Hagia Sophia

13 April 2026

Benarkah Tempe Layak Disebut sebagai Superfood untuk Otak?

Tempe, superfood yang humble banget. Foto: iStock

Tempe selama ini dikenal sebagai lauk sederhana yang akrab di meja makan masyarakat Indonesia. Namun di balik harganya yang terjangkau, tempe kini mulai dilirik sebagai superfood berkat kandungan gizinya yang kaya dan manfaat kesehatannya yang luas.

Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan, konsumsi tempe berkaitan dengan fungsi kognitif yang lebih baik, terutama pada lansia. Tak hanya itu, proses fermentasi pada tempe juga menghasilkan senyawa aktif yang diduga berperan dalam menjaga kesehatan otak dan berpotensi membantu menurunkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Lantas, benarkah tempe layak disebut sebagai superfood untuk otak? Apa kata riset ilmiah?

Riset pada Lansia: Konsumsi Tempe Berkaitan dengan Fungsi Kognitif Lebih Baik

Tempe yang selama ini dikenal sebagai makanan sederhana ternyata memiliki kaitan dengan kesehatan otak, terutama pada lansia.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi tempe berhubungan dengan fungsi kognitif yang lebih baik, khususnya pada aspek memori. Studi oleh Elizabeth Hogervorst yang dipublikasikan dalam jurnal Dementia and Geriatric Cognitive Disorders menemukan bahwa lansia yang lebih sering mengonsumsi tempe memiliki performa memori yang lebih baik dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

Temuan ini diperkuat oleh studi intervensi yang dimuat di Frontiers in Nutrition, yang melaporkan adanya peningkatan skor kognitif sekitar 1-2 poin setelah konsumsi tempe dalam periode tertentu. Peningkatan ini dinilai signifikan dan terutama terlihat pada kemampuan memori (recall).

Sebagai gambaran, fungsi kognitif pada lansia umumnya memang menurun secara bertahap. Studi longitudinal dalam Journal of the American Geriatrics Society melaporkan bahwa skor kognitif seperti MMSE dapat menurun sekitar 0,1-0,3 poin per tahun pada lansia sehat, dan hingga 1-2 poin per tahun pada kelompok dengan gangguan kognitif ringan.

Dalam konteks tersebut, temuan peningkatan skor kognitif pada konsumsi tempe menjadi menarik karena menunjukkan adanya perbaikan fungsi memori dalam periode intervensi. Meski demikian, hasil ini masih terbatas pada jangka pendek dan belum dapat disimpulkan sebagai efek jangka panjang, termasuk dalam memperlambat penurunan kognitif seiring bertambahnya usia.

Kandungan Unik Tempe: Dari Isoflavon hingga Efek Fermentasi

Di balik temuan manfaat tempe terhadap fungsi kognitif, para peneliti melihat peran penting dari kandungan gizinya, terutama yang terbentuk selama proses fermentasi.

Dikutip dari USDA FoodData Central, dalam 100 gram tempe, terkandung sekitar:
  • Protein: ±18-20 gram
  • Lemak: ±10-11 gram
  • Karbohidrat: ±7-9 gram
  • Kalori: ±190 kkal
  • Folat (vitamin B9): ±24 mcg
Selain itu, tempe juga diketahui mengandung vitamin B12 dalam jumlah kecil yang terbentuk selama proses fermentasi, yaitu sekitar 0,06-0,12 mikrogram per 100 gram, meski kadarnya dapat bervariasi. Temuan ini dilaporkan dalam publikasi di jurnal Food Chemistry. Vitamin B12 berperan penting dalam fungsi saraf dan pembentukan neurotransmiter, serta diketahui berkaitan dengan kesehatan kognitif pada lansia.

Tempe juga mengandung isoflavon sekitar 30-60 mg per 100 gram, yaitu senyawa bioaktif dari kedelai yang memiliki sifat antioksidan. Kandungan ini dilaporkan dalam berbagai kajian, termasuk yang dipublikasikan dalam jurnal Comprehensive Reviews in Food Science and Food Safety dan Journal of Bioscience and Bioengineering, meski jumlahnya dapat bervariasi tergantung proses fermentasi. Isoflavon juga bersifat mirip hormon estrogen dan dalam jurnal Nutritional Neuroscience disebut berpotensi membantu melindungi sel saraf serta mendukung fungsi memori.

Selain kandungan tersebut, proses fermentasi turut memberikan keunggulan tersendiri dibanding kedelai biasa. Nutrisi menjadi lebih mudah diserap tubuh, dan terbentuk senyawa bioaktif baru. Tempe juga mengandung mikroorganisme yang berpotensi mendukung kesehatan usus, yang terhubung dengan otak melalui gut-brain axis. Studi dalam Frontiers in Aging Neuroscience menunjukkan bahwa keseimbangan mikrobiota usus dapat memengaruhi fungsi kognitif melalui berbagai jalur biologis.

Meski demikian, para ahli menekankan bahwa manfaat ini tidak berdiri sendiri. Tempe tetap perlu dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan sehat secara keseluruhan untuk memberikan dampak optimal bagi kesehatan otak.

Potensi Terkait Alzheimer, Didukung Sejumlah Studi Awal

Selain dikaitkan dengan peningkatan fungsi kognitif, tempe juga mulai diteliti dalam kaitannya dengan penyakit Alzheimer, terutama melalui mekanisme biologis di tingkat sel.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Journal of Ethnic Foods menunjukkan bahwa ekstrak tempe mampu menurunkan ekspresi sejumlah gen yang terkait dengan Alzheimer, seperti PSEN1, Gsk3b, cdk5, dan TNF. Gen-gen ini diketahui berperan dalam pembentukan plak beta-amyloid, peradangan otak, serta kerusakan sel saraf.

Selain itu, tempe juga menunjukkan aktivitas anti-asetilkolinesterase, yaitu mekanisme yang membantu menjaga kadar neurotransmiter asetilkolin yang penting untuk memori. Mekanisme ini serupa dengan cara kerja beberapa obat yang digunakan dalam terapi Alzheimer.

Studi yang sama juga menunjukkan bahwa tempe memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi, yang dapat membantu menekan stres oksidatif dan peradangan, dua faktor yang berkontribusi dalam perkembangan penyakit neurodegeneratif.

Meski hasil ini terlihat menjanjikan, perlu dicatat bahwa sebagian besar penelitian masih dilakukan pada tingkat laboratorium (sel), sehingga efeknya pada manusia masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Karena itu, tempe lebih tepat dipandang sebagai bagian dari pola makan sehat yang berpotensi mendukung kesehatan otak, bukan sebagai cara pasti untuk mencegah Alzheimer.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Riset Ungkap Manfaat Tempe bagi Otak, 'Superfood' Penangkal Alzheimer?"