Hagia Sophia

08 July 2026

Waspadai Gejala Awal Penyakit Liver yang Sering Dikira Masuk Angin

Ilustrasi organ hati atau liver (Foto: Getty Images/iStockphoto/Tharakorn)

Liver atau organ hati memiliki peran penting bagi tubuh, mulai dari menyaring racun dalam darah, mengolah nutrisi, hingga membantu melawan infeksi. Ketika organ ini mengalami kerusakan, berbagai fungsi tersebut tidak dapat berjalan secara optimal.

Penyakit liver merupakan istilah umum untuk berbagai kondisi yang menyebabkan kerusakan pada hati dan mengganggu fungsinya. Menurut dokter spesialis gastroenterologi di Hackensack Meridian Health Center, dr Douglas Weine, penyakit liver mencakup berbagai kondisi yang memengaruhi fungsi normal hati, mulai dari penyakit hati berlemak nonalkohol (non-alcoholic fatty liver disease/NAFLD), hepatitis, hingga kanker hati.

Tingkat keparahannya pun beragam, mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Ada penyakit liver yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun, tetapi ada pula yang muncul dengan lebih cepat.

Sebagian jenis penyakit liver dapat diobati, bahkan dipulihkan apabila terdeteksi sejak dini. Namun, ada juga yang bersifat kronis sehingga memerlukan penanganan dan pemantauan jangka panjang. Pengobatan akan disesuaikan dengan penyebab serta tingkat kerusakan hati yang dialami pasien.

Penyebab penyakit liver

Dikutip dari Penn Medicine, penyakit liver dapat terjadi karena berbagai faktor. Sebagian penyebab bersifat sementara dan dapat dipulihkan, sementara lainnya dapat menimbulkan kerusakan permanen jika tidak ditangani.

Salah satu penyebab yang paling umum adalah konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang. Kebiasaan ini dapat merusak sel-sel hati dan memicu penyakit hati akibat alkohol (alcoholic liver disease).

Sementara itu, pada orang yang jarang atau tidak mengonsumsi alkohol, penyakit hati berlemak nonalkohol (nonalcoholic fatty liver disease/NAFLD) dapat terjadi akibat penumpukan lemak berlebih di hati. Kondisi ini sering dikaitkan dengan obesitas, diabetes, atau sindrom metabolik.

Penyakit liver juga dapat dipicu oleh gangguan autoimun maupun kelainan genetik. Misalnya, primary biliary cirrhosis terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang saluran empedu kecil di dalam hati. Selain itu, kelainan bawaan seperti penyakit Wilson atau defisiensi alpha-1 antitripsin dapat menyebabkan penumpukan zat beracun yang merusak sel-sel hati.

Penyebab lainnya meliputi paparan obat-obatan atau zat beracun, misalnya mengonsumsi acetaminophen (parasetamol) dalam dosis berlebihan atau terpapar suplemen herbal tertentu maupun bahan kimia industri yang dapat merusak hati.

Apabila berlangsung dalam jangka panjang, berbagai penyebab tersebut dapat berkembang menjadi sirosis, yaitu kondisi ketika jaringan hati mengalami kerusakan dan digantikan oleh jaringan parut. Dalam beberapa kasus, perubahan jaringan dan sel hati akibat sirosis juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker hati.

Gejala awal penyakit liver

Penyakit liver sering kali berkembang secara perlahan sehingga gejalanya dapat berbeda-beda, tergantung tingkat keparahannya. Pada tahap awal, tanda-tandanya cenderung ringan dan tidak spesifik.

Bahkan, beberapa gejalanya sekilas dapat menyerupai keluhan sehari-hari seperti masuk angin sehingga kerap diabaikan. Dikutip dari Gastroenterology Consultants of San Antonio, gejala yang dapat muncul antara lain:

1. Mudah lelah
Beberapa orang dengan penyakit hati mengalami kelelahan atau kantuk yang ekstrem, bahkan setelah tidur yang cukup.

2. Mual
Mual dan muntah yang sering terjadi dapat menjadi salah satu tanda awal penyakit hati. Biasanya, hal ini merupakan respons terhadap penumpukan zat beracun yang tidak lagi dapat dibersihkan oleh hati.

3. Nyeri ringan pada perut
Penyakit hati dapat menyebabkan pembesaran hati (hepatomegali). Hal ini juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah di perut. Akibatnya, timbul rasa sakit, kembung, dan ketidaknyamanan, terutama di bagian perut kanan atas.

4. Menggigil
Ketika hati rusak akibat penyakit hati, racun menumpuk di dalam tubuh. Hal ini dapat memicu respons imun, yang mengakibatkan demam dan menggigil.

5. Kehilangan nafsu makan
kehilangan nafsu makan yang dapat menyebabkan penurunan berat badan

Seiring perkembangan penyakit, gejala akan menjadi semakin jelas dan lebih mudah dikenali. Berikut beberapa tanda penyakit liver yang perlu diwaspadai.

1. Kulit dan bagian putih mata menguning
Menurut dokter spesialis hepatologi sekaligus asisten profesor di Yale School of Medicine, dr Bubu Banini, salah satu tanda penyakit liver yang sering muncul adalah kulit atau bagian putih mata menguning (jaundice atau penyakit kuning).

Kondisi ini terjadi akibat penumpukan bilirubin, yaitu pigmen yang terbentuk dari proses alami pemecahan sel darah merah. Normalnya, bilirubin diproses oleh hati dan dikeluarkan dari tubuh. Namun, ketika fungsi hati terganggu, bilirubin dapat menumpuk sehingga menyebabkan kulit dan mata tampak menguning.

Meski kadar bilirubin yang tinggi tidak selalu berbahaya pada orang dewasa, kondisi yang mendasarinya bisa menjadi masalah serius. Karena itu, seseorang dianjurkan segera memeriksakan diri ke dokter apabila mengalami perubahan warna pada kulit atau bagian putih mata.

2. Urine berwarna gelap meski cukup minum
Urine berwarna gelap sering kali dikaitkan dengan kurang minum atau dehidrasi. Namun, menurut dr Douglas Weine, kondisi ini juga dapat menjadi tanda adanya gangguan pada hati.

Penumpukan bilirubin dapat membuat warna urine berubah menjadi oranye tua, cokelat, atau kuning keemasan (amber). Jika seseorang sudah mencukupi kebutuhan cairan tetapi warna urine tetap gelap, sebaiknya jangan diabaikan karena bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan lain, termasuk penyakit liver.

3. Kebingungan atau perubahan kondisi mental
Lupa sesekali merupakan hal yang wajar. Namun, perubahan kondisi mental yang terjadi secara tiba-tiba tidak boleh dianggap sepele karena dapat menjadi salah satu tanda gangguan fungsi hati.

"Orang yang sebelumnya sehat dapat mengalami gagal hati akut yang ditandai dengan perubahan kondisi mental atau kepribadian, seperti disorientasi, kebingungan, atau mudah mengantuk," ujar dr Bubu Banini.

Apabila mengalami gejala tersebut, segera cari pertolongan medis untuk mengetahui penyebabnya.

4. Pembengkakan pada tungkai, pergelangan kaki, atau perut
Pembengkakan pada kaki atau perut mungkin tidak langsung dikaitkan dengan penyakit liver. Namun, menurut dr Douglas Weine, kondisi ini dapat menjadi tanda kerusakan hati, terutama pada pengidap sirosis.

Sirosis menyebabkan aliran darah melalui hati menjadi terhambat sehingga meningkatkan tekanan pada vena porta, yaitu pembuluh darah yang membawa darah ke hati.

Akibatnya, cairan dapat menumpuk di tungkai (edema) maupun di rongga perut (asites). Penumpukan cairan juga dapat terjadi karena hati tidak mampu memproduksi protein penting, seperti albumin, dalam jumlah yang cukup.

5. Mudah memar dan mengalami perdarahan
Orang dengan kerusakan hati juga cenderung lebih mudah memar atau mengalami perdarahan, bahkan akibat cedera ringan.

Hal ini terjadi karena hati berperan menghasilkan berbagai protein yang dibutuhkan dalam proses pembekuan darah. Ketika fungsi hati menurun, produksi protein tersebut ikut terganggu sehingga darah lebih sulit membeku dan risiko perdarahan meningkat.

Tahapan penyakit liver

Dikutip dari Health University of Utah, penyakit liver umumnya berkembang melalui empat tahap, yaitu:

1. Peradangan (inflamasi)
Pada tahap awal, hati mengalami pembengkakan atau peradangan akibat cedera atau kerusakan. Pada fase ini, sebagian besar pengidap belum merasakan gejala apa pun.

2. Fibrosis
Jika penyebab peradangan tidak ditangani, hati akan mulai mengalami fibrosis, yaitu terbentuknya jaringan parut. Kebanyakan pengidap masih mengalami sedikit atau bahkan tidak ada gejala. Namun, apabila fibrosis terdeteksi sejak dini oleh dokter spesialis hepatologi, kondisi ini umumnya masih dapat ditangani.

3. Sirosis
Tanpa pengobatan, fibrosis dapat berkembang menjadi sirosis, yaitu kerusakan hati yang ditandai dengan terbentuknya jaringan parut yang lebih luas dan berat. Perjalanan dari fibrosis ringan hingga sirosis dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Pada tahap ini, sebagian pengidap baru mulai merasakan gejala ketika kerusakan hati sudah cukup parah.

4. Gagal hati
Jika terus berlanjut, fibrosis atau sirosis dapat menyebabkan gagal hati, yaitu kondisi ketika hati tidak lagi mampu menjalankan fungsinya dengan baik. Pada tahap ini, transplantasi hati mungkin menjadi satu-satunya pilihan pengobatan yang tersedia.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Sering Dikira Masuk Angin Biasa, Waspadai 5 Gejala Awal Penyakit Liver Ini"