![]() |
| Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/clubfoto |
Puasa Ramadan yang dijalankan selama sebulan penuh ternyata menyimpan rahasia biologis yang luar biasa bagi tubuh. Tak hanya soal dimensi spiritual, durasi puasa yang berkisar antara 13 hingga 14 jam di Indonesia rupanya menjadi kunci aktifnya "mesin pembersih" alami di dalam sel manusia yang disebut sebagai Autofagi.
Dosen Gizi Kesehatan FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, SGz., MPH, menjelaskan bahwa proses autofagi adalah mekanisme tubuh untuk mendaur ulang sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan komponen baru yang lebih sehat.
"Durasi puasa dapat memicu autofagi di dalam tubuh manusia. Sebab, autofagi membutuhkan sekitar 12-16 jam, sementara puasa Ramadan bisa 13-14 jam, bahkan di beberapa negara bisa lebih panjang," jelasnya dikutip dari laman UGM, Jumat (13/4/2026).
Ramadan vs Intermittent Fasting (IF)
Meski terlihat mirip dengan intermittent fasting (IF) yang populer di dunia kebugaran, Dr Mirza menyebut ada perbedaan mendasar pada hasil penurunan berat badannya. Pada IF, berat badan turun murni karena pembakaran sisa lemak tubuh.
Sedangkan pada puasa Ramadan, penurunan berat badan terjadi akibat kombinasi pemanfaatan lemak tubuh dan berkurangnya asupan cairan selama siang hari. Oleh karena itu, penting untuk menjaga hidrasi yang baik saat waktu berbuka tiba.
Selain fisik, puasa juga berdampak pada stabilitas emosi. Selama puasa, "banjir" glukosa di dalam tubuh lebih terkendali. Aliran glukosa yang stabil membuat otak bekerja lebih tenang.
"Dengan puasa, banjir kanal glukosanya lebih terkendali, jadi kita bisa lebih tenang dan otak kekurangan glukosa jadi lebih sabar, tidak tersulut emosi," ungkap Dr Mirza.
Jangan Berlebihan
Meski puasa adalah "riset metabolik" yang baik untuk membuang zat yang tidak dibutuhkan, Dr Mirza mengingatkan agar puasa tidak dilakukan secara ekstrem tanpa jeda dalam jangka panjang. Puasa yang berkepanjangan tanpa pertimbangan medis justru berisiko memicu kenaikan asam lambung, gejala GERD, hingga gangguan hormonal.
"Puasa berkepanjangan tidak disarankan. Semisal kita berpuasa terus-terusan, kenaikan asam lambung hingga GERD, hingga perubahan hormonal," ujarnya.
Kuncinya adalah keseimbangan nutrisi. Puasa sebenarnya tidak mengurangi kebutuhan gizi harian, hanya menggeser jam makannya saja. Pastikan asupan saat sahur dan berbuka tetap mengandung zat gizi yang lengkap agar manfaat kesehatan yang didapat bisa maksimal.
Artikel ini telah tayang di health.detik.com dengan judul "Pakar UGM: Puasa 14 Jam Picu Autofagi, Cara Tubuh Perbaiki Sel yang Rusak"
