Hagia Sophia

05 March 2026

Untuk Dinginkan Kota, Banyak Negara Arab Impor Pohon Besar

Ilustrasi gurun di Arab Saudi. Foto: AFP/FRANCK FIFE

Di tengah laju ekspansi kota besar yang pesat, negara-negara gurun di Teluk mulai mengimpor jutaan pohon setiap tahun sebagai strategi iklim untuk mendinginkan wilayah yang menjadi terlalu panas akibat urbanisasi, terutama di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).

Hal ini terlihat jelas di tepi kota Riyadh dan kota-kota besar UEA seperti Dubai dan Abu Dhabi, dengan pemandangan truk-truk besar membawa pohon-pohon muda untuk dijadikan bagian dari 'kota hijau'. Di Riyadh, pemandangan yang mencolok bukan lagi pasir panas, tetapi barisan pepohonan muda yang ditanam di sepanjang ruas jalan baru.

Di Dubai, bibit pohon impor dari Afrika dan Eropa ditempatkan di bawah kain pelindung, siap menjadi bagian dari jalur hijau dan taman kota yang dibangun. Semua ini menunjukkan bagaimana negara-negara gurun berusaha mengatasi fenomena panas kota yang ekstrem setelah era pembangunan megah dengan gedung pencakar langit, jalan raya luas, dan perumahan baru.

Strategi ini bukan sekadar estetika atau simbol semata. Kota-kota besar yang tanpa pepohonan akan mengalami fenomena 'pulau panas perkotaan', yakni ketika permukaan kota bisa menjadi lebih panas 5-10 derajat Celcius dibandingkan area sekitarnya yang lebih hijau. Pohon-pohon yang ditanam di jalan dan taman dapat mengurangi suhu permukaan serta memberikan naungan yang signifikan bagi warga kota.

Upaya penghijauan ini juga menjadi bagian dari inisiatif iklim dan citra global. Arab Saudi misalnya, meluncurkan ambisi besar melalui Saudi Green Initiative, yang bertujuan menanam miliaran pohon di seluruh negeri dalam beberapa dekade mendatang, termasuk di proyek besar seperti King Salman Park yang direncanakan menjadi salah satu taman kota terbesar di dunia. Pohon-pohon ini bukan hanya memperbaiki kualitas udara, tetapi juga menjadi cara negara tersebut menggambarkan dirinya sebagai bagian dari solusi perubahan iklim global.

Di UEA, kegiatan serupa terlihat di nurseri besar dan tempat penampungan bibit, tempat bibit impor dari berbagai negara dipilih berdasarkan kemampuan mereka bertahan di bawah terik Matahari dan tanah yang keras. Seorang manajer lanskap di Dubai bahkan bercanda bahwa tugasnya kini lebih mirip seperti mengatur 'lalu lintas pohon', memberi tahu supir truk di mana harus menurunkan 'muatan hidup' tersebut.

Selain efek nyata dalam mendinginkan ruang kota, pohon-pohon ini juga berfungsi sebagai simbol komitmen terhadap isu iklim. Di UEA, momen ini sejalan dengan peran negara sebagai tuan rumah COP28, sementara di Arab Saudi, citra taman hijau dan lembah yang subur muncul di tengah proyek futuristik seperti NEOM dan The Line, memberikan kontras visual terhadap gambaran gurun yang biasanya identik dengan kawasan ini.

Menurut pakar iklim dan perencanaan kota, pendekatan ini sejatinya mencerminkan perubahan paradigma, dari pembangunan beton tanpa naungan menuju kota yang terencana dengan ruang hijau sebagai elemen penting untuk kenyamanan dan kesehatan warga. Pohon bukan lagi sekadar elemen lanskap, tetapi menjadi bagian integral dari ketahanan iklim kota masa depan.

























Artikel ini telah tayang di inet.detik.com dengan judul "Negara-negara Arab Impor Pohon Besar-besaran untuk Dinginkan Kota"