Hagia Sophia

16 March 2026

Prediksi Kemarau 2026 Menurut BMKG

Foto: Engin Akyurt/Pexels

Berakhirnya fenomena La Nina dan potensi kemunculan El Nino pada 2026 diperkirakan memicu musim kemarau Indonesia lebih cepat dan lebih kering. Kondisi ini juga berpotensi memperburuk kualitas udara, terutama di kota besar seperti DKI Jakarta.

Piotr Jakubowski, Co Founder salah satu pemantau aplikasi kualitas udara menyebut tingkat polusi saat musim kemarau dapat melonjak jauh di atas standar aman World Health Organization (WHO). Berkaca pada tren yang diamati di musim kemarau beberapa tahun terakhir.

Sebagai catatan, pedoman WHO menyatakan konsentrasi aman partikel halus PM2.5 seharusnya berada di bawah 15 mikrogram per meter kubik.

"Rata-rata Jakarta tahun lalu sudah di atas 40. Di musim kemarau bisa naik 80, 100, kadang-kadang 200," kata Piotr kepada detikcom Jumat (13/3/2026).

Ia menjelaskan lonjakan tersebut biasanya terjadi pada periode tertentu, terutama ketika cuaca kering membuat polutan lebih mudah terperangkap di udara.

"Secara historis kami punya data lima tahun. Biasanya sekitar April hingga Mei musim kemarau mulai, lalu berlangsung sampai sekitar Oktober. Kecuali 2024 karena saat itu ada El Nino sehingga kemaraunya sampai Desember," ujarnya.

Dalam beberapa kondisi ekstrem, kata Piotr, konsentrasi polusi bahkan bisa melampaui standar WHO hingga puluhan kali lipat dalam waktu singkat.

"Itu bisa sampai 10, 20, 30, bahkan 40 kali lipat di atas standar, tapi biasanya hanya beberapa jam atau beberapa hari," jelasnya.

Meski begitu, ia menekankan yang lebih penting adalah melihat paparan polusi udara secara rata-rata dalam jangka panjang. Tujuannya agar paparan masyarakat bisa ditekan sedekat mungkin dengan pedoman WHO.

Piotr juga menilai ketersediaan data kualitas udara yang dipantau sepanjang tahun menjadi kunci untuk memperbaiki kondisi lingkungan.

"Dengan adanya monitoring kualitas udara 365 hari per tahun, kita tahu kapan kualitasnya bagus atau buruk. Data itu penting untuk memperbaiki kualitas udara secara sistematis," katanya.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat terhadap kualitas udara juga makin meningkat. Publik kini makin menyadari bahwa kualitas udara berkaitan langsung dengan berbagai risiko penyakit, terutama di beberapa kota besar di Indonesia yang menghadapi tantangan polusi udara.

"Udara bersih bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan investasi strategis. Ketika kualitas udara terjaga, produktivitas meningkat, risiko kesehatan menurun, dan citra perusahaan ikut terangkat," ucap CEO ecoCare Group Company Wincent Yunanda.

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, sejumlah wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau sejak April 2026. Daerah yang lebih dulu mengalami kemarau antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta sebagian wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Awal musim kemarau juga diprediksi datang lebih cepat di banyak wilayah lain, meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua.

Sementara itu, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, seluruh Bali dan Nusa Tenggara, serta sebagian wilayah Maluku dan Papua.

























Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal, Polusi Bisa 40 Kali Lipat di Atas Standar WHO"