Hagia Sophia

16 March 2026

Fakta Baru di Balik Angka Kelahiran Singapura Makin Anjlok

Foto: Getty Images/iStockphoto/Avril Morgan

Angka kelahiran di Singapura terus menurun meski pemerintah sudah mendorong berbagai kebijakan agar pasangan menikah dan segera memiliki anak. Namun, di balik diskusi tersebut, ada persoalan yang sering luput dibahas yakni infertilitas.

Banyak pasangan tanpa anak atau dikenal sebagai DINK 'dual income, no kids' kerap dianggap belum ingin memiliki anak. Padahal, sebagian dari mereka sebenarnya sedang berjuang menghadapi masalah kesuburan.

Data menunjukkan sekitar 15 persen pasangan di Singapura mengalami infertilitas. Penyebabnya terbagi hampir seimbang antara faktor pria dan wanita. Risiko ini juga meningkat karena banyak pasangan baru memiliki anak di usia lebih tua. Pada 2024, usia median atau rata-rata ayah pertama di Singapura berada di 33,6 tahun, sementara ibu 31,9 tahun.

Secara biologis, peluang pasangan untuk hamil dalam satu bulan hanya sekitar 20 hingga 25 persen, bahkan pada orang dewasa yang sehat. Jika tidak berhasil hamil setelah satu tahun mencoba, pasangan tersebut umumnya dikategorikan mengalami infertilitas.

Bagi pasangan yang mengalaminya, diskusi publik tentang rendahnya angka kelahiran sering terasa menyakitkan. Pertanyaan sederhana seperti kapan punya anak juga bisa menjadi tekanan emosional, terutama ketika mereka sedang menjalani pemeriksaan atau terapi kesuburan.

Pertanyaan seperti 'kapan punya anak?' mungkin terdengar sebagai obrolan ringan. Namun, bagi sebagian orang, itu bisa menempatkan mereka dalam situasi tidak nyaman. Ada yang memang tidak ingin memiliki anak. Ada yang sedang menjalani perawatan kesuburan yang melelahkan secara fisik dan mental.

Adapula yang sedang berduka karena kehilangan kehamilan, atau sedang mencoba menerima kenyataan bahwa mereka mungkin tidak akan menjadi orang tua. Hal ini diakui salah satu pasangan DINK di Singapura.

"Sering kali kami hanya tersenyum dan memberikan jawaban setengah benar," jelas mereka yang tidak mau disebutkan namanya.

Pemerintah Singapura mulai menaruh perhatian pada isu ini. Dalam Committee of Supply 2026, Menteri di Kantor Perdana Menteri Indranee Rajah menyatakan pemerintah akan meningkatkan kesadaran soal kesehatan reproduksi, meninjau bantuan bagi pasangan yang menjalani perawatan kesuburan, serta memperkuat dukungan di tempat kerja.

Para pasangan yang menghadapi infertilitas berharap masyarakat dapat lebih memahami kondisi tersebut. Di balik statistik penurunan angka kelahiran, ada banyak pasangan yang sebenarnya sangat ingin memiliki anak, tetapi harus berjuang menghadapi tantangan biologis dan emosional.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Fenomena DINK, Fakta Baru di Balik Angka Kelahiran Singapura Makin Anjlok"