![]() |
| Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP |
Beberapa rumah sakit di Tehran, ibu kota Iran, dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel.
Rekaman yang disiarkan media pemerintah menunjukkan dampak signifikan di sekitar Gandhi Hospital di Tehran utara setelah sebuah proyektil menghantam area terdekat. Kepala Dewan Medis Iran mengatakan unit bayi tabung di rumah sakit tersebut hancur beserta peralatannya, sehingga staf harus memindahkan sel dan embrio.
Serangan itu disebut terjadi setelah militer Israel menyerang gedung yang menampung Channel 2 televisi pemerintah Iran dan antena komunikasi di dekatnya, yang sempat mengganggu siaran televisi selama beberapa menit.
Direktur Jenderal World Health Organization, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut laporan kerusakan rumah sakit tersebut sangat mengkhawatirkan dan badan PBB itu sedang berupaya memverifikasi insiden terkait.
"Laporan mengenai kerusakan Gandhi Hospital di Tehran akibat pemboman hari ini di ibu kota Iran sangat mengkhawatirkan," tulisnya di akun X, dikutip Selasa (3/3/2026).
"WHO sedang berupaya memverifikasi insiden tersebut. Namun hal ini menjadi pengingat bahwa segala upaya harus dilakukan untuk mencegah fasilitas kesehatan terseret dalam konflik yang sedang berlangsung," lanjutnya.
Serangan terpisah juga dilaporkan terjadi di dekat gedung utama Bulan Sabit Merah Iran yang berlokasi di sekitar Rumah Sakit Khatam al-Anbiya, serta berdampak pada Rumah Sakit Motahari dan Valiasr yang berada di area sama. Sejumlah pasien dilaporkan dipindahkan secara darurat.
Menurut otoritas Iran, Rumah Sakit Anak Aboozar di Ahvaz serta tiga pusat layanan medis darurat di Provinsi Azerbaijan Timur, Sistan-Baluchistan, dan Hamedan juga mengalami kerusakan.
Hingga Senin siang, Bulan Sabit Merah Iran menyebut sedikitnya 555 orang tewas setelah 131 wilayah di seluruh negeri diserang.
Sekolah dan fasilitas olahraga ikut terdampak
Di kawasan Narmak, Tehran timur, serangan udara merusak sebuah sekolah menengah, dengan setidaknya dua anak dilaporkan tewas.
Insiden korban terbesar terjadi di sebuah sekolah perempuan di kota Minab, Iran selatan. Setelah dua hari proses evakuasi puing, otoritas setempat menyatakan 165 orang tewas dan 95 lainnya luka-luka, sebagian besar anak-anak. Gubernur setempat merilis daftar tulisan tangan berisi 56 nama korban, tanpa rincian tambahan.
Serangan juga dilaporkan mengenai sebuah pusat olahraga di Lamerd, Provinsi Fars, yang menyebabkan sejumlah korban jiwa.
Federasi global guru, Education International, mengecam serangan terhadap sekolah tersebut dengan menyatakan anak-anak, guru, dan sekolah tidak boleh menjadi target militer, serta menyebut pembunuhan dan pelukaan siswa serta tenaga pendidik sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
