan bahwa kanker pada usia dewasa umumnya berasal dari sel yang awalnya normal, tetapi kemudian mengalami perubahan atau mutasi. Mutasi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan gaya hidup.

"Kalau dewasa ini sel yang normal, kemudian mengalami mutasi-mutasi yang diprovokasi oleh gaya hidup," jelasnya pada seminar media yang digelar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) secara daring dengan tema "Kanker Ginjal pada Anak", Selasa (10/3/2026).

Ia menuturkan, berbagai kebiasaan yang kurang sehat dapat berkontribusi pada proses tersebut. Misalnya pola makan tinggi makanan olahan, konsumsi makanan dengan bahan pengawet dan pemanis berlebih, hingga kondisi kesehatan seperti hipertensi yang tidak terkontrol.

Meski tidak selalu secara spesifik memicu kanker ginjal, kebiasaan tersebut secara umum dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti obesitas, hipertensi, diabetes, hingga penyakit jantung. Beberapa kondisi tersebut juga diketahui dapat menjadi faktor risiko kanker ginjal, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.

Karena itu, penerapan pola hidup sehat tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko berbagai penyakit di kemudian hari.

Lantas, kebiasaan makan seperti apa yang sebaiknya mulai dibatasi untuk membantu menurunkan risiko tersebut?

Batasi UPF, Makanan Berpengawet, dan Pemanis

Menurut dr Nur pola makan sehari-hari harus diperhatikan. Ia menyarankan agar konsumsi makanan yang mengandung banyak bahan tambahan, seperti pengawet maupun pemanis, sebaiknya dibatasi.

Selain itu, konsumsi ultra-processed food (UPF) juga perlu dikurangi. Jenis makanan ini umumnya telah melalui proses pengolahan tinggi dan sering kali mengandung tambahan gula, garam, lemak, serta berbagai zat aditif.

"Kita harus mengurangi makanan-makanan yang mengandung pengawet, kemudian ultra processing food, kemudian pemanis," ujarnya.

Senada dengan itu, Prof Dr dr Nur Rasyid, SpU(K), dokter spesialis urologi, mengatakan prinsip dasar pola makan sehat sebenarnya cukup sederhana. Menurutnya, masyarakat sebaiknya menghindari makanan yang berlebihan kandungan gula, lemak, maupun garam.

"Kalau yang dihindari sudah pasti makanan yang membuat kita tidak sehat: manis berlebihan, lemak berlebihan, asin berlebihan. Itu saja sesederhana itu," ujarnya (14/02/2026).

Berapa Batas Aman Konsumsi Gula dan Garam?

Membatasi makanan manis, asin, maupun berlemak menjadi salah satu langkah sederhana untuk menjaga kesehatan.

Menurut pedoman dari World Health Organization (WHO), konsumsi gula tambahan sebaiknya dibatasi tidak lebih dari sekitar 10 persen dari total asupan energi harian, atau sekitar 50 gram (±4 sendok makan) per hari untuk orang dewasa.

Bahkan, WHO menyarankan pembatasan hingga sekitar 5 persen atau sekitar 25 gram per hari untuk manfaat kesehatan yang lebih optimal.

Sementara itu, asupan garam dianjurkan tidak lebih dari 5 gram per hari atau sekitar satu sendok teh.

Rekomendasi serupa juga dikenal dalam pedoman gizi di Indonesia melalui konsep G4G1L yang diperkenalkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yaitu gula maksimal 50 gram, garam 5 gram, dan lemak 67 gram per hari.

Dengan membatasi asupan gula, garam, dan lemak, masyarakat diharapkan dapat mengurangi berbagai faktor risiko penyakit serta menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Tak Semua Makanan Olahan Termasuk UPF

Meski kerap dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, tidak semua makanan yang melalui proses pengolahan otomatis termasuk dalam kategori ultra-processed food (UPF).

dr M Vardian Mahardika, M.Biomed, SpPD, AIFO-K, menekankan pentingnya memahami komponen yang terkandung dalam makanan sebelum menilai apakah makanan tersebut termasuk UPF atau tidak.

"Bukan semua makanan yang diproses banyak-banyak itu masuk ke ultra-processed food. Tapi memang ultra-processed food itu dihubungkan dengan peningkatan berat badan yang cukup signifikan dan bahkan berhubungan dengan penyakit sampai kanker," jelasnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, dr Dion Haryadi, PN1, CHC, AIFO-K, mengatakan konsumsi UPF tidak selalu harus dihindari sepenuhnya. Menurutnya, yang lebih penting adalah mengatur frekuensi konsumsi serta tetap mengutamakan makanan yang lebih alami.

"Kalau saya sih tetap makan. Maksudnya saya tetap konsumsi juga di rumah, di anak-anak juga. Cuma saya tidak setiap hari makan ultra-processed food. Karena saya tahu akan ada harganya ketika saya makan ultra-processed food," ujarnya.

Ia menambahkan, dirinya lebih memilih makanan yang minim proses atau whole foods sebagai pilihan sehari-hari karena komposisinya lebih jelas. Menurutnya, pendekatan yang lebih bijak adalah mengelola konsumsi makanan tersebut, bukan sekadar melabeli makanan tertentu sebagai "baik" atau "buruk".

"Bukan berarti kalau UPF jelek lalu kita sama sekali tidak boleh makan. Tapi bagaimana kita mengelolanya dan lebih bijak dalam memilih makanan," pungkasnya.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gaya Hidup dan Pola Makan Seperti Ini Tingkatkan Risiko Kanker Ginjal"