![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/gorodenkoff |
Kasus kanker pada anak muda di Singapura menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Terjadi lonjakan kasus yang signifikan dalam dua dekade terakhir, memicu kekhawatiran soal faktor pemicu yang belum sepenuhnya dipahami.
Laporan terbaru Registri Kanker Singapura yang dirilis Januari 2026 mencatat, terdapat 4.995 kasus kanker pada kelompok usia di bawah 40 tahun sepanjang 2019-2023. Angka ini meningkat 34 persen dibanding periode 2003-2007 yang mencatat 3.729 kasus.
Tren ini sejalan dengan fenomena global. Studi Global Burden of Disease menunjukkan insiden kanker usia dini meningkat hampir 80 persen di seluruh dunia antara 1990 hingga 2019.
Menurut ahli onkologi radiasi Francis Chin, dokter kini semakin sering menemukan kanker pada pasien muda yang sebelumnya identik dengan usia lebih tua. Jenis kanker tersebut antara lain kanker kolorektal, kanker payudara, hingga kanker darah seperti leukemia.
Apa Penyebabnya?
Meski belum ada jawaban pasti, sejumlah faktor diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kanker pada anak muda. Dikutip dari Channel News Asia, gaya hidup kurang gerak atau sedentari menjadi salah satu faktor yang disorot.
Selain itu, paparan lingkungan seperti zat karsinogen juga diduga berperan. Namun, hingga kini penyebab lonjakan kasus ini masih terus diteliti.
Jumlah pasien muda pun terus meningkat, sementara sistem pendukung belum sepenuhnya siap menghadapinya.
Tantangan yang Tak Terlihat Bagi Pasien Muda
Dari sisi medis, pengobatan kanker di Singapura tergolong maju dengan tingkat kelangsungan hidup yang semakin baik. Tetapi, tantangan terbesar justru muncul di luar aspek klinis.
Dukungan psikososial selama ini lebih banyak difokuskan pada anak-anak dan lansia. Akibatnya, pasien usia muda kerap merasa 'tidak punya tempat'.
Dalam kelompok dukungan yang didominasi pasien lebih tua, topik pembicaraan sering kali tidak relevan, seperti pensiun atau cucu, bukan soal karier atau rencana keluarga.
Kondisi ini membuat banyak pasien muda merasa terisolasi. Saat teman sebaya melangkah maju dalam hidup, mereka justru harus berhenti karena pengobatan intensif.
Bahkan setelah pengobatan selesai, tantangan belum berakhir. Kembali bekerja bisa memunculkan kekhawatiran baru, mulai dari risiko kekambuhan hingga perubahan cara pandang rekan kerja.
Efek samping seperti kelelahan, gangguan konsentrasi, hingga penurunan kepercayaan diri juga menjadi beban tersendiri.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Kemungkinan Pemicu Kasus Kanker Anak Muda di Singapura yang Naik 34 Persen"
