Hagia Sophia

09 July 2026

Tidak Semua Air Hujan Aman untuk Dikonsumsi

Air hujan. Foto: Andhika Prasetia

Air merupakan komponen penting bagi hampir seluruh makhluk hidup. Bahkan, sekitar 60 persen tubuh manusia terdiri dari air.

Dikutip Healthline, setiap hari tubuh kehilangan cairan melalui berbagai proses alami, seperti berkeringat dan buang air. Karena itu, mencukupi kebutuhan air minum penting untuk menggantikan cairan yang hilang agar tubuh tetap sehat dan berfungsi secara optimal.

Sebagian besar orang memperoleh air minum dari keran, sumur, mata air, sungai, maupun air kemasan. Namun, sebagian orang mungkin bertanya-tanya, apakah air hujan aman diminum secara langsung?

Amankah minum air hujan?

ahli gizi Ansley Hill, RD menjelaskan, pada dasarnya, tidak ada yang membuat air hujan secara alami berbahaya untuk diminum, selama air tersebut benar-benar bersih. Bahkan, di sejumlah wilayah di dunia, air hujan menjadi sumber utama air minum masyarakat. Meski demikian, tidak semua air hujan aman dikonsumsi.

Berbagai faktor fisik dan lingkungan dapat dengan cepat mengubah air hujan yang semula bersih menjadi berpotensi membahayakan kesehatan. Air hujan bisa mengandung parasit, bakteri berbahaya, maupun virus, dan dalam sejarah pernah dikaitkan dengan berbagai kejadian wabah penyakit.

Selain itu, air hujan yang turun di daerah dengan tingkat polusi tinggi atau yang terkontaminasi oleh kotoran hewan, logam berat, maupun zat pencemar lainnya mungkin tidak layak dikonsumsi manusia.

Karena itu, tidak disarankan menampung dan meminum air hujan secara langsung, kecuali benar-benar yakin bahwa air tersebut bersih, bebas dari kontaminan, dan aman untuk diminum.

Senada, Centers for Disease Control and Prevention AS (CDC) mengatakan penggunaan air hujan harus disesuaikan dengan kualitasnya. Air hujan yang akan dikonsumsi sebagai air minum harus memiliki kualitas yang lebih bersih dan lebih aman dibandingkan air hujan yang hanya digunakan untuk menyiram tanaman atau bunga.

Ancaman mikroplastik di air hujan

Sebagai contoh, belum lama ini hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi nasional (BRIN) menemukan air hujan DKI Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan. Temuan ini menjadi peringatan bahwa polusi plastik kini tidak hanya mencemari tanah dan laut, tetapi juga atmosfer.

Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova menjelaskan, penelitian yang dilakukan sejak 2022 menunjukkan adanya mikroplastik dalam setiap sampel air hujan di ibu kota. Partikel-partikel plastik mikroskopis tersebut terbentuk dari degradasi limbah plastik yang melayang di udara akibat aktivitas manusia.

"Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka," jelas Reza saat diwawancarai di Jakarta, Kamis (17/10/2025).

1. Bentuk mikroplastik di air hujan
Reza menjelaskan, mikroplastik yang ditemukan umumnya berbentuk serat sintetis dan fragmen kecil plastik, terutama polimer seperti poliester, nilon, polietilena, polipropilena, hingga polibutadiena dari ban kendaraan. Rata-rata, peneliti menemukan sekitar 15 partikel mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta.

Menurut Reza, fenomena ini terjadi karena siklus plastik kini telah menjangkau atmosfer. Mikroplastik dapat terangkat ke udara melalui debu jalanan, asap pembakaran, dan aktivitas industri, kemudian terbawa angin dan turun kembali bersama hujan. Proses ini dikenal dengan istilah atmospheric microplastic deposition.

Temuan ini menimbulkan kekhawatiran karena partikel mikroplastik berukuran sangat kecil, bahkan lebih halus dari debu biasa, sehingga dapat terhirup manusia atau masuk ke tubuh melalui air dan makanan. Plastik juga mengandung bahan aditif beracun seperti ftalat, bisfenol A (BPA), dan logam berat yang dapat lepas ke lingkungan ketika terurai menjadi partikel mikro atau nano. Di udara, partikel ini juga bisa mengikat polutan lain seperti hidrokarbon aromatik dari asap kendaraan.

"Yang beracun bukan air hujannya, tetapi partikel mikroplastik di dalamnya karena mengandung bahan kimia aditif atau menyerap polutan lain," tegas Reza.

Bagaimana kuman dan bahan kimia dapat mencemar air hujan?

Air hujan dapat terkontaminasi oleh kuman dan bahan kimia sejak masih berada di atmosfer maupun saat mengalir ke sistem penampungan. Debu, asap, dan partikel lain di udara dapat mencemari air hujan bahkan sebelum air tersebut jatuh ke permukaan atap.

Setelah air hujan turun, berbagai bahan kimia seperti asbes, timbal, dan tembaga juga dapat bercampur ke dalam air. Zat-zat tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain:
  • bahan atap;
  • talang air;
  • pipa;
  • wadah penyimpanan air; serta
  • permukaan lain yang bersentuhan dengan air hujan.
Selain itu, kotoran dan kuman yang menempel di atap juga dapat terbawa masuk ke dalam air hujan yang ditampung. Sebagai contoh, kotoran burung yang berada di atap dapat terbawa aliran air hujan hingga masuk ke dalam tong atau tangki penampungan. Kondisi ini dapat terjadi kapan saja, tetapi risikonya lebih tinggi ketika hujan turun setelah beberapa hari cuaca kering.

Apakah minum air hujan memiliki manfaat bagi kesehatan?

Di internet banyak beredar klaim bahwa air hujan lebih sehat dibandingkan sumber air minum lainnya. Namun, sebagian besar klaim tersebut belum didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.

Minum air hujan yang bersih memang dapat membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Akan tetapi, hingga saat ini belum ada bukti bahwa air hujan memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar dibandingkan air bersih dari sumber lain.

1. Anggapan yang beredar terkait manfaat air hujan
Salah satu anggapan yang cukup populer menyebutkan bahwa air hujan lebih bersifat basa (alkali) dibandingkan air keran sehingga dapat meningkatkan pH darah menjadi lebih basa. Namun, anggapan tersebut tidak sesuai dengan bukti ilmiah.

Air yang diminum maupun makanan yang dikonsumsi tidak akan mengubah pH darah secara signifikan. Tubuh memiliki sistem yang sangat efektif untuk menjaga pH darah tetap berada di kisaran 7,4, karena banyak fungsi vital tubuh bergantung pada kestabilan pH tersebut. Perubahan pH darah yang bermakna justru dapat menjadi tanda adanya penyakit serius.

Faktanya, air hujan bukan bersifat basa, melainkan cenderung sedikit asam dengan pH sekitar 5,0-5,5. Tingkat keasamannya bahkan bisa lebih tinggi apabila air hujan berasal dari daerah yang memiliki polusi udara tinggi.

2. Air hujan diklaim dapat membantu memperbaiki pencernaan
Selain itu, klaim bahwa air hujan dapat memperbaiki pencernaan atau membantu tubuh membuang zat sisa dengan lebih efektif juga belum memiliki bukti ilmiah khusus. Manfaat tersebut sebenarnya merupakan manfaat minum air bersih secara umum, bukan manfaat yang hanya dimiliki oleh air hujan.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pakar Kesehatan Jawab Risiko Minum Air Hujan Langsung, Aman atau Bahaya?"