![]() |
| Foto: Getty Images/saengsuriya13 |
Penyakit katastropik masih menjadi 'biang kerok' utama membengkaknya pembiayaan layanan di BPJS Kesehatan. Tujuh kelompok penyakit berbiaya mahal tercatat menghabiskan sekitar 26,42 persen dari total beban pelayanan setiap tahunnya.
"Penyakit berbiaya mahal atau katastropik ada sekitar tujuh, sudah menghabiskan sekitar 26,42 persen per tahunnya tadi dari beban pelayanan pembiayaan BPJS Kesehatan," beber Direktur Perencanaan dan Pengembangan BPJS Kesehatan, Sutopo Patria Jati, dalam konferensi pers Rabu (4/3/2026).
Ia menegaskan, pengendalian penyakit-penyakit tersebut menjadi prioritas ke depan. "Kita akan coba prioritaskan dan kendalikan," kata Sutopo.
Namun, yang paling mencolok adalah perubahan peta penyakit dalam setahun terakhir. Jika pada 2024 kanker masih menjadi penyumbang biaya terbesar kedua setelah jantung, 2025 posisinya digeser oleh gagal ginjal.
Pada 2024, penyakit jantung menduduki peringkat pertama dengan 22,55 juta kasus dengan beban biaya mencapai Rp 19,25 triliun. Di bawahnya, kanker mencatat 4,24 juta kasus dengan pembiayaan Rp 6,48 triliun, disusul stroke 3,89 juta kasus yang menghabiskan Rp 5,81 triliun dan gagal ginjal 1,44 juta kasus yang menghabiskan pembiayaan Rp 2,76 triliun.
Setahun berselang, datanya berubah drastis.
Meski jantung masih menjadi penyedot anggaran terbesar dengan 29,73 juta kasus dan biaya Rp 17 triliun, posisi kedua kini ditempati gagal ginjal, dengan lonjakan kasus hingga 12,68 juta dan biaya membengkak menjadi Rp 13 triliun.
Kanker turun ke posisi ketiga dengan 7,19 juta kasus dan pembiayaan Rp 10,3 triliun, sementara stroke mencatat 9,53 juta kasus dengan biaya Rp 7,2 triliun.
Gagal Ginjal Melonjak 9 Kali Lipat
Lonjakan gagal ginjal menjadi sorotan utama. Dalam setahun, jumlah kasusnya melonjak hampir sembilan kali lipat, sementara biayanya meningkat lebih dari empat kali lipat. Angka ini menunjukkan beban terapi jangka panjang seperti hemodialisis yang harus dijalani pasien secara rutin.
Tren kasus penyakit jantung meningkat signifikan dari 22,55 juta menjadi 29,73 juta, tetapi pembiayaan justru turun dari Rp 19,25 triliun menjadi Rp 17 triliun. Hal ini bisa mengindikasikan adanya efisiensi layanan, pergeseran pola klaim, atau perubahan tata kelola pembiayaan.
Sebaliknya, kanker dan stroke sama-sama mengalami kenaikan kasus dan biaya. Namun kenaikannya tidak sedrastis apa yang terjadi pada laporan penyakit gagal ginjal.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Gagal Ginjal Salip Kanker, Ini Daftar Penyakit yang Bikin Tekor BPJS Kesehatan"
